Jumat, 21 September 2012

NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG


NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG

Setiap masyarakat tentunya memiliki agama sebagai kepercayaan yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut memelihara dan melestarikan budaya yang ada.Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia
menurut Alisyahbana; merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.( 1 Bustanudin Agus, Islam dan Pembangunan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15)
Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya. (2 Atang Abdullah Hakim Dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006),
cet. kedelapan, hal. 28)Tradisi sebagai salah satu bagian dari kebudayaan menurut pakar hukum F. Geny adalah fenomena yang selalu merealisasikan kebutuhan masyarakat. Sebab yang pasti dalam hubungan antar individu, ketetapan kebutuhan hak mereka, dan kebutuhan persamaan yang merupakan asas setiap keadilan menetapkan bahwa kaidah yang dikuatkan adat yang baku itu memiliki balasan materi, yang diharuskan hukum. Kaidah ini sesuai dengan naluri manusia yang tersembunyi, yang tercermin dalam penghormatan tradisi yang baku dan perasaan individu dengan rasa takut ketika melanggar apa yang telah dilakukan pendahulu mereka(3 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), cet. kedelapan, hal. 190. )

Menurut Hardjono dalam I Nyoman Beratha memberikan ulasan singkat bahwa tradisi adalah suatu pengetahuan atau ajaran-ajaran yang diturunkan dari masa ke masa. Ajaran dan pengetahuan tersebut memuat tentang prinsip universal yang digambarkan menjadi kenyataan dan kebenaran yang relatif. Dengan demikian segala kenyataan dan kebenaran dalam alam yang lebih rendah itu adalah peruntukan (application) daripada prinsip-prinsip universal. (4 Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan, Peradilan & Adat dalam Islam, penerjemah: H. Asmuni, (Jakarta: Khalifa, 2004), cet. petama, hal. 512. )

Sedangkan menurut Harapandi Dahri, tradisi didefinisikan sebagai berikut:
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas. Awal-mula dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu kemudian disepakati oleh beberapa kalangan dan akhirnya diaplikasikan secara bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah ajaran yang jika ditinggalkan akan mendatangakan bahaya.
(5 I Nyoman Beratha, Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hal.
22. )Tradisi-tradisi tersebut dapat disaksikan pada; ’Upacara Tawar Laut/Ketupat Laut’, ’Tahun Baru Cina’, ’Sembahyang Kubur Cina’, ’Sembahyang Pantai’, ’Kawin Massal’,Perang Ketupat’, ’Mandi Belimau’, ’Sedekah Kampung’,’Rebo Kasan’, ’Nganggung’ dan lainnya yang dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan sebagai pengungkapan atas rasa syukur terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, yang kental dengan nuansa keagamaan. Pewarisan tradisi tersebut dapat terjadi melalui pertunjukkan upacara adat pada suatu masyarakat.
Sejalan dengan pengertian di atas, upacara di sini merupakan sumber pengetahuan tentang bagaimana seseorang bertindak dan bersikap terhadap suatu gejala yang diperolehnya melalui proses belajar dari generasi sebelumnya dan kemudian harus diturunkan kepada generasi berikutnya.Ritual keagamaan yang dibungkus dengan bentuk tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan berkelanjutan dalam periodik waktu tertentu, bahkan hingga terjadi akulturasi dengan budaya lokal. Seperti apa yang diperlihatkan masyarakat Bangka
Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena itu tradisi nganggung dapat dikatakan salah satu identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.Nganggung atau Sepintu Sedulang merupakan warisan nenek moyang yang
mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung. Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama. Makanan tersebut dibawa dengan cara di "anggung" (dipapah di bahu) menggunakan dulang yang ditutup dengan tudung saji pandan atau daun nipah khas Bangka yang warnanya semarak dengan motif yang khas pula. Itu sebabnya Kepulauan Bangka Belitung disebut juga "Negeri Sepintu Sedulang". Meski demikian, ada juga beberapa daerah yang membawa makanan tersebut dengan rantang. Meski begitu, tetap saja dinamakan nganggung karena intinya pada saat acara makan-makan bersamanya. Selain untuk menyambut dan merayakan hari-hari besar keagamaan, nganggung juga dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan, seperti gubernur, bupati atau tamu kehormatan lainnya. Untuk menghormati tamu istimewa yang datang tersebut. Biasanya masyarakat menyambut dan menjamu tamu secara bergotong royong yaitu dengan tradisi nganggung ini. Nganggung juga sering dilakukan sebagai ungkapan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu warga. Pada 7 hari setelah masa berkabung biasanya masyarakat juga melaksanakan ritual tahlilan yang diikuti dengan tradisi nganggung untuk menjaga solidaritas dan turut membantu yang terkena musibah. Dengan tradisi ini kita dapat menunjukkan rasa kepedulian, kebersamaan, gotong royong dan selalu menjaga serta menjalin tali kekeluargaan dan hubungan silaturrahim antara sesama. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar. Waktu pelaksanaan nganggung biasanya bervariasi , tidak mutlak harus sama antara satu desa dengan desa yang lain , tergantung kesepakatan bersama antara penduduk desa masing-masing. Ada desa yang menyelenggarakan nganggung selepas maghrib , ada yang menyelenggarakannya jam 07.00 .Ada pula yang menyelenggarakan kegiatan ini jam 10.00 pagi , setelah paginya masyarakat bergotong royong membersihkan mesjid .Dan ada pula desa yang melakukan kegiatan nganggung ini pada jam 16.00 , setelah sholat ashar .

Perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh
tiga fungsi berikut:

Cipta (Reason)
merupakan fungsi intelektual jiwa manusia. Melalui cipta manusia dapat manilai dan membandingkan dan selanjutnya memutuskan suatu tindakan terhadap stimulan tertentu. Cipta berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
Rasa(Emo tio n )
adalah suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang. Rasa menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
Karsa(Will )
merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Karsa berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin sebagai ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan yang menimbulkan amalan-amalan atau praktik keagamaan yang benar dan logis.
Dalam acara nganggung ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan,timah atau kayu dan. sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang. sekarang ada pula yang terbuat dari pelastik Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung  kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun, sejenis pandan, dan di cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan rasa bangga.
Laki-laki Perwakilan dari setiap rumah berbondong-bondong membawa dulang mereka ketempat yang sudah disepakati dengan sebelah tangan setinggi bahu atau sengaja menjadikan bahu sebagai penopang Dulang.Setelah tiba ditempat panitia akan menerima dulang dan meletakkannya dengan rapi biasanya akan bertukaran dulang dengan maksud saling menikmati makanan tapi bukan makanan yang kita bawa sendiri dari rumah.Masyarakat yang mengikuti nganggung duduk berbaris saling berhadapan.dan tiantara mereka terdapat dulang yang berisi makanan.Selain masyarakat kampung tak jarang pula orang dari kampung/Desa lain ikut dalam acara ini atau para tau yang sengaja diundang untuk menghadiri acara nganggung. Sedangkan masyarakat yang tidak ingin mengikuti acara nganggung di masjid atau balai desa juga dapat menikmati hidangan dirumah warga.khususnya pada acara nganggung tertentu seperti peringatan hari besar agama,pesta panen,atau sedekah kampung.
Namun dalam perkembangannya sekarang, kegiatan nganggung yang masih eksis dipertahankan hanya pada saat memperingati hari besar agama Islam, dan menyambut tamu kehormatan saja. Dengan semakin majunya zaman tradisi membawa dulang yang berwarna-warni diatas bahu dengan berjalan kaki menuju tempat nganggung berganti dengan kendaraan bermotor.begitupun dengan dulang sebagai tempat makanan nganggung berganti pula dengan rantang seng atau plastik hal ini mungkin dikarenakan masyarakat bangka belitung tidak memiliki dulang dan tudung saji sebagai pemanis suasana nganggung atau sulitnya mencari dulang serta tudung saji yang tempat tumbuh bahan bakunya semakin berkurang tergerus dengan lahan tambang timah yang semakin meraja lela.
Kemudian Yang menjadi tanda tanya adalah seberapa besar potensi pariwisata pada ritual adat istiadat tersebut. Tentu saja semua perhelatan budaya mempunyai nilai wisata yang sangat besar apabila dioptimalkan. Tidak ada budaya yang tidak mempunyai nilai wisata. Dalam hal ini tentu saja ritual adat sepintu sedulang tersebut bisa dijual atau dikomersilkan sebagai potensi wisata pulau Bangka. Hal tersebut tentu saja apabila ritual tersebut dikemas dengan sedemikian rupa sehingga bisa dikatakan layak untuk menarik minat wisatawan untuk berperan andil dalam ritual tersebut.

Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan   Pangkal  pinang pada acara Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta  Budaya Bangka Buku I th 1995


SEDEKAH KAMPUNG

Sebelum menjelaskan pengertian Sedekah Kampung, terlebih dahulu diuraikan makna sedekah pada umumnya dan pemaknaan terhadap kampung itu sendiri. Sedekah atau kenduri adalah konsep yang paling umum dipakai baik untuk perayaan tanda syukur maupun peringatan tanda duka cita. Sedekah sebagai tanda syukur dilaksanakan untuk merayakan kelahiran, khitanan, perkawinan, pindah rumah, habis panen, terhindar dari bahaya, dan sebagainya. Sedekah dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rizki dan kasih sayang kepada yang mnyelenggarakan sedekah dan permohonan agar senantiasa diberi keselamatan dan perlindungan kepada yang melaksanakan sedekah dan semua anggota masyarakat pada umumnya.Kampung atau yang sering disebut dengan desa, merupakan kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu, terletak di bawah kecamatan; berkaitan dengan kebiasaan di kampung. Sedangkan menurut Bouman yang dikutip oleh Beratha, mendefinisikan desa dari segi pergaulan hidup:
Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal; kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Dan dalam tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat, ketaatan pada tradisi dan kaidah-kaidah sosial.
Sedekah Kampung adalah upacara adat yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan berbagai ritual yang terkandung dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat kampung yang telah mengakar. Juga dimaknai sebagai kebiasaan atau tradisi yang turun temurun dilakukan, hingga menjadi bagian dari budaya dengan menyediakan makanan di suatu tempat yang telah ditentukan dan di rumah masing-masing masyarakat setempat, dengan dilakukan berbagai aktivitas atau kebiasaan kedaerahan sesuai dengan daerah masing-masing yang bisa disebut dengan adat.
Sedekah kampung sebagai tradisi atau kebiasaan dari sebuah budaya merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia. Manusia sebagai khalifatu fii al-Ard (pewaris nenek moyang) merupakan suatu ikatan yang tidak lepas dari kebudayaan. Kebudayaan sebagaimana telah dikemukakan oleh Geertz dapat dilihat pada peristiwa-peristiwa publik seperti ritual, festival atau perayaan tertentu karena pada peristiwa-peristiwa tersebut orang mengekspresikan tema-tema kehidupan sosial melalui tindakan simbolik. Tindakan tersebut mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.Di dalam kehidupan, budaya ternyata mengalami proses seperti proses biologi, artinya budaya juga mengalami masa-masa lahir, berkembang, surut, dan bahkan hilang sama sekali. Pasang surutnya budaya tersebut tergantung padasta b ilita s sosial kehidupan manusia, karena budaya menyatu dan melekat dalam kehidupannya. Dengan kata lain, budaya merupakan identitas bagi manusia, kalau budaya suram tentunya identitas tersebut akan kabur dan jika ia tereleminasi sama dengan tidak berbudaya lagi.

Budaya sebagai warisan bangsa yang dapat dirasakan sampai sekarang (cultural
heritage) mempunyai beberapa kandungan nilai yang sangat berharga bagi kelangsungan
suatu bangsa atau etnis tertentu. Sedekah Kampung sebagai budaya lokal yang merupakan warisan generasi sebelumnya memiliki nilai-nilai budaya yang mampu melindungi aspek kehidupan lainnya, seperti kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan religius. Di antara kandungan-kandungan yang sudah disepakati dalam budaya daerah antara lain adanya:

1. Identifikasi daerah (local identification). Sudah disebut di atas bahwa budaya menjadi identifikasi suatu bangsa atau etnik;
2. Kearifan daerah (local wisdom). Sikap arif dapat dipastikan dimiliki oleh setiap daerah karena walaupun berbeda daerah tetap ada hal-hal yang bersifat umum;
3. Pencerdas daerah (local genius). Hampir setiap masyarakat ada minoritas yang memiliki kemampuan berpikir yang luas. Merekalah sebenarnya obor masyarakat yang akan membawa kemana masyarakat pergi. pemikiran mereka itu akan dijadikan oleh pelaksana pemerintahan yang kemudian diikuti oleh masyarakatnya;
4. Budaya kreatif (creative culture). Sebagai kelanjutan dari minoritas kreatif tentunya mereka yang sudah ada dalam ranah budaya kreatif akan menghasilkan kreasi-kreasi baru. Kreasi inilah yang menyambung kehidupan budaya yang telah ada;
5. Kemandirian budaya (cultural independence). Keberadaan suatu budaya sejak awalnya adalah kreasi elit yang merupakan minoritas kreatif yang dalam kelangsungannya didukung oleh kekuasaan politik dan ekonomi. Kait-mengait antarfaktor itu tidak dapat dilepaskan. Namun, faktor-faktor itu hidup dalam suatu daerah yang sudah merupakan kebulatan. Oleh karena itu, kebulatan budaya harus dijaga supaya kelestariannya berjalan menggenerasi;
6. Iklim sosio-kultural (socio-cultural sphere). Lajunya modernisasi di semua bidang kehidupan diperlukan iklim sosial budaya yang mendukung agar masyarakat sebagai pemilik warisan budaya itu secara sadar melakukan pelestarian budaya.
Perayaan Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun temurun dan tidak diketahui asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Sebelum pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat (dukun) mengadakan ceriak (bermusyawarah dengan melakukan pemanggilan orang-orang kampung oleh dukun yang tujuannya untuk menentukan waktu pelaksanaan Sedekah Kampung.) pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara tersebut. Pada tanggal yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu penduduk setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari buluh (bambu). Menurut sang dukun dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik minat orang-orang cina yang berdiam di desa tersebut agar memeluk agama Islam.Setelah persiapan, seperti; batu persucian (taber) dan gaharu selesai, kemudian pada hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti; ayam dan bebek untuk diperebutkan setelah ritual upacara permohonan izin dilakukan. Semua peralatan telah dipersiapkan,bersama penduduk arak-arakan menuju Istana(sebutan masyarakat terhadap makam keturunan tetua adat yang dijadikan sebagai tempat ritual upacara permohonan izin untuk melaksanakan Sedekah Kampung (makam leluhur yang merupakan kakek buyut tetua adat )dengan diiringi semarang (selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan sedekah kampung. Setelah sampai di sana, sang dukun kemudian duduk di atas makam bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan mantera. Setelah pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik ke atas makam dan memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada di atas makam tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penampilan silat yang dilakukan oleh dua orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya melakukan pemberianta n g kel (jimat) di empat penjuru, dimulai dari istana tersebut menuju gerbang pintu masuk ke desa sampai akhir perbatasan desa tersebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung.
Dalam pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini, yaitu duduk di atas pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun di atas pagar dan bermain senter. Menurut penduduk, apabila pantangan tersebut dilanggar, maka akan didatangi oleh makhluk- makhluk halus dan mengubahnya menjadi tepuler (kepala dengan wajah terbalik ke belakang). Untuk tetua adat selama acara berlangsung, tidak boleh makan dan minum (berpuasa).
  Setelah selesai dilaksanakan sedekah kampung diikuti dengan nganggung kegiatan seperti ini masih dilaksanakan didesa peradong tempilang air anyir,limbung jada bahrin dan beberapa desa lain di Bangka Belitung.
Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan   Pangkal  pinang pada acara Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta  Budaya Bangka Buku I th 1995
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4hgsATrXP8E4ruHi97OdX8Ecp0lnKQhKIfnNDnKoEYjo4DttIfO7Ep_9xd2R8NOGjLNliYG-cEUhhjtEWOgpD_DRAuwin9LqgGP5FHWnIrzrlvVnS6oIwVLc0VpX179hUxj3o4roYGbo/s320/3.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglcvO8CjsvJuB5f1WaUCLhhhk0iN_oq8cyf3x0tH76BpWPRekYX2aQe8EphpiMytMWahmsnxwm0Ohq3VEMtMof_1RTet1yqdizxmv1pOkTMIsbCha8Ch_tBhQkyr93wHmJGo5EUvuxRDk/s320/nganggoeng.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqy06Gjjiyq8QKJCC4JYOllVZfgCKqO_IdTS_SQSuTZcDUJgWJ2Xo4JOceML3yb8A7NfXg8pG2igiu7wJJTSm-NZxvLWHChjeqi14ppL3pTMTldkkxTBMX-vC7-p3Jt1wVA79hMDgVM0eY/s400/5.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvjb13wNocd-x-h3oThmPFNNhehb-HMpzBkxhAvdP00b_QlSyIs51jDiutdqzZrhfVfrdvxwsg5M1lETDhW9PQpvxSZBsYTrVR_G3ZSpQc95PebyCVRqbqJzxFzlnnvyGJdywccOcGGHxs/s400/3.JPGhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhp90h2aqY9E1ptttAMZ1Juzlc_3-ZfgVKSM660r-qBuwypvccCFYRinqNvBeMLeL6tSbmZdSXcEX9lQRf-LvEWnyb6LcWVlmbq448UUStU2kpwCrhaEhkBsw_OXn4rRICLzM4zmfi_zcTo/s400/1.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWQQbLL2GrNDZvSG-UBtOBMdcHdturrzuGnZ3FsSNUr6Wa7BWW-6n1fASE0nVfpkBIVgg07WsbTJgjNQUzUO3Dj8T-Fl0XIUog3F5o_zXYzdrfM2bsZtiHEgPQQ6edRObC4Im9AG47fbgg/s400/2.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT5CGm_Rx4OWfuI6Y1dCJQn857n7ps3vcOg_qfRrO_oSd63gumM6iFc4Geyd1wqc4FUmWliP2OvZKyza5Obr0SplJ53oE3wZ9-LVZXZAPwCUWNfb-k9lUoOtRSPPWmQX9XjZdXA0_bpdDL/s400/4.jpg

Selasa, 28 Agustus 2012

PAHLAWAN MASA KINI


PAHLAWAN BANGKA BELITUNG
Peringatan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke 67 ini membawa kita untuk mengingat jasa para pahlawan. Definisi pahlawan yang begitu luas, membuat banyak orang menginterpretasikan arti pahlawan yang berbeda-beda. Pahlawan di masa sebelum kemerdekaan diartikan sebagai seseorang yang membela tanah air sepenuh jiwa dan raga serta mengorbankan harta dan nyawanya demi kemerdekaan negara Indonesia tercinta. Tetapi, setelah masa kemerdekaan seperti ini, dimana masa peperangan sudah berakhir, seperti apakah yang layak dikatakan sebagai seorang pahlawan ?
Kata kunci pertama berkorban(keikhlasan) mencakup beberapa hal. Pengorbanan seorang pahlawan tidak selalu identik dengan pengorbanan harta atau nyawa yang dilakukan oleh para pahlawan perjuangan kita mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik yaitu kehidupan yang merdeka. Seorang pelajar yang giat belajar saja sudah dapat disebut sebagai pahlawan karena dia telah berkorban waktu keluar dari zona kenyamanan dia untuk bersantai-santai  dan bermain ke zona ketidaknyamanan mengerutkan kening mempelajari setiap pelajaran. Seorang pelajar yang giat belajar tersebut juga berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik karena dengan belajar karena dengan ilmunya kelak dia dapat mengubah takdir dirinya, keluarganya, bahkan bangsanya menjadi lebih baik.Seorang jaksa juga bisa disebut sebagai pahlawan apabila dia menolak disuap untuk memenangkan suatu perkara peradilan. Sebaliknya dia akan disebut sebagai pengkhianat apabila menerima suap tersebut. Bukan perkara mudah untuk menolak suatu suap. Butuh iman yang sangat kuat untuk menolak uang miliaran rupiah yang besarnya jauh berkali-kali lipat dari gaji yang diterima tiap bulan. Dengan penuh ketekadan untuk selalu berbuat adil dan menganggap suap adalah perbuatan yang merugikan banyak orang.
Dengan begitu mudahnya seseorang menjadi seorang pahlawan ini hendaknya menjadikan setiap elemen bangsa kita berlomba-lomba untuk menjadi seorang pahlawan. Kesanggupan kita untuk menjadi seorang pahlawan dapat ditanyakan pada diri kita sendiri.
Beberapa waktu lalu, terjadi kontroversi untuk pemberian gelar pahlawan Berbagai pendapat muncul terhadap beberapa orang yang akan diberikan gelar pahlawan tersebut. Ada yang mengatakan ia memiliki jasa yang begitu besar terhadap Indonesia sehingga pantas mendapatkan, terlepas melihat sisi lain dari kehidupannya, tetapi ia dikatakan memang pantas mendapat gelar pahlawan. Pendapat lain mengatakan, perbuatannya sungguh tidak memungkinkan bila ia diberi gelar pahlawan, terutama bagi orang-orang yang merasakan hidup pada zaman tersebut.
DI ZAMAN perjuangan kemerdekaan, mereka yang layak disebut pahlawan adalah
“Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani”. Ini juga tertulis di Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Pahlawan zaman dahulu, memang memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia. Manfaatnya begitu besar dirasakan. Masyarakat memang mengakui hal tersebut tanpa ada kontroversi yang berlebihan seperti sekarang ini, karena memang mereka semua murni berjiwa pahlawan bagi Indonesia. Mereka memang berjuang sepenuh jiwa raga dan tanpa pamrih melakukan hal tersebut.


Era globalisasi seperti ini, mungkin kata pahlawan itu sekarang sudah sangat jarang digunakan. Para pahlawan-pahlawan pun dikenang hanya pada saat-saat tertentu, padahal jasa-jasa mereka untuk Indonesia begitu besar. Tetapi, pahlawan itu selalu identik dengan hal-hal yang berbau peperangan. Bagaimana dengan seseorang yang membela bangsa Indonesia, mengharumkan nama besar Indonesia di kancah Internasional tanpa mengeluarkan setetes darah karena mereka berjuang dengan menggunakan otot dan pikiran mereka. Sebagai contoh, para atlet yang berjuang untuk Indonesia yang pada saat itu memenangkan kejuaraaan dunia otomatis pada saat itu nama Indonesia begitu besar, mereka di eluk-elukan karena kemenangannya, tetapi apa yang terjadi pada masa sekarang, banyak orang-orang yang tidak mengetahui mereka terutama para generasi muda. Padahal seharusnya mereka tahu, bahwa Indonesia pernah melakukan hal tersebut. Contoh lain adalah para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang memenangkan berbagai olimpiade keilmuan baik dibidang sains maupun sosial, jasa mereka begitu berharga tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga dunia karena pemikiran mereka yang sangat berguna. Untuk itu layakkah mereka semua dikatakan sebagai seorang pahlawan? Tentu jasa-jasa mereka juga tidak akan kita lupakan.
Menjadi seorang pahlawan untuk masa sekarang ini, bukanlah mencari gelar untuk dikatakan pahlawan, tetapi bagaimana kita dapat sebesar mungkin memberikan kontribusi bagi Indonesia tanpa mengharapkan pamrih karena sebenarnya gelar pahlawan itu akan diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan dari Nya pula kita akan mendapatkan balasannya.
Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009 
“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia”
Syarat umum pemberian gelar pahlawan
Menurut Pasal 24-26 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seseorang harus memenuhi persyaratan umum dan khusus untuk mendapat gelar pahlawan. Syarat umumnya, seorang calon pahlawan haruslah warga negara Indonesia (WNI) atau seseorang yang berjuang di wilayah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) yang juga memiliki integritas moral dan keteladanan. Calon pahlawan juga harus setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, berkelakuan baik, dan tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan atau diancam pidana penjara di atas lima tahuum pemberian gelar pahlawan
Syarat khusus pemberian gelar pahlawan
Adapun syarat khusus pada pasal 26 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, Dan Tanda Kehormatan, harus dipenuhi calon pahlawan adalah selama masa hidupnya, dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, dia pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara serta pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Konsekuensi
a.Konsekuensi dari definisi di era orde baru yaitu, siapa saja bisa jadi pahlawan. Jadi, ada pahlawan budaya, pahlawan seni, pahlawan lingkungan dan pahlawan ini pahlawan itu
b. Konsekuensi lain yaitu, karena gelar pahlawan diberikan tiap tahun, maka suatu saat nanti Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki pahlawan.
c.Konsekuensi berikut, definisi terlalu luas. Dan akhirnya menjadi kabur.
d.Karena gelar diberikan oleh pemerintah, maka bisa saja terjadi politisasi pemberian gelar. Walaupun itu berdasarkan usulan masyarakat, maka pertanyaannya adalah masyarakat yang mana? Apakah masyarakat selalu punya pendapat yang sama?

 ( DEPATI HAMZAH,BATIN TIKAL DAN DEPATI BAHARIN)
 
Amir adalah putera sulung Depati Bahrin (Wafat tahun 1848), sedangkan Hamzah adalah adik atau saudara kandung Amir. Sebagai putera sulung, Amir menjadi Depati diangkat oleh Belanda karena ketakutan Belanda akan pengaruhnya yang besar di hati rakyat Bangka. Jabatan Depati yang diberikan Belanda kepada Amir atas daerah Mendara dan Mentadai kemudian ditolaknya, akan tetapi gelar Depati tersebut kemudian tetap melekat pada diri Amir dan kemudian kepada Hamzah karena kecintaan rakyat kepada keduanya, disamping kehendak kuat rakyat Bangka yang membutuhkan pigur Pemimpin. Sejak perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Bahrin (Tahun 1820-1828), Amir dan Hamzah sebagai putera Bahrin, sudah menjadi panglima Perang dan menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik, yaitu sifat yang tegas, berani, cerdas dan cakap.
Amir dan Hamzah membangun markas besarnya di daerah Tampui dan Belah serta di kaki Gunung Maras, namun secara pasti Pasukan terus berpindah dan bergerak diseluruh pelosok belantara Pulau Bangka. Dalam Pertempuran strategi yang digunakan adalah perang gerilya dengan ciri
 Disamping pasukan utama dibentuk pasukan pasukan kecil dimasing masing distrik yang dipimpin oleh seorang Panglima Perang.
Tugas pasukan kecil ini adalah menyerang pos pos militer Belanda dan parit-parit sebagai pusat kekayaan dan keuangan Belanda, serta membumihanguskan Batin Batin untuk menaikkan moral perjuangan dan menghancurkan sumber logistik musuh.
Melemahkan mental dan moral musuh dengan menyerang kemudian menghilang dengan cepat, mengelabui dan menjebak musuh dengan memanfaatkan kondisi geografis alam Pulau Bangka
.Menghindari pertempuran terbuka dan frontal.Memasang rintangan dan ranjau sepanjang jalan Pangkalpinang-Mentok.Mengadakan gerakan kontra mata mata.Mendatangkan senjata dan amunisi bekerjasama dengan orang orang Cina.
Untuk menghadapi perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir dan Hamzah, Belanda mengalami kebingungan dan kesulitan, sehingga bermacam strategi dilakukan antara lain:
Parit parit dijaga oleh militer dan di kampung kampung didirikan pos militer.
Mendatangkan orang Indonesia dari daerah lain untuk berperang melawan Amir dan Hamzah.
Memberi hadiah bagi yang dapat memberikan informasi keberadaan Amir dan Hamzah atau yang berhasil menangkapnya.
Melakukan gerakan gerakan militer, benteng stelsel, memperkuat balatentara dan mendatangkan kapal perang untuk mempercepat gerak pasukan guna mendesak dan menumpas perlawanan.
Menawarkan perundingan dengan memberi Gaji dan Tunjangan Kepada Amir dan Hamzah, kepada para Batin dan Mandor kampung untuk mengikat supaya tidak melakukan perlawanan.
Menjanjikan melepas keluarga Amir dan Hamzah yang ditahan.
Melaksanakan perundingan di Kampung Layang dipimpin oleh Kapten Dekker.
Kekurangan akan logistik dan kondisi pasukannya yang keletihan karena harus bergerak terus menerus dalam rimba Pulau Bangka yang sangat luas yang menjadi pemikiran Amir dan Hamzah, sehingga ketika pasukannya kembai ke kampung - kampung untuk menggarap ladang pertanian justru menjadi hal yang dianjurkan, karena mengingat kepentingan yang lebih besar yaitu menghindari rakyat Bangka dari kelaparan. Di samping kekurangan pangan dan logistik perang ditambah iklim yang kurang mendukung, menyebabkan dalam peperangan digunakannya peralatan tradisional yang disebut Pidung dan Sumpitan sebagai senjata. Keletihan, kekurangan pangan, dan kondisi alam yang ganas, pertempuran demi pertempuran yang berlangsung hampir tiga tahun tanpa henti disertai penyergapan - penyergapan dan pengepungan menyebabkan pasukan semakin lemah, dalam dua kali penyergapan dipimpin oleh Lettu Dekker di Cepurak pada tanggal 27 Nopember 1850 dan pada bulan Desember 1850 Amir dan Hamzah beserta pengikutnya berhasil meloloskan diri. Dalam kondisi kurus, lemah dan sakit Amir dan Hamzah berhasil ditangkap pada tanggal 7 januari 1851 lalu dibawa ke markas militer Belanda di Bakam, kemudian di bawa ke Belinyu pada tanggal 16 Januari 1851, selanjutnya di bawa ke Mentok. Pada tanggal 28 Pebruari 1851 berangkatlah Amir dan Hamzah kepengasingan di Desa Airmata Kupang Pulau Timor.
Perjuangan tidak berhenti dan terus dilanjutkan di Pulau Timor Propinsi NTT dalam bentuk memberikan petuah dan mengatur siasat dan strategi perang bagi pejuang di Pulau Timor dalam melawan Belanda, melakukan dakwah menyebarkan agama Islam (komunitas muslim yang ada di Pulau Timor adalah keturunan Bahrin dan mereka mendirikan masjid di Bonipoi yang bernama masjid Al Ikhlas), serta memberikan pengetahuan tentang sistem pengobatan tradisional bagi masyarakat setempat. Sejarah perjalanan pembuangan yang dramatis ke Pulau Timor selama 6 (enam) bulan di atas Kapal Uap Unrust dengan terus menerus dirantai dan dikerangkeng serta penderitaan di pembuangan (Desa tempat pembuangannya dinamai dengan Desa Airmata) tidak kalah dengan kisah pembuangan Imam Bonjol, Diponegoro, dan Pahlawan Nasional lainnya. Kalau dilihat dari fakta sejarah di atas sangat jelas bahwa Depati Amir dan Hamzah adalah SALAH SEORANG PEJUANG BANGSA DAN SEBAGAI SALAH SATU SIMPUL DARI SEKIAN BANYAK SIMPUL PEREKAT KEINDONESIAAN.
Setelah 34 tahun kemudian Amir wafat pada tahun 1885 dan Hamzah wafat pada tahun 1900. Keduanya di makamkan di Pemakaman Batu Kadera Kupang. Pengasingan dan Pembuangan adalah cara yang dilakukan oleh Belanda untuk mengakhiri perlawanan dan menjauhkan pengaruh pemimpin terhadap rakyatnya, hak istimewa untuk mengasingkan dan membuang para pejuang disebut dengan EXORBITANTE RECHTEN. Cara Kolonial ini ternyata sangat efektif untuk menumpas perlawanan rakyat di berbagai kerajaan kerajaan tradisional di daerah. Setelah tertangkapnya Amir dan Hamzah perjuangan rakyat Bangka tidak berhenti dan dilanjutkan oleh pejuang pejuang lainnya seperti Batin Tikal, dan bekas panglima panglima perang lainnya. 



Sahabudin Pahlawan Asal Babel
 TAK banyak masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Padahal Sahabudin, pria kelahiran Dusun Tutut Desa Penyamun, Kecamatan Pemali menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan tanah air Republik Indonesia. Sahabudin meninggal di Laut Aru 15 Januari 1962. Sebuah torpedo dari kapal perang Belanda menghantam lambung KRI Macan Tutul. Sahabudin salah satu pejuang yang berada di dalam kapal saat mempertahankan NKRI.
Pengorbanan Sahabudin diabadikan di Markas Komando TNI Angkatan Laut (AL) pusat.
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin pertempuran Laut Aru. Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan, semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut sekitar 10 kilometer dari Sungailiat
 Usai menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
 Sebab pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya yang tak sedikit.
“Tapi tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun Tutut.
Saat menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,” ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai salah satu nama gedung di Mako AL. 
Danlanal Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau dibangun monumen di Pulau Bangka.“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau jasa-jasa para pahlawannya”