Jumat, 21 September 2012

NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG


NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG

Setiap masyarakat tentunya memiliki agama sebagai kepercayaan yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut memelihara dan melestarikan budaya yang ada.Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia
menurut Alisyahbana; merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.( 1 Bustanudin Agus, Islam dan Pembangunan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15)
Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya. (2 Atang Abdullah Hakim Dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006),
cet. kedelapan, hal. 28)Tradisi sebagai salah satu bagian dari kebudayaan menurut pakar hukum F. Geny adalah fenomena yang selalu merealisasikan kebutuhan masyarakat. Sebab yang pasti dalam hubungan antar individu, ketetapan kebutuhan hak mereka, dan kebutuhan persamaan yang merupakan asas setiap keadilan menetapkan bahwa kaidah yang dikuatkan adat yang baku itu memiliki balasan materi, yang diharuskan hukum. Kaidah ini sesuai dengan naluri manusia yang tersembunyi, yang tercermin dalam penghormatan tradisi yang baku dan perasaan individu dengan rasa takut ketika melanggar apa yang telah dilakukan pendahulu mereka(3 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), cet. kedelapan, hal. 190. )

Menurut Hardjono dalam I Nyoman Beratha memberikan ulasan singkat bahwa tradisi adalah suatu pengetahuan atau ajaran-ajaran yang diturunkan dari masa ke masa. Ajaran dan pengetahuan tersebut memuat tentang prinsip universal yang digambarkan menjadi kenyataan dan kebenaran yang relatif. Dengan demikian segala kenyataan dan kebenaran dalam alam yang lebih rendah itu adalah peruntukan (application) daripada prinsip-prinsip universal. (4 Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan, Peradilan & Adat dalam Islam, penerjemah: H. Asmuni, (Jakarta: Khalifa, 2004), cet. petama, hal. 512. )

Sedangkan menurut Harapandi Dahri, tradisi didefinisikan sebagai berikut:
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas. Awal-mula dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu kemudian disepakati oleh beberapa kalangan dan akhirnya diaplikasikan secara bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah ajaran yang jika ditinggalkan akan mendatangakan bahaya.
(5 I Nyoman Beratha, Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hal.
22. )Tradisi-tradisi tersebut dapat disaksikan pada; ’Upacara Tawar Laut/Ketupat Laut’, ’Tahun Baru Cina’, ’Sembahyang Kubur Cina’, ’Sembahyang Pantai’, ’Kawin Massal’,Perang Ketupat’, ’Mandi Belimau’, ’Sedekah Kampung’,’Rebo Kasan’, ’Nganggung’ dan lainnya yang dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan sebagai pengungkapan atas rasa syukur terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, yang kental dengan nuansa keagamaan. Pewarisan tradisi tersebut dapat terjadi melalui pertunjukkan upacara adat pada suatu masyarakat.
Sejalan dengan pengertian di atas, upacara di sini merupakan sumber pengetahuan tentang bagaimana seseorang bertindak dan bersikap terhadap suatu gejala yang diperolehnya melalui proses belajar dari generasi sebelumnya dan kemudian harus diturunkan kepada generasi berikutnya.Ritual keagamaan yang dibungkus dengan bentuk tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan berkelanjutan dalam periodik waktu tertentu, bahkan hingga terjadi akulturasi dengan budaya lokal. Seperti apa yang diperlihatkan masyarakat Bangka
Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena itu tradisi nganggung dapat dikatakan salah satu identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.Nganggung atau Sepintu Sedulang merupakan warisan nenek moyang yang
mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung. Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama. Makanan tersebut dibawa dengan cara di "anggung" (dipapah di bahu) menggunakan dulang yang ditutup dengan tudung saji pandan atau daun nipah khas Bangka yang warnanya semarak dengan motif yang khas pula. Itu sebabnya Kepulauan Bangka Belitung disebut juga "Negeri Sepintu Sedulang". Meski demikian, ada juga beberapa daerah yang membawa makanan tersebut dengan rantang. Meski begitu, tetap saja dinamakan nganggung karena intinya pada saat acara makan-makan bersamanya. Selain untuk menyambut dan merayakan hari-hari besar keagamaan, nganggung juga dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan, seperti gubernur, bupati atau tamu kehormatan lainnya. Untuk menghormati tamu istimewa yang datang tersebut. Biasanya masyarakat menyambut dan menjamu tamu secara bergotong royong yaitu dengan tradisi nganggung ini. Nganggung juga sering dilakukan sebagai ungkapan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu warga. Pada 7 hari setelah masa berkabung biasanya masyarakat juga melaksanakan ritual tahlilan yang diikuti dengan tradisi nganggung untuk menjaga solidaritas dan turut membantu yang terkena musibah. Dengan tradisi ini kita dapat menunjukkan rasa kepedulian, kebersamaan, gotong royong dan selalu menjaga serta menjalin tali kekeluargaan dan hubungan silaturrahim antara sesama. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar. Waktu pelaksanaan nganggung biasanya bervariasi , tidak mutlak harus sama antara satu desa dengan desa yang lain , tergantung kesepakatan bersama antara penduduk desa masing-masing. Ada desa yang menyelenggarakan nganggung selepas maghrib , ada yang menyelenggarakannya jam 07.00 .Ada pula yang menyelenggarakan kegiatan ini jam 10.00 pagi , setelah paginya masyarakat bergotong royong membersihkan mesjid .Dan ada pula desa yang melakukan kegiatan nganggung ini pada jam 16.00 , setelah sholat ashar .

Perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh
tiga fungsi berikut:

Cipta (Reason)
merupakan fungsi intelektual jiwa manusia. Melalui cipta manusia dapat manilai dan membandingkan dan selanjutnya memutuskan suatu tindakan terhadap stimulan tertentu. Cipta berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
Rasa(Emo tio n )
adalah suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang. Rasa menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
Karsa(Will )
merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Karsa berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin sebagai ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan yang menimbulkan amalan-amalan atau praktik keagamaan yang benar dan logis.
Dalam acara nganggung ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan,timah atau kayu dan. sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang. sekarang ada pula yang terbuat dari pelastik Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung  kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun, sejenis pandan, dan di cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan rasa bangga.
Laki-laki Perwakilan dari setiap rumah berbondong-bondong membawa dulang mereka ketempat yang sudah disepakati dengan sebelah tangan setinggi bahu atau sengaja menjadikan bahu sebagai penopang Dulang.Setelah tiba ditempat panitia akan menerima dulang dan meletakkannya dengan rapi biasanya akan bertukaran dulang dengan maksud saling menikmati makanan tapi bukan makanan yang kita bawa sendiri dari rumah.Masyarakat yang mengikuti nganggung duduk berbaris saling berhadapan.dan tiantara mereka terdapat dulang yang berisi makanan.Selain masyarakat kampung tak jarang pula orang dari kampung/Desa lain ikut dalam acara ini atau para tau yang sengaja diundang untuk menghadiri acara nganggung. Sedangkan masyarakat yang tidak ingin mengikuti acara nganggung di masjid atau balai desa juga dapat menikmati hidangan dirumah warga.khususnya pada acara nganggung tertentu seperti peringatan hari besar agama,pesta panen,atau sedekah kampung.
Namun dalam perkembangannya sekarang, kegiatan nganggung yang masih eksis dipertahankan hanya pada saat memperingati hari besar agama Islam, dan menyambut tamu kehormatan saja. Dengan semakin majunya zaman tradisi membawa dulang yang berwarna-warni diatas bahu dengan berjalan kaki menuju tempat nganggung berganti dengan kendaraan bermotor.begitupun dengan dulang sebagai tempat makanan nganggung berganti pula dengan rantang seng atau plastik hal ini mungkin dikarenakan masyarakat bangka belitung tidak memiliki dulang dan tudung saji sebagai pemanis suasana nganggung atau sulitnya mencari dulang serta tudung saji yang tempat tumbuh bahan bakunya semakin berkurang tergerus dengan lahan tambang timah yang semakin meraja lela.
Kemudian Yang menjadi tanda tanya adalah seberapa besar potensi pariwisata pada ritual adat istiadat tersebut. Tentu saja semua perhelatan budaya mempunyai nilai wisata yang sangat besar apabila dioptimalkan. Tidak ada budaya yang tidak mempunyai nilai wisata. Dalam hal ini tentu saja ritual adat sepintu sedulang tersebut bisa dijual atau dikomersilkan sebagai potensi wisata pulau Bangka. Hal tersebut tentu saja apabila ritual tersebut dikemas dengan sedemikian rupa sehingga bisa dikatakan layak untuk menarik minat wisatawan untuk berperan andil dalam ritual tersebut.

Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan   Pangkal  pinang pada acara Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta  Budaya Bangka Buku I th 1995


SEDEKAH KAMPUNG

Sebelum menjelaskan pengertian Sedekah Kampung, terlebih dahulu diuraikan makna sedekah pada umumnya dan pemaknaan terhadap kampung itu sendiri. Sedekah atau kenduri adalah konsep yang paling umum dipakai baik untuk perayaan tanda syukur maupun peringatan tanda duka cita. Sedekah sebagai tanda syukur dilaksanakan untuk merayakan kelahiran, khitanan, perkawinan, pindah rumah, habis panen, terhindar dari bahaya, dan sebagainya. Sedekah dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rizki dan kasih sayang kepada yang mnyelenggarakan sedekah dan permohonan agar senantiasa diberi keselamatan dan perlindungan kepada yang melaksanakan sedekah dan semua anggota masyarakat pada umumnya.Kampung atau yang sering disebut dengan desa, merupakan kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu, terletak di bawah kecamatan; berkaitan dengan kebiasaan di kampung. Sedangkan menurut Bouman yang dikutip oleh Beratha, mendefinisikan desa dari segi pergaulan hidup:
Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal; kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Dan dalam tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat, ketaatan pada tradisi dan kaidah-kaidah sosial.
Sedekah Kampung adalah upacara adat yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan berbagai ritual yang terkandung dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat kampung yang telah mengakar. Juga dimaknai sebagai kebiasaan atau tradisi yang turun temurun dilakukan, hingga menjadi bagian dari budaya dengan menyediakan makanan di suatu tempat yang telah ditentukan dan di rumah masing-masing masyarakat setempat, dengan dilakukan berbagai aktivitas atau kebiasaan kedaerahan sesuai dengan daerah masing-masing yang bisa disebut dengan adat.
Sedekah kampung sebagai tradisi atau kebiasaan dari sebuah budaya merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia. Manusia sebagai khalifatu fii al-Ard (pewaris nenek moyang) merupakan suatu ikatan yang tidak lepas dari kebudayaan. Kebudayaan sebagaimana telah dikemukakan oleh Geertz dapat dilihat pada peristiwa-peristiwa publik seperti ritual, festival atau perayaan tertentu karena pada peristiwa-peristiwa tersebut orang mengekspresikan tema-tema kehidupan sosial melalui tindakan simbolik. Tindakan tersebut mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.Di dalam kehidupan, budaya ternyata mengalami proses seperti proses biologi, artinya budaya juga mengalami masa-masa lahir, berkembang, surut, dan bahkan hilang sama sekali. Pasang surutnya budaya tersebut tergantung padasta b ilita s sosial kehidupan manusia, karena budaya menyatu dan melekat dalam kehidupannya. Dengan kata lain, budaya merupakan identitas bagi manusia, kalau budaya suram tentunya identitas tersebut akan kabur dan jika ia tereleminasi sama dengan tidak berbudaya lagi.

Budaya sebagai warisan bangsa yang dapat dirasakan sampai sekarang (cultural
heritage) mempunyai beberapa kandungan nilai yang sangat berharga bagi kelangsungan
suatu bangsa atau etnis tertentu. Sedekah Kampung sebagai budaya lokal yang merupakan warisan generasi sebelumnya memiliki nilai-nilai budaya yang mampu melindungi aspek kehidupan lainnya, seperti kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan religius. Di antara kandungan-kandungan yang sudah disepakati dalam budaya daerah antara lain adanya:

1. Identifikasi daerah (local identification). Sudah disebut di atas bahwa budaya menjadi identifikasi suatu bangsa atau etnik;
2. Kearifan daerah (local wisdom). Sikap arif dapat dipastikan dimiliki oleh setiap daerah karena walaupun berbeda daerah tetap ada hal-hal yang bersifat umum;
3. Pencerdas daerah (local genius). Hampir setiap masyarakat ada minoritas yang memiliki kemampuan berpikir yang luas. Merekalah sebenarnya obor masyarakat yang akan membawa kemana masyarakat pergi. pemikiran mereka itu akan dijadikan oleh pelaksana pemerintahan yang kemudian diikuti oleh masyarakatnya;
4. Budaya kreatif (creative culture). Sebagai kelanjutan dari minoritas kreatif tentunya mereka yang sudah ada dalam ranah budaya kreatif akan menghasilkan kreasi-kreasi baru. Kreasi inilah yang menyambung kehidupan budaya yang telah ada;
5. Kemandirian budaya (cultural independence). Keberadaan suatu budaya sejak awalnya adalah kreasi elit yang merupakan minoritas kreatif yang dalam kelangsungannya didukung oleh kekuasaan politik dan ekonomi. Kait-mengait antarfaktor itu tidak dapat dilepaskan. Namun, faktor-faktor itu hidup dalam suatu daerah yang sudah merupakan kebulatan. Oleh karena itu, kebulatan budaya harus dijaga supaya kelestariannya berjalan menggenerasi;
6. Iklim sosio-kultural (socio-cultural sphere). Lajunya modernisasi di semua bidang kehidupan diperlukan iklim sosial budaya yang mendukung agar masyarakat sebagai pemilik warisan budaya itu secara sadar melakukan pelestarian budaya.
Perayaan Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun temurun dan tidak diketahui asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Sebelum pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat (dukun) mengadakan ceriak (bermusyawarah dengan melakukan pemanggilan orang-orang kampung oleh dukun yang tujuannya untuk menentukan waktu pelaksanaan Sedekah Kampung.) pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara tersebut. Pada tanggal yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu penduduk setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari buluh (bambu). Menurut sang dukun dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik minat orang-orang cina yang berdiam di desa tersebut agar memeluk agama Islam.Setelah persiapan, seperti; batu persucian (taber) dan gaharu selesai, kemudian pada hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti; ayam dan bebek untuk diperebutkan setelah ritual upacara permohonan izin dilakukan. Semua peralatan telah dipersiapkan,bersama penduduk arak-arakan menuju Istana(sebutan masyarakat terhadap makam keturunan tetua adat yang dijadikan sebagai tempat ritual upacara permohonan izin untuk melaksanakan Sedekah Kampung (makam leluhur yang merupakan kakek buyut tetua adat )dengan diiringi semarang (selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan sedekah kampung. Setelah sampai di sana, sang dukun kemudian duduk di atas makam bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan mantera. Setelah pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik ke atas makam dan memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada di atas makam tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penampilan silat yang dilakukan oleh dua orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya melakukan pemberianta n g kel (jimat) di empat penjuru, dimulai dari istana tersebut menuju gerbang pintu masuk ke desa sampai akhir perbatasan desa tersebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung.
Dalam pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini, yaitu duduk di atas pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun di atas pagar dan bermain senter. Menurut penduduk, apabila pantangan tersebut dilanggar, maka akan didatangi oleh makhluk- makhluk halus dan mengubahnya menjadi tepuler (kepala dengan wajah terbalik ke belakang). Untuk tetua adat selama acara berlangsung, tidak boleh makan dan minum (berpuasa).
  Setelah selesai dilaksanakan sedekah kampung diikuti dengan nganggung kegiatan seperti ini masih dilaksanakan didesa peradong tempilang air anyir,limbung jada bahrin dan beberapa desa lain di Bangka Belitung.
Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan   Pangkal  pinang pada acara Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta  Budaya Bangka Buku I th 1995
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4hgsATrXP8E4ruHi97OdX8Ecp0lnKQhKIfnNDnKoEYjo4DttIfO7Ep_9xd2R8NOGjLNliYG-cEUhhjtEWOgpD_DRAuwin9LqgGP5FHWnIrzrlvVnS6oIwVLc0VpX179hUxj3o4roYGbo/s320/3.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglcvO8CjsvJuB5f1WaUCLhhhk0iN_oq8cyf3x0tH76BpWPRekYX2aQe8EphpiMytMWahmsnxwm0Ohq3VEMtMof_1RTet1yqdizxmv1pOkTMIsbCha8Ch_tBhQkyr93wHmJGo5EUvuxRDk/s320/nganggoeng.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqy06Gjjiyq8QKJCC4JYOllVZfgCKqO_IdTS_SQSuTZcDUJgWJ2Xo4JOceML3yb8A7NfXg8pG2igiu7wJJTSm-NZxvLWHChjeqi14ppL3pTMTldkkxTBMX-vC7-p3Jt1wVA79hMDgVM0eY/s400/5.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvjb13wNocd-x-h3oThmPFNNhehb-HMpzBkxhAvdP00b_QlSyIs51jDiutdqzZrhfVfrdvxwsg5M1lETDhW9PQpvxSZBsYTrVR_G3ZSpQc95PebyCVRqbqJzxFzlnnvyGJdywccOcGGHxs/s400/3.JPGhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhp90h2aqY9E1ptttAMZ1Juzlc_3-ZfgVKSM660r-qBuwypvccCFYRinqNvBeMLeL6tSbmZdSXcEX9lQRf-LvEWnyb6LcWVlmbq448UUStU2kpwCrhaEhkBsw_OXn4rRICLzM4zmfi_zcTo/s400/1.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWQQbLL2GrNDZvSG-UBtOBMdcHdturrzuGnZ3FsSNUr6Wa7BWW-6n1fASE0nVfpkBIVgg07WsbTJgjNQUzUO3Dj8T-Fl0XIUog3F5o_zXYzdrfM2bsZtiHEgPQQ6edRObC4Im9AG47fbgg/s400/2.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT5CGm_Rx4OWfuI6Y1dCJQn857n7ps3vcOg_qfRrO_oSd63gumM6iFc4Geyd1wqc4FUmWliP2OvZKyza5Obr0SplJ53oE3wZ9-LVZXZAPwCUWNfb-k9lUoOtRSPPWmQX9XjZdXA0_bpdDL/s400/4.jpg