Kamis, 11 Oktober 2012
Karya Ilmiah,Non Ilmiah dan semi ilmiah
Tugas
Nama : Zalfika Ammya
NIM : 014994906
Karya Ilmiah,Non Ilmiah dan semi ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain.Jikapun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Terdapat ciri-ciri dalam karya ilmiah yng kita temukan sehari-hari yaitu
1. Empiris Merupakan pembahasan suatu hasil penelitian.
2. yang bersifat metodis dan sistematis.
3. Objektif.
4. Analitis, tulisan ilimiah berusaha membedakan pokok soal kebagian yng lebih detail
5. Verifikatif, mengandung kebenaran ilmiah yang dapat diuji.
MACAM-MACAM KARYA ILMIAH
Artikel ilmiah : Karya tulis yang dirancang untuk dimuat di jurnal atau buku kumpulan artikel, di tulis dengan tatacara ilmiah dan disesuaikan dengan konversi ilmiah yang berlaku
Makalah ilmiah :Karya tulis yang memuat hasil pemikiran tentang masalah, di susun secara sistematis dan runtut dan disertai analisis yang logis dan objektif.
Laporan penelitian : Karya tulis yang berisi paparan proses dan hasil penelitian.
Pada prinsipnya semua karya ilmiah yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Dalam hal ini yang membedakan hanyalah materi, susunan , tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah tersebut,. Secara garis besar, karya ilmiah di klasifikasikan menjadi dua, yaitu karya ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian.
1. Karya Ilmiah Pendidikan
Karya ilmiah pendidikan digunakan tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan. Karya ilmiah pendidikan terdiri dari:
a. Paper (Karya Tulis).
adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.penulisan paper ini agak di perdalam dengan beberapa sebab antara lain, Bab I Pendahuluan , Bab II Pemaparan Data, Bab III Pembahasan atau Analisisdan Bab IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
b. Pra Skripsi
Pra Skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapatka gelar sarjana muda. Karya ilmiah ini disyaratkan bagi mahasiswa pada jenjang akademik atau setingkat diploma 3 ( D-3).Format tulisannya terdiri dari Bab I Pendahuluan (latar belakang pemikiran, permasalahan, tujuan penelitian atau manfaat penelitian dan metode penelitian). Bab II gambaran umum (menceritakan keadaan di lokasi penelitian yang dikaitkan dengan permasalahan penelitian), Bab III deskripsi data (memaparkan data yang diperoleh dari lokasi penelitian). Bab IV analisis (pembahasan data untuk menjawab masalah penelitian). Bab V penutup (kesimpulan penelitian dan saran)
c. Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta- fakta empiris-objektif baik berdasarkan peneliian langsung (observasi lapangan ) maupun penelitian tidak langsung (study kepustakaan)skripsi ditulis sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana S1. Pembahasan dalam skripsi harus dilakukan mengikuti alur pemikiran ilmiah yaitu logis dan emperis.
d. Thesis
Thesis adalah suatu karya ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dari pada skripsi, thesis merupakan syarat untuk mendapatkan gelar magister (S-2).Penulisan thesis bertujuan mensinthesikan ilmu yng diperoleh dari perguruan tinggi guna mempeluas khazanah ilmu yang telah didapatkan dari bangku kuliah master, khazanah ini terutama berupa temuan-temuan baru dari hasil suatu penelitian secara mendalam tentang suatu hal yangmenjadi tema thesis tersebut.
e. Disertasi
Disertasi adalah suatu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta akurat dengan analisis terinci. Dalil yang dikemukakan biasanya dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan-sanggahan senat guru besar atau penguji pada sutu perguruan tinggi, desertasi berisi tentang hasil penemuan-penemuan penulis dengan menggunakan penelitian yang lebih mendalam terhadap suatu hal yang dijadikan tema dari desertasi tersebut, penemuan tersebut bersifat orisinil dari penulis sendiri, penulis desertasi berhak menyandang gelar Doktor.
2. Karya ilmiah Penelitian.
A, Makalah seminar.
1. Naskah Seminar
Naskah Seminar adalah karya ilmiah yang barisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan disampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian pemikiran murni dari penulisan dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar.
2. Naskah Bersambung
Naskah Bersambung sebatas masih berdasarkan ciri-ciri karya ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Bentuk tulisan bersambung ini juga mempunyai judul atau title dengan pokok bahasan (topik) yang sama, hanya penyajiannya saja yang dilakukan secara bersambung, atau bisa juga pada saat pengumpulan data penelitian dalam waktu yang berbeda.
B. Laporan hasil penelitian
Laporan adalah bagian dari bentuk karya tulis ilmiah yang cara penulisannya dilakukan secara relatif singkat. Laporan ini bisa dikelompokkan sebagai karya tulis ilmiah karena berisikan hasil dari suatu kegiatan penelitian meskipun masih dalam tahap awal.
C. Jurnal penelitian
Jurnal penelitian adalah buku yang terdiri karya ilmiah terdiri dari asal penilitian dan resensi buku. Penelitian jurnal ini harus teratur continue dan mendapatkan nomor dari perpustakaan nasional berupa ISSN (international standard serial number).
KARYA NON ILMIAH
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya tidak didukung fakta umum, bahasanya bisa konkret atau abstrak dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal) walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah :
• ditulis berdasarkan fakta pribadi,
• fakta yang disimpulkan subyektif,
• gaya bahasa konotatif dan populer,
• tidak memuat hipotesis,
• penyajian dibarengi dengan sejarah,
• bersifat imajinatif,
• situasi didramatisir,
• bersifat persuasif.
• tanpa dukungan bukti
Macam-macam karya non ilmiah
Dongeng :Merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya.
Cerpen : Suatu bentuk naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang.
Novel : Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita.
Drama : Adalah suatu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh actor.
Roman : Adalah sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan
perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing
karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis,ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semi-ilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi-ilmiah dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.
Ciri-ciri :
Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
Persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
Kritik tanpa dukungan bukti.
Contoh :
Manga, merupakan sebutan untuk komik di Jepang. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan komik masuk pertama kali ke Jepang, tetapi pada mulanya komik Jepang adalah peniruan dari film animasi Walt Disney oleh Ozamu Tezuka (1928-1989) dan merupakan cikal bakal dari komik Jepang modern. Beliau mengekspresikan gerakan film-film animasi Walt Disney ke dalam komik Jepang. Karya-karya beliau setelah akhir perang dunia II membuka era baru untuk komik Jepang.
Sumber sumber :
1. http://hutamigoodgirl.blogspot.com/2010/11/contoh-kalimat-ilmiah-semi-ilmiah-dan_14.html
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah
3. http://noviani26.wordpress.com/2012/03/21/karangan-ilmiah-semi-ilmiah-non-ilmiah/
4. http://achmadfaroby.blogspot.com/2011/03/perbedaan-karangan-imiah-semi-ilmiah.html
• http://noorifada.files.wordpress.com/2008/09/2-mpi-karya-ilmiah.pdf
• http://maizuddin.wordpress.com/2010/05/06/apakah-karya-tulis-ilmiah-itu/
• http://silvergrey23.blogspot.com/2010/11/wacana-non-ilmiah.html
• http://fuad30.blog.friendster.com/2008/10/karya-ilmiah/
• http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/07/karya-ilmiah-dan-non-ilmiah.html
• Aku Cinta Bahasa Indonesia kelas IV , Tiga Serangkai
• http://muthiah-muthiah.blogspot.com/2010/10/wacana-non-ilmiah.html
Selasa, 02 Oktober 2012
Membuat Naskah Berita Radio yang Bernyawa
Membuat Naskah Berita Radio yang Bernyawa
By Jaka
Siaran radio memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan media informasi yang lainnya
Dunia radio masih hidup saat ini meskipun teknologi komunikasi sudah berkembang pesat dengan kehadiran internet dan kemudian bias diakses di telepon cerdas atau smartphone. Semula dengan kemajuan internet, radio dikatakan sudah tamat riwayatnya seperti halnya pernah diramalkan untuk surat kabar dan majalah berita. Namun ternyata radio hidup lebih panjang justru berkat adanya teknologi internet ini siaran radio yang menyampaikan berita lokal seperti di Indonesia dapat dinikmati di mancanegara, jauh melebihi batas teritorial dan kemampuan antene radio.
Selain situs berita radio itu juga bisa dipancarkan melalui teknologi di internet secara langsung, berita yang termuat dalam radio juga bisa dimuat dalam situs di internet. Bahkan rekamannya dalam bentuk MP3 atau podcast bisa diakses, diunduh dan didengarkan kapan saja oleh pendengar.Oleh sebab itulah kehadiran internet menjadi sangat penting dalam dunia pemberitaan. Dan tetap mengukuhkan radio sebagai salah satu medium komunikasi massa yang masih bisa diandalkan. Beberapa keunggulan radio dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya bisa disebutkan sebagai berikut.
1.It is Immediate. Berita dapat dilaporkan lebih cepat melalui radio daripada surat kabar atau televisi karena teknologinya lebih simple. Meski zaman sekarang bisa ditandingi juga dengan media online namun berita radio menampilkan atmosfir nyata dari sebuah peristiwa yang bisa didengar langsung pemirsanya.
2. It is accessible. Radio juga mudah di akses. Kita bisa mendengarkan radio hampir dimanapun. Kita dapat mendengar radio ketika mengendarai mobil atau ketika berada di luar rumah. Teknologi telepon cerdas atau smartphone bahkan memudahkan kita mendengarkan radio dalam segala cuaca tanpa harus membawa-bawa kotak radio. Lebih-lebih lagi kita bisa mengerjakan hal lain sambil mendengarkan radio.
3. It is inclusive. Radio bisa mencapai banyak orang termasuk masyarakat yang miskin, terpinggirkan dan mereka yang belum bisa membaca atau menulis. Suara penyiar atau Reporter radio akan memberikan nuansa lain disamping tentu pengetahuan bagi para pendengarnya.
Dalam penyajian acara dan berita yang disampaikan melalui radio harus dikemas sehingga dapat menarik minat pendengar untuk mengikuti dan menyimak apa yang disampaikan oleh penyiar radio.
Pendengar cenderung menganggap berita radio adalah hal yang membosankan, kaku dan monoton. Kunci utama mengapa sebuah berita radio menjadi membosankan untuk didengar terletak pada kata-kata yang dipilih oleh si penulis berita. Jika si penulis berita kurang tepat memilih kata-kata, maka penyiar atau pembaca berita tidak akan bisa atau akan mengalami kesulitan memberikan nyawa agar berita tersebut nampak hidup pada saat disiarkan.
Contoh Berita : Gempa bumi hebat mengguncang kawasan barat Aceh. Gedung-gedung bertingkat Di Meulaboh dan Banda Aceh terkoyak dan hancur luluh lantak. Gempa yang memukul Meulaboh dengan kekuatan 9,3 pada skala richter ini merenggut nyawa sedikitnya 131. 029 jiwa. gempa bumi yang terjadi pada hari Jum’at 26 Desember 2004,Pukul 7.58 WIB. terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E Koordinat: 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer merupakan gempa terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika
Apa saja yang harus dilakukan oleh seorang scriptwriter agar berita yang ditulisnya bisa hidup sewaktu disampaikan oleh newscaster?
Penggunaan kata kerja
Kata kerja memegang peranan penting dalam penulisan bahasa tutur. Pikirkanlah secara serius, karena pemilihan kata kerja akan mempengaruhi gaya penyampaian.
Contoh: Gempa bumi hebat mengguncang kawasan barat Aceh. Gedung-gedung bertingkat Di Meulaboh dan Banda Aceh terkoyak dan hancur luluh lantak. Gempa yang memukul Meulaboh dengan kekuatan 9,3 pada skala richter ini merenggut nyawa sedikitnya 131. 029 jiwa.
Hati-hati menggunakan kata sifat
Penulisan naskah naratif dan deskriptif, akan banyak ditolong oleh penggunaan kata sifat. Namun perlu dihindari penggunaan kata sifat yang bisa menimbulkan berbagai macam persepsi karena justru dapat mengaburkan pesan yang ingin kita sampaikan.
Contoh :
besar -> sebaiknya rincikan besarnya seperti apa
berwarna-warni -> sebaiknya sebutkan apa saja warnanya
drastis -> sebaiknya dijelaskan seberapa drastis dan lain sebagainya
Gunakan kalimat aktif
Dalam membuat bahasa tutur, penggunaan kalimat aktif adalah yang terbaik. Susunan kalimat aktif ‘Subyek - Predikat - Obyek’ akan mempermudah pemahaman naskah yang akan dibaca, sehingga newscaster akan menjadi lebih lancar dalam menyampaikan sebuah kalimat berita.
Contoh :
Bukan : 131. 029 jiwa jiwa direnggut dalam gempa berkekuatan 9,3 skala richter di Aceh
Tetapi : Gempa berkekuatan 9,3 skala richter merenggut 131. 029 jiwa di Aceh
Gunakan kalimat ‘kini’ atau present tense
Teorinya, sebuah berita radio menyajikan apa yang baru saja terjadi, apa yang sedang terjadi dan kira-kira apa yang akan segera terjadi. Sehingga lebih tepat jika sebuah naskah berita radio disusun dengan menggunakan present tense. Penggunaan kalimat yang mengesankan bahwa sebuah peristiwa sedang terjadi akan menimbulkan kesan bahwa berita yang kita siarkan adalah berita fresh dan menjadi hal yang menyegarkan di telinga pendengar.
Sedangkan susunan kalimat yang menggambarkan kejadian kemarin (past tense) dan yang akan datang (future tense) lebih cocok digunakan oleh jurnalis media cetak.
Contoh:
Bukan : Gempa bumi dahsyat telah mengguncang Aceh.
Tetapi : Gempa bumi dahsyat mengguncang Aceh.
Bukan : China akan menjadi tuan rumah olimpiade 2008
Tetapi : China menjadi tuan rumah olimpiade 2008
Bumikan kalimat dengan bahasa sehari-hari
Penggunaan bahasa sehari-hari akan membuat berita kita membumi, lebih akrab dengan telinga pendengar dan menambah vitalitas dari berita yang kita sampaikan. Caranya adalah dengan menyederhanakan bahasa formal, baik kata-kata maupun frasa yang kita jumpai dalam sebuah berita.
Contoh:
Bukan: Banjir telah membuat bengkel mendapat banyak pesanan untuk menservice banyak mobil yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Tetapi: Bengkel kebanjiran order memperbaiki mobil yang rusak terkena banjir.
Rasakan, bahasa sehari-hari seperti ‘kebanjiran order’ justru lebih ‘bernyawa’ dibandingkan dengan bahasa resmi.
Hindari bentuk negatif
Seperti halnya penggunaan kalimat aktif, sebuah naskah berita radio akan lebih mudah dipahami dan dibawakan oleh newscaster jika dibuat dengan menggunakan kalimat positif. Untuk itu rubahlah kalimat negatif menjadi positif, terutama pada saat membuat kalimat awal atau lead berita.
Contoh:
Bukan : Jika pemerintah tidak mengurangi subsidi BBM, sektor keuangan dan perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada tahun 1997 silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
Tetapi : Pemerintah mengurangi subsidi BBM. Jika hal ini tidak dilakukan, sektor keuangan dan perekonomian Indonesia bisa mengalami krisis hebat seperti pada tahun 1997 silam dan yang paling menderita adalah rakyat.
Berikan tanda baca yang benar
Selain titik, koma, dan tanda tanya, tanda baca yang lazim digunakan dalam penulisan naskah radio adalah slash ‘/’ sebagai tanda jeda dan double slash ‘//’ untuk berhenti atau mengakhiri sebuah kalimat dan Triple slash untuk mengakhiri berita. Penggunaan tanda baca yang benar dan pada tempatnya, akan membantu penyiar dalam menyampaikan pesan yang tertulis melalui naskah. Selain agar pendengar bisa menangkap dengan tepat apa yang disampaikan oleh penyiar. Penggunaan tanda baca juga akan membantu penyiar dalam menata suara dan melagukan susunan kalimat yang disiarkan.
Seorang newscaster diharuskan membaca terlebih dahulu naskah berita atau tulisan yang akan disiarkannya dan biasakan untuk memberikan tanda secara pribadi, seperti garis bawah atau tanda-tanda tertentu dibagian yang harus diberi penekanan, dibaca dengan intonasi naik atau turun dan lain sebagainya.
Sampai atau tidaknya berita Radio kepada pendengar tidak hanya tergantung pada penulis berita tetapi kemampuan penyiar(newscaster) sangat menentukan.sebaik-baiknya teks berita jika tidak pas pemenggalan kalimat ketika berita dibacakan akan membuat pendengar semakin bertanya-tanya dengan berita tersebut.
sumber: Berbagai sumber tentang Radio dan Berita Radio.
DRAMATUGI ADALAH KOMUNIKASI
DRAMATUGI ADALAH KOMUNIKASI
Sebelum
menjelaskan tentang pola interaksi yang salah satunya dapat ditentukan
oleh definisi situasi dengan pendekatan dramaturgi terlebih dahulu kita
pahami tentang dramaturgi itu sendiri. Kenneth Duva Burke(May
5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan
filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami
fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan
kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis
untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa
yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa
sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke,
1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman
(11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan
penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya
dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan
terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.
Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau
pertunjukan fiksi diatas panggung yang diperkenalkan oleh Aristoteles.
Sekitar tahun 350 SM yang sampai sekarang masih menjadi acuan didunia
panggung pertunjukan yang dikenal dengan aristotelian drama” (drama ala Aristoteles)
DRAMATURGI itu KOMUNIKASI
Bila Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life
yang menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam
pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita
sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor
menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara
yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada
pertunjukan yang ditampilkan. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton
akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh
aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk
mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai
bentuk lain dari komunikasi.dengan demikian komunikasi dikatakan sebagai
alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia
berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal
untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti
kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep
menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai
yang kita mau. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia
ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada
tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran
merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya
kesepakatan tersebut. dramatugis mempelajari konteks dari perilaku
manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari
perilakunya tersebut
“Dengan
konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia,
terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian
memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung
pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian
masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak
kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan,
menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil
sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya.
Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan
panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru
membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya.” (makalah Yenrizal (IAIN Raden Fatah, Palembang pada Annual Conference on Islamic Studies, Bandung, 26 – 30 November 2006: ),
KITA adalah AKTOR
Identitas
manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang
lain. Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak
stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan
psikologi yang mandiri.Menurut konsep Dramaturgi manusia akan
mengembangkan prilakunya yang mendukung perannya untuk mencapai tujuan
dan menyiapkan properti pendukung (setting, kostum, dialog dan tindakan non verbal lain) yang disebut Goffman, tindakan “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah
adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian
pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita
sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Berbeda
ketika kita berada dibelakang panggung kita dapat berprilaku bebas
tanpa mempedulikan plot alur cerita. Contohnya, seorang scurity Bank
senantiasa berpakaian rapi membukakan pintu menyambut Nasabah dengan
ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat
istirahat siang, sang scurity bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya (merokok, dsb). Saat scurity menyambut Nasabah, merupakan saat front stage baginya
(saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut Nasabah dan
memberikan kesan baik Bank kepada nasabah /tamu tersebut. Oleh
karenanya, perilaku sang scurity juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen Bank. Saat istirahat makan siang, sang scurity
bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan
tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen Bank adalah
bagaimana sang sang scurity tersebut dapat refresh untuk
menjalankan perannya di babak selanjutnya. Sebelum berinteraksi dengan
orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan
yang ingin ditangkap oleh orang lain. Dengan konsep dramaturgis dan
permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana
dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri.
Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial
masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu
beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan.
Apa
yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah
realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan
yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan
berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula
faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial
psikologis yang melingkupinya.
DRAMARTURGI HANYA DAPAT BERLAKU DI INSTITUSI TOTAL
Institusi total
maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh
sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang
terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai
sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang
berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan
oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya,
sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin
tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan,
penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa,
biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat
berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan
tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di dalam
institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk
diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang
ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus
dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.
MENIHILKAN “KEMASYARAKATAN”
Teori ini juga
dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu
kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”.
Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.
Dianggap condong kepada Positifisme
Dramaturgi
dianggap terlalu condong kepada positifisme(pemikiran Auguste Comte pada
abad ke 19. positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan
berdasarkan sains) Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara
ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem yang
mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.
ANALISA DRAMATURGI
Dramaturgis masuk dalam Perspektif Obyektif
Dramaturgis
dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung
melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal
ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi
subyektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran
tersebut manusia berlaku objektif, berlaku natural, mengikuti alur.
Misalnya, pada kasus Kekerasan pada Rumah Tangga (“KDRT”),
saat perilaku kekerasan itu hendak terjadi, korban sebenarnya memiliki
pilihan, berserah diri atau melakukan perlawanan. Bila ia memberontak
maka konsekuensinya adalah ini dan bila ia pasrah maka akibatnya seperti
itu. Proses subyektif ini akan beralih menjadi obyektif saat ia
menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah
pasrah karena ia takut kalau ia melarikan diri konsekuensinya lebih
parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada tersangka dan
mengkhawatirkan nasih anaknya bila ia melawan. Maka, setelah itu ia akan
menjalani perannya sebagai korban. Secara naluriah ia akan menutupi
bagian tubuhnya yang mungkin menjadi sasaran kekerasan. Atau ia berusaha
untuk menutupi telinganya untuk melindungi mental dan psikologisnya.
Itulah mengapa dramaturgi di sebut memiliki muatan objektif. Karena
pelakunya, menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui
langkah-langkah yang harus dijalani.
Pendekatan Keilmuan Little John – Pendekatan Scientific (ilmiah – empiris)
Seperti
telah dijabarkan diatas, Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari
proses dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Ini merupakan asas
dasar dari penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan scientific(Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas.
Objektivitas yang dimaksudkan di sini adalah objektivitas yang
menekankan prinsip standardisasu observasi dan kosistensi. Landasan
philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan
struktur) Obyektifitas yang digunakan disini adalah karena institusi
tempat dramaturgi berperan adalah memang institusi yang terukur dan
membutuhkan peran-peran yang sesuai dengan semangat institusi tersebut.
Institusi ini kemudian yang diklaim sebagai institusi total sebagaimana
telah dijabarkan sebelumnya. Bahwa hasil dari peranan itu sesungguhnya,
bila proses (rumusnya) dijalankan sesuai dengan standar observasi dan
konsistensi maka bentuk akhirnya adalah sama. Contohnya, bila seorang
pengajar mempraktekkan cara mengajar sesuai dengan template
perguruan tinggi maka kualitas keluaran perguruan tinggi tersebut akan
menghasilkan kualitas yang bisa dikatakan relatif sama. Atau untuk
contoh scurity Bank diatas, bila scurity Bank dapat
memainkan skenario penyambutan tamu Nasabah Bank, niscaya tamu akan
merasa dihargai, dihormati, senang dan bersedia untuk datang kembali di
Bank tersebut.
Jumat, 21 September 2012
NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG
NGANGGUNG TRADISI BANGKA BELITUNG
Setiap masyarakat tentunya memiliki agama sebagai
kepercayaan yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan
hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan.
Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut
memelihara dan melestarikan budaya yang ada.Kebudayaan sebagai hasil dari
cipta, karsa dan rasa manusia
menurut Alisyahbana; merupakan suatu keseluruhan yang
kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.(
1 Bustanudin Agus, Islam dan Pembangunan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2002), hal. 15)
Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana,
ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi
suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam
kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga
masyarakatnya. (2 Atang Abdullah
Hakim Dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2006),
cet.
kedelapan, hal. 28)Tradisi sebagai salah satu bagian dari kebudayaan
menurut pakar hukum F. Geny adalah fenomena yang selalu merealisasikan
kebutuhan masyarakat. Sebab yang pasti dalam hubungan antar individu, ketetapan
kebutuhan hak mereka, dan kebutuhan persamaan yang merupakan asas setiap
keadilan menetapkan bahwa kaidah yang dikuatkan adat yang baku itu memiliki
balasan materi, yang diharuskan hukum. Kaidah ini sesuai dengan naluri manusia
yang tersembunyi, yang tercermin dalam penghormatan tradisi yang baku dan
perasaan individu dengan rasa takut ketika melanggar apa yang telah dilakukan
pendahulu mereka(3 Koentjaraningrat,
Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), cet. kedelapan,
hal. 190. )
Menurut Hardjono dalam I Nyoman Beratha memberikan ulasan
singkat bahwa tradisi adalah suatu pengetahuan atau ajaran-ajaran yang
diturunkan dari masa ke masa. Ajaran dan pengetahuan tersebut memuat tentang
prinsip universal yang digambarkan menjadi kenyataan dan kebenaran yang
relatif. Dengan demikian segala kenyataan dan kebenaran dalam alam yang lebih
rendah itu adalah peruntukan (application) daripada prinsip-prinsip universal. (4 Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan,
Peradilan & Adat dalam Islam, penerjemah: H. Asmuni, (Jakarta: Khalifa,
2004), cet. petama, hal. 512. )
Sedangkan menurut Harapandi Dahri, tradisi didefinisikan
sebagai berikut:
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang teraplikasikan secara
terus-menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah
komunitas. Awal-mula dari sebuah tradisi adalah ritual-ritual individu kemudian
disepakati oleh beberapa kalangan dan akhirnya diaplikasikan secara
bersama-sama dan bahkan tak jarang tradisi-tradisi itu berakhir menjadi sebuah
ajaran yang jika ditinggalkan akan mendatangakan bahaya.
(5
I Nyoman Beratha, Desa, Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1982), hal.
22.
)Tradisi-tradisi tersebut dapat disaksikan pada; ’Upacara Tawar
Laut/Ketupat Laut’, ’Tahun Baru Cina’, ’Sembahyang Kubur Cina’, ’Sembahyang
Pantai’, ’Kawin Massal’,Perang Ketupat’, ’Mandi Belimau’, ’Sedekah
Kampung’,’Rebo Kasan’, ’Nganggung’ dan lainnya yang dilakukan di Kepulauan
Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan sebagai pengungkapan atas rasa syukur
terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, yang kental dengan
nuansa keagamaan. Pewarisan tradisi tersebut dapat terjadi melalui pertunjukkan
upacara adat pada suatu masyarakat.
Sejalan dengan pengertian di atas, upacara di sini merupakan
sumber pengetahuan tentang bagaimana seseorang bertindak dan bersikap terhadap
suatu gejala yang diperolehnya melalui proses belajar dari generasi sebelumnya
dan kemudian harus diturunkan kepada generasi berikutnya.Ritual keagamaan yang
dibungkus dengan bentuk tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan
berkelanjutan dalam periodik waktu tertentu, bahkan hingga terjadi akulturasi
dengan budaya lokal. Seperti apa yang diperlihatkan masyarakat Bangka
Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa
dijumpai di Bangka. Karena itu tradisi nganggung dapat dikatakan salah satu identitas
Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong
royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.Nganggung atau Sepintu
Sedulang merupakan warisan nenek moyang yang
mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan
gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke
masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung. Adapun nganggung
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati
hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang
meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung
adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke
masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual
agama. Makanan
tersebut dibawa dengan cara di "anggung" (dipapah di bahu)
menggunakan dulang yang ditutup dengan tudung saji pandan atau daun nipah khas
Bangka yang warnanya semarak dengan motif yang khas pula. Itu sebabnya
Kepulauan Bangka Belitung disebut juga "Negeri Sepintu Sedulang".
Meski demikian, ada juga beberapa daerah yang membawa makanan tersebut dengan
rantang. Meski begitu, tetap saja dinamakan nganggung karena intinya pada saat
acara makan-makan bersamanya.
Selain untuk menyambut dan merayakan hari-hari besar keagamaan,
nganggung juga dilakukan untuk menyambut tamu kehormatan, seperti gubernur,
bupati atau tamu kehormatan lainnya. Untuk menghormati tamu istimewa yang
datang tersebut. Biasanya masyarakat menyambut dan menjamu tamu secara
bergotong royong yaitu dengan tradisi nganggung ini. Nganggung juga sering
dilakukan sebagai ungkapan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu
warga. Pada 7 hari setelah masa berkabung biasanya masyarakat juga melaksanakan
ritual tahlilan yang diikuti dengan tradisi nganggung untuk menjaga solidaritas
dan turut membantu yang terkena musibah. Dengan tradisi ini kita dapat
menunjukkan rasa kepedulian, kebersamaan, gotong royong dan selalu menjaga
serta menjalin tali kekeluargaan dan hubungan silaturrahim antara sesama. Dari
ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan
dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat
melainkan juga dengan para pendatang.Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup
tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota
warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu
Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara
adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini
lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah
mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar. Waktu pelaksanaan nganggung
biasanya bervariasi , tidak mutlak harus sama antara satu desa dengan desa yang
lain , tergantung kesepakatan bersama antara penduduk desa masing-masing. Ada
desa yang menyelenggarakan nganggung selepas maghrib , ada yang
menyelenggarakannya jam 07.00 .Ada pula yang menyelenggarakan kegiatan ini jam
10.00 pagi , setelah paginya masyarakat bergotong royong membersihkan mesjid
.Dan ada pula desa yang melakukan kegiatan nganggung ini pada jam 16.00 ,
setelah sholat ashar .
Perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan
ditentukan oleh
tiga fungsi berikut:
Cipta (Reason)
merupakan fungsi intelektual jiwa manusia. Melalui cipta
manusia dapat manilai dan membandingkan dan selanjutnya memutuskan suatu
tindakan terhadap stimulan tertentu. Cipta berperan untuk menentukan benar atau
tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
Rasa(Emo tio n )
adalah suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan
dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang. Rasa menimbulkan
sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
Karsa(Will )
merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Karsa
berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin sebagai ajaran agama
berdasarkan fungsi kejiwaan yang menimbulkan amalan-amalan atau praktik
keagamaan yang benar dan logis.
Dalam acara nganggung ini, setiap kepala keluarga membawa
dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium
dan ada juga yang terbuat dari kuningan,timah atau kayu dan. sekarang sudah
agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang. sekarang
ada pula yang terbuat dari pelastik Didalam dulang ini tertata aneka jenis
makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi
dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang
ini ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun, sejenis pandan, dan di
cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid,
atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati
bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan
rasa bangga.
Laki-laki Perwakilan dari setiap rumah berbondong-bondong membawa
dulang mereka ketempat yang sudah disepakati dengan sebelah tangan setinggi
bahu atau sengaja menjadikan bahu sebagai penopang Dulang.Setelah tiba ditempat
panitia akan menerima dulang dan meletakkannya dengan rapi biasanya akan
bertukaran dulang dengan maksud saling menikmati makanan tapi bukan makanan
yang kita bawa sendiri dari rumah.Masyarakat yang mengikuti nganggung duduk
berbaris saling berhadapan.dan tiantara mereka terdapat dulang yang berisi
makanan.Selain masyarakat kampung tak jarang pula orang dari kampung/Desa lain
ikut dalam acara ini atau para tau yang sengaja diundang untuk menghadiri acara
nganggung. Sedangkan masyarakat yang tidak ingin mengikuti acara nganggung di
masjid atau balai desa juga dapat menikmati hidangan dirumah warga.khususnya
pada acara nganggung tertentu seperti peringatan hari besar agama,pesta
panen,atau sedekah kampung.
Namun dalam perkembangannya sekarang, kegiatan nganggung
yang masih eksis dipertahankan hanya pada saat memperingati hari besar agama
Islam, dan menyambut tamu kehormatan saja. Dengan semakin majunya zaman tradisi
membawa dulang yang berwarna-warni diatas bahu dengan berjalan kaki menuju
tempat nganggung berganti dengan kendaraan bermotor.begitupun dengan dulang
sebagai tempat makanan nganggung berganti pula dengan rantang seng atau plastik
hal ini mungkin dikarenakan masyarakat bangka belitung tidak memiliki dulang
dan tudung saji sebagai pemanis suasana nganggung atau sulitnya mencari dulang
serta tudung saji yang tempat tumbuh bahan bakunya semakin berkurang tergerus
dengan lahan tambang timah yang semakin meraja lela.
Kemudian Yang menjadi tanda tanya adalah seberapa besar
potensi pariwisata pada ritual adat istiadat tersebut. Tentu saja semua
perhelatan budaya mempunyai nilai wisata yang sangat besar apabila
dioptimalkan. Tidak ada budaya yang tidak mempunyai nilai wisata. Dalam hal ini
tentu saja ritual adat sepintu sedulang tersebut bisa dijual atau dikomersilkan
sebagai potensi wisata pulau Bangka. Hal tersebut tentu saja apabila ritual
tersebut dikemas dengan sedemikian rupa sehingga bisa dikatakan layak untuk
menarik minat wisatawan untuk berperan andil dalam ritual tersebut.
Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang
dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan Pangkal pinang pada acara
Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong.
(Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta Budaya Bangka Buku I th 1995
SEDEKAH KAMPUNG
Sebelum menjelaskan pengertian Sedekah Kampung, terlebih
dahulu diuraikan makna sedekah pada umumnya dan pemaknaan terhadap kampung itu
sendiri. Sedekah atau kenduri adalah konsep yang paling umum dipakai baik untuk
perayaan tanda syukur maupun peringatan tanda duka cita. Sedekah sebagai tanda
syukur dilaksanakan untuk merayakan kelahiran, khitanan, perkawinan, pindah
rumah, habis panen, terhindar dari bahaya, dan sebagainya. Sedekah dilakukan
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan rizki dan
kasih sayang kepada yang mnyelenggarakan sedekah dan permohonan agar senantiasa
diberi keselamatan dan perlindungan kepada yang melaksanakan sedekah dan semua
anggota masyarakat pada umumnya.Kampung atau yang sering disebut dengan desa,
merupakan kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu,
terletak di bawah kecamatan; berkaitan dengan kebiasaan di kampung. Sedangkan
menurut Bouman yang dikutip oleh Beratha, mendefinisikan desa dari segi
pergaulan hidup:
Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama
sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal; kebanyakan yang
termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dan sebagainya,
usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Dan dalam
tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat, ketaatan
pada tradisi dan kaidah-kaidah sosial.
Sedekah Kampung adalah upacara adat yang dilakukan untuk
mengungkapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Sang
Pencipta, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan
berbagai ritual yang terkandung dalam tradisi atau kebiasaan masyarakat kampung
yang telah mengakar. Juga dimaknai sebagai kebiasaan atau tradisi yang turun
temurun dilakukan, hingga menjadi bagian dari budaya dengan menyediakan makanan
di suatu tempat yang telah ditentukan dan di rumah masing-masing masyarakat
setempat, dengan dilakukan berbagai aktivitas atau kebiasaan kedaerahan sesuai
dengan daerah masing-masing yang bisa disebut dengan adat.
Sedekah kampung sebagai tradisi atau kebiasaan dari sebuah
budaya merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia. Manusia sebagai khalifatu
fii al-Ard (pewaris nenek moyang) merupakan suatu ikatan yang tidak lepas dari
kebudayaan. Kebudayaan sebagaimana telah dikemukakan oleh Geertz dapat dilihat
pada peristiwa-peristiwa publik seperti ritual, festival atau perayaan tertentu
karena pada peristiwa-peristiwa tersebut orang mengekspresikan tema-tema
kehidupan sosial melalui tindakan simbolik. Tindakan tersebut mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia
sebagai anggota masyarakat.Di dalam kehidupan, budaya ternyata mengalami proses
seperti proses biologi, artinya budaya juga mengalami masa-masa lahir,
berkembang, surut, dan bahkan hilang sama sekali. Pasang surutnya budaya
tersebut tergantung padasta b ilita s sosial kehidupan manusia, karena budaya
menyatu dan melekat dalam kehidupannya. Dengan kata lain, budaya merupakan
identitas bagi manusia, kalau budaya suram tentunya identitas tersebut akan
kabur dan jika ia tereleminasi sama dengan tidak berbudaya lagi.
Budaya sebagai warisan bangsa yang dapat dirasakan sampai
sekarang (cultural
heritage) mempunyai beberapa kandungan nilai yang sangat
berharga bagi kelangsungan
suatu bangsa atau etnis tertentu. Sedekah Kampung sebagai
budaya lokal yang merupakan warisan generasi sebelumnya memiliki nilai-nilai
budaya yang mampu melindungi aspek kehidupan lainnya, seperti kehidupan
politik, sosial, ekonomi, dan religius. Di antara kandungan-kandungan yang
sudah disepakati dalam budaya daerah antara lain adanya:
1. Identifikasi daerah (local identification). Sudah disebut
di atas bahwa budaya menjadi identifikasi suatu bangsa atau etnik;
2. Kearifan daerah (local wisdom). Sikap arif dapat
dipastikan dimiliki oleh setiap daerah karena walaupun berbeda daerah tetap ada
hal-hal yang bersifat umum;
3. Pencerdas daerah (local genius). Hampir setiap masyarakat
ada minoritas yang memiliki kemampuan berpikir yang luas. Merekalah sebenarnya
obor masyarakat yang akan membawa kemana masyarakat pergi. pemikiran mereka itu
akan dijadikan oleh pelaksana pemerintahan yang kemudian diikuti oleh
masyarakatnya;
4. Budaya kreatif (creative culture). Sebagai kelanjutan
dari minoritas kreatif tentunya mereka yang sudah ada dalam ranah budaya
kreatif akan menghasilkan kreasi-kreasi baru. Kreasi inilah yang menyambung
kehidupan budaya yang telah ada;
5. Kemandirian budaya (cultural independence). Keberadaan
suatu budaya sejak awalnya adalah kreasi elit yang merupakan minoritas kreatif
yang dalam kelangsungannya didukung oleh kekuasaan politik dan ekonomi.
Kait-mengait antarfaktor itu tidak dapat dilepaskan. Namun, faktor-faktor itu
hidup dalam suatu daerah yang sudah merupakan kebulatan. Oleh karena itu, kebulatan
budaya harus dijaga supaya kelestariannya berjalan menggenerasi;
6. Iklim sosio-kultural (socio-cultural sphere). Lajunya
modernisasi di semua bidang kehidupan diperlukan iklim sosial budaya yang
mendukung agar masyarakat sebagai pemilik warisan budaya itu secara sadar
melakukan pelestarian budaya.
Perayaan Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun
temurun dan tidak diketahui asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Sebelum
pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat
(dukun) mengadakan ceriak (bermusyawarah dengan melakukan
pemanggilan orang-orang kampung oleh dukun yang tujuannya untuk menentukan
waktu pelaksanaan Sedekah Kampung.) pemanggilan
orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya upacara adat dan
menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara tersebut. Pada tanggal
yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu penduduk
setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan bahan-bahan
tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari buluh (bambu). Menurut sang
dukun dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat untuk menarik minat
orang-orang cina yang berdiam di desa tersebut agar memeluk agama Islam.Setelah
persiapan, seperti; batu persucian (taber) dan gaharu selesai, kemudian pada
hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan
makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti;
ayam dan bebek untuk diperebutkan setelah ritual upacara permohonan izin
dilakukan. Semua peralatan telah dipersiapkan,bersama penduduk arak-arakan
menuju Istana(sebutan masyarakat
terhadap makam keturunan tetua adat yang dijadikan sebagai tempat ritual
upacara permohonan izin untuk melaksanakan Sedekah Kampung (makam leluhur yang
merupakan kakek buyut tetua adat )dengan diiringi semarang
(selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan sedekah
kampung. Setelah sampai di sana, sang dukun kemudian duduk di atas makam
bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta
hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan
mantera. Setelah pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik ke atas
makam dan memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada di atas
makam tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan dengan penampilan silat yang
dilakukan oleh dua orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya
melakukan pemberianta n g kel (jimat) di empat penjuru, dimulai dari istana
tersebut menuju gerbang pintu masuk ke desa sampai akhir perbatasan desa
tersebut. Pemberian jimat ini dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk
gangguan dari luar yang tidak menginginkan acara ini berlangsung.
Dalam pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan
yang harus dipatuhi oleh semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual
ini, yaitu duduk di atas pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun di
atas pagar dan bermain senter. Menurut penduduk, apabila pantangan tersebut
dilanggar, maka akan didatangi oleh makhluk- makhluk halus dan mengubahnya
menjadi tepuler (kepala dengan wajah terbalik ke belakang). Untuk tetua adat
selama acara berlangsung, tidak boleh makan dan minum (berpuasa).
Setelah selesai dilaksanakan sedekah kampung
diikuti dengan nganggung kegiatan seperti ini masih dilaksanakan didesa
peradong tempilang air anyir,limbung jada bahrin dan beberapa desa lain di
Bangka Belitung.
Sumber :
-Tokoh masyarakat dalam dialog yang
dilakukan penulis secara langsung pada Stasiun Radio di sungailiat dan Pangkal pinang pada acara
Budaya daerah.
- Tradisi sedekah kampung peradong.
(Suryan Masrin 2010)
- Kapita selekta Budaya Bangka Buku I th 1995
Selasa, 28 Agustus 2012
PAHLAWAN MASA KINI
PAHLAWAN BANGKA BELITUNG
Peringatan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke
67 ini membawa kita untuk mengingat jasa para pahlawan. Definisi pahlawan yang
begitu luas, membuat banyak orang menginterpretasikan arti pahlawan yang
berbeda-beda. Pahlawan di masa sebelum
kemerdekaan diartikan sebagai seseorang yang membela tanah air sepenuh jiwa dan
raga serta mengorbankan harta dan nyawanya demi kemerdekaan negara Indonesia
tercinta. Tetapi, setelah masa kemerdekaan seperti ini, dimana masa peperangan
sudah berakhir, seperti apakah yang layak dikatakan sebagai seorang pahlawan ?
Kata kunci pertama berkorban(keikhlasan) mencakup beberapa hal.
Pengorbanan seorang pahlawan tidak selalu identik dengan pengorbanan harta atau
nyawa yang dilakukan oleh para pahlawan perjuangan kita mewujudkan kehidupan
bangsa yang lebih baik yaitu kehidupan yang merdeka. Seorang pelajar yang giat
belajar saja sudah dapat disebut sebagai pahlawan karena dia telah berkorban
waktu keluar dari zona kenyamanan dia untuk bersantai-santai dan bermain
ke zona ketidaknyamanan mengerutkan kening mempelajari setiap pelajaran.
Seorang pelajar yang giat belajar tersebut juga berusaha mengubah keadaan
menjadi lebih baik karena dengan belajar karena dengan ilmunya kelak dia dapat
mengubah takdir dirinya, keluarganya, bahkan bangsanya menjadi lebih baik.Seorang
jaksa juga bisa disebut sebagai pahlawan apabila dia menolak disuap untuk
memenangkan suatu perkara peradilan. Sebaliknya dia akan disebut sebagai
pengkhianat apabila menerima suap tersebut. Bukan perkara mudah untuk menolak
suatu suap. Butuh iman yang sangat kuat untuk menolak uang miliaran rupiah yang
besarnya jauh berkali-kali lipat dari gaji yang diterima tiap bulan. Dengan
penuh ketekadan untuk selalu berbuat adil dan menganggap suap adalah perbuatan
yang merugikan banyak orang.
Dengan begitu mudahnya seseorang menjadi seorang pahlawan ini
hendaknya menjadikan setiap elemen bangsa kita berlomba-lomba untuk menjadi
seorang pahlawan. Kesanggupan kita untuk menjadi seorang pahlawan dapat
ditanyakan pada diri kita sendiri.
Beberapa waktu lalu, terjadi kontroversi untuk
pemberian gelar pahlawan Berbagai pendapat muncul terhadap beberapa orang yang
akan diberikan gelar pahlawan tersebut. Ada yang mengatakan ia memiliki jasa
yang begitu besar terhadap Indonesia sehingga pantas mendapatkan, terlepas
melihat sisi lain dari kehidupannya, tetapi ia dikatakan memang pantas mendapat
gelar pahlawan. Pendapat lain mengatakan, perbuatannya sungguh tidak
memungkinkan bila ia diberi gelar pahlawan, terutama bagi orang-orang yang
merasakan hidup pada zaman tersebut.DI ZAMAN perjuangan kemerdekaan, mereka yang layak disebut pahlawan adalah
“Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani”. Ini juga tertulis di Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Pahlawan zaman dahulu, memang memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia. Manfaatnya begitu besar dirasakan. Masyarakat memang mengakui hal tersebut tanpa ada kontroversi yang berlebihan seperti sekarang ini, karena memang mereka semua murni berjiwa pahlawan bagi Indonesia. Mereka memang berjuang sepenuh jiwa raga dan tanpa pamrih melakukan hal tersebut.
Era globalisasi seperti ini, mungkin kata pahlawan itu sekarang sudah sangat jarang digunakan. Para pahlawan-pahlawan pun dikenang hanya pada saat-saat tertentu, padahal jasa-jasa mereka untuk Indonesia begitu besar. Tetapi, pahlawan itu selalu identik dengan hal-hal yang berbau peperangan. Bagaimana dengan seseorang yang membela bangsa Indonesia, mengharumkan nama besar Indonesia di kancah Internasional tanpa mengeluarkan setetes darah karena mereka berjuang dengan menggunakan otot dan pikiran mereka. Sebagai contoh, para atlet yang berjuang untuk Indonesia yang pada saat itu memenangkan kejuaraaan dunia otomatis pada saat itu nama Indonesia begitu besar, mereka di eluk-elukan karena kemenangannya, tetapi apa yang terjadi pada masa sekarang, banyak orang-orang yang tidak mengetahui mereka terutama para generasi muda. Padahal seharusnya mereka tahu, bahwa Indonesia pernah melakukan hal tersebut. Contoh lain adalah para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang memenangkan berbagai olimpiade keilmuan baik dibidang sains maupun sosial, jasa mereka begitu berharga tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga dunia karena pemikiran mereka yang sangat berguna. Untuk itu layakkah mereka semua dikatakan sebagai seorang pahlawan? Tentu jasa-jasa mereka juga tidak akan kita lupakan.
Menjadi seorang pahlawan untuk masa sekarang ini, bukanlah mencari gelar untuk dikatakan pahlawan, tetapi bagaimana kita dapat sebesar mungkin memberikan kontribusi bagi Indonesia tanpa mengharapkan pamrih karena sebenarnya gelar pahlawan itu akan diberikan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan dari Nya pula kita akan mendapatkan balasannya.
Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009
“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia”
Syarat umum pemberian gelar pahlawan
Menurut Pasal 24-26 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seseorang harus memenuhi persyaratan umum dan khusus untuk mendapat gelar pahlawan. Syarat umumnya, seorang calon pahlawan haruslah warga negara Indonesia (WNI) atau seseorang yang berjuang di wilayah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) yang juga memiliki integritas moral dan keteladanan. Calon pahlawan juga harus setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, berkelakuan baik, dan tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan atau diancam pidana penjara di atas lima tahuum pemberian gelar pahlawan
Syarat khusus pemberian gelar pahlawan
Adapun syarat khusus pada pasal 26 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, Dan Tanda Kehormatan, harus dipenuhi calon pahlawan adalah selama masa hidupnya, dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, dia pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara serta pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Konsekuensi
a.Konsekuensi dari definisi di era orde baru yaitu, siapa saja bisa jadi pahlawan. Jadi, ada pahlawan budaya, pahlawan seni, pahlawan lingkungan dan pahlawan ini pahlawan itu
b. Konsekuensi lain yaitu, karena gelar pahlawan diberikan tiap tahun, maka suatu saat nanti Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki pahlawan.
c.Konsekuensi berikut, definisi terlalu luas. Dan akhirnya menjadi kabur.
d.Karena gelar diberikan oleh pemerintah, maka bisa saja terjadi politisasi pemberian gelar. Walaupun itu berdasarkan usulan masyarakat, maka pertanyaannya adalah masyarakat yang mana? Apakah masyarakat selalu punya pendapat yang sama?
( DEPATI HAMZAH,BATIN TIKAL DAN
DEPATI BAHARIN)
Amir adalah putera sulung Depati
Bahrin (Wafat tahun 1848), sedangkan Hamzah adalah adik atau saudara kandung
Amir. Sebagai putera sulung, Amir menjadi Depati diangkat oleh Belanda karena
ketakutan Belanda akan pengaruhnya yang besar di hati rakyat Bangka. Jabatan
Depati yang diberikan Belanda kepada Amir atas daerah Mendara dan Mentadai
kemudian ditolaknya, akan tetapi gelar Depati tersebut kemudian tetap melekat
pada diri Amir dan kemudian kepada Hamzah karena kecintaan rakyat kepada
keduanya, disamping kehendak kuat rakyat Bangka yang membutuhkan pigur
Pemimpin. Sejak perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Bahrin (Tahun
1820-1828), Amir dan Hamzah sebagai putera Bahrin, sudah menjadi panglima
Perang dan menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik, yaitu sifat yang tegas,
berani, cerdas dan cakap.
Amir
dan Hamzah membangun markas besarnya di daerah Tampui dan Belah serta di kaki
Gunung Maras, namun secara pasti Pasukan terus berpindah dan bergerak diseluruh
pelosok belantara Pulau Bangka. Dalam Pertempuran strategi yang digunakan
adalah perang gerilya dengan ciri
Disamping pasukan utama dibentuk pasukan
pasukan kecil dimasing masing distrik yang dipimpin oleh seorang Panglima
Perang.
Tugas
pasukan kecil ini adalah menyerang pos pos militer Belanda dan parit-parit
sebagai pusat kekayaan dan keuangan Belanda, serta membumihanguskan Batin Batin
untuk menaikkan moral perjuangan dan menghancurkan sumber logistik musuh.
Melemahkan mental dan moral musuh
dengan menyerang kemudian menghilang dengan cepat, mengelabui dan menjebak
musuh dengan memanfaatkan kondisi geografis alam Pulau Bangka
.Menghindari pertempuran terbuka dan
frontal.Memasang rintangan dan ranjau sepanjang jalan Pangkalpinang-Mentok.Mengadakan
gerakan kontra mata mata.Mendatangkan senjata dan amunisi bekerjasama dengan
orang orang Cina.
Untuk
menghadapi perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir dan Hamzah,
Belanda mengalami kebingungan dan kesulitan, sehingga bermacam strategi
dilakukan antara lain:
Parit parit dijaga oleh militer dan
di kampung kampung didirikan pos militer.
Mendatangkan orang Indonesia dari daerah lain untuk berperang melawan Amir dan Hamzah.
Mendatangkan orang Indonesia dari daerah lain untuk berperang melawan Amir dan Hamzah.
Memberi hadiah bagi yang dapat
memberikan informasi keberadaan Amir dan Hamzah atau yang berhasil
menangkapnya.
Melakukan gerakan gerakan militer,
benteng stelsel, memperkuat balatentara dan mendatangkan kapal perang untuk
mempercepat gerak pasukan guna mendesak dan menumpas perlawanan.
Menawarkan perundingan dengan
memberi Gaji dan Tunjangan Kepada Amir dan Hamzah, kepada para Batin dan Mandor
kampung untuk mengikat supaya tidak melakukan perlawanan.
Menjanjikan melepas keluarga Amir
dan Hamzah yang ditahan.
Melaksanakan perundingan di Kampung Layang
dipimpin oleh Kapten Dekker.
Kekurangan akan logistik dan kondisi
pasukannya yang keletihan karena harus bergerak terus menerus dalam rimba Pulau
Bangka yang sangat luas yang menjadi pemikiran Amir dan Hamzah, sehingga ketika
pasukannya kembai ke kampung - kampung untuk menggarap ladang pertanian justru
menjadi hal yang dianjurkan, karena mengingat kepentingan yang lebih besar
yaitu menghindari rakyat Bangka dari kelaparan. Di samping kekurangan pangan
dan logistik perang ditambah iklim yang kurang mendukung, menyebabkan dalam
peperangan digunakannya peralatan tradisional yang disebut Pidung dan Sumpitan
sebagai senjata. Keletihan, kekurangan pangan, dan kondisi alam yang ganas,
pertempuran demi pertempuran yang berlangsung hampir tiga tahun tanpa henti
disertai penyergapan - penyergapan dan pengepungan menyebabkan pasukan semakin
lemah, dalam dua kali penyergapan dipimpin oleh Lettu Dekker di Cepurak pada
tanggal 27 Nopember 1850 dan pada bulan Desember 1850 Amir dan Hamzah beserta
pengikutnya berhasil meloloskan diri. Dalam kondisi kurus, lemah dan sakit Amir
dan Hamzah berhasil ditangkap pada tanggal 7 januari 1851 lalu dibawa ke markas
militer Belanda di Bakam, kemudian di bawa ke Belinyu pada tanggal 16 Januari
1851, selanjutnya di bawa ke Mentok. Pada tanggal 28 Pebruari 1851 berangkatlah
Amir dan Hamzah kepengasingan di Desa Airmata Kupang Pulau Timor.
Perjuangan
tidak berhenti dan terus dilanjutkan di Pulau Timor Propinsi NTT dalam bentuk
memberikan petuah dan mengatur siasat dan strategi perang bagi pejuang di Pulau
Timor dalam melawan Belanda, melakukan dakwah menyebarkan agama Islam
(komunitas muslim yang ada di Pulau Timor adalah keturunan Bahrin dan mereka
mendirikan masjid di Bonipoi yang bernama masjid Al Ikhlas), serta memberikan
pengetahuan tentang sistem pengobatan tradisional bagi masyarakat setempat.
Sejarah perjalanan pembuangan yang dramatis ke Pulau Timor selama 6 (enam)
bulan di atas Kapal Uap Unrust dengan terus menerus dirantai dan dikerangkeng
serta penderitaan di pembuangan (Desa tempat pembuangannya dinamai dengan Desa
Airmata) tidak kalah dengan kisah pembuangan Imam Bonjol, Diponegoro, dan
Pahlawan Nasional lainnya. Kalau dilihat dari fakta sejarah di atas sangat
jelas bahwa Depati Amir dan Hamzah adalah SALAH SEORANG PEJUANG BANGSA DAN
SEBAGAI SALAH SATU SIMPUL DARI SEKIAN BANYAK SIMPUL PEREKAT KEINDONESIAAN.
Setelah 34 tahun kemudian Amir wafat
pada tahun 1885 dan Hamzah wafat pada tahun 1900. Keduanya di makamkan di
Pemakaman Batu Kadera Kupang. Pengasingan dan Pembuangan adalah cara yang
dilakukan oleh Belanda untuk mengakhiri perlawanan dan menjauhkan pengaruh
pemimpin terhadap rakyatnya, hak istimewa untuk mengasingkan dan membuang para
pejuang disebut dengan EXORBITANTE RECHTEN. Cara Kolonial ini ternyata sangat
efektif untuk menumpas perlawanan rakyat di berbagai kerajaan kerajaan
tradisional di daerah. Setelah tertangkapnya Amir dan Hamzah perjuangan rakyat
Bangka tidak berhenti dan dilanjutkan oleh pejuang pejuang lainnya seperti
Batin Tikal, dan bekas panglima panglima perang lainnya.
TAK
banyak masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Padahal
Sahabudin, pria kelahiran Dusun Tutut Desa Penyamun, Kecamatan Pemali
menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan tanah air Republik Indonesia.
Sahabudin meninggal di Laut Aru 15 Januari 1962. Sebuah torpedo dari kapal
perang Belanda menghantam lambung KRI Macan Tutul. Sahabudin salah satu pejuang
yang berada di dalam kapal saat mempertahankan NKRI.
Pengorbanan Sahabudin diabadikan di
Markas Komando TNI Angkatan Laut (AL) pusat.
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Pria asal Dusun Tutut semasa hidupnya menjadi pernah parjurit di TNI AL. Dia salah satu ABK di KRI Macan Tutul. Tragedi gedi Laut Aru merenggut nyawa Sahabudin yang berpangkat klasi dua.
Tak
cuma Sahabudin, rekan-rekannya yang lain awak KRI Macan Tutul pun gugur membela
RI. Mereka gugur bersama seorang pahlawan nasional Komodor Yos Sudarso yang memimpin
pertempuran Laut Aru. Tohir adik kandung almarhum Sahabudin mengisahkan,
semasa hidupnya, Sahabudin sebelum bergabung sebagai TNI AL menamatkan
pendidikan di Sekolah Teknik (ST) Sungailiat. Sahabudin dikenal sebagai anak
yang rajin, suka bergaul sesama rekan dan sahabat di kampungnya Dusun Tutut
sekitar 10 kilometer dari Sungailiat
Usai
menamatkan pendidikan di ST, Sahabudin berminat melanjutkan cita-cita sebagai
seorang tentara. Keinginan Sahabudin sempat membuat bingung pihak keluarganya.
Sebab
pihak keluarga beranggapan keinginan Sahabudin tersebut sulit terwujud. Kondisi
ekonomi keluarganya tidaklah memungkinkan dirinya untuk menjadi tentara. Untuk
melamar menjadi anggota TNI AL mesti ke luar Pulau Bangka sehingga butuh biaya
yang tak sedikit.
“Tapi
tekad dan semangatnya tak bisa diredam maka apa yang menjadi keinginannya pun
kami turut mendukung. Ternyata tak disangka ia diterima sebagai anggota TNI
AL,” kenang Tohir saat itu didampingi adik dan kakak kandung Sahabudin antara
lain Syaidah, Zubir dan salah seorang keponakannya, Saferi di kediaman Dusun
Tutut.
Saat
menerima kunjungan Danlanal Babel Letkol Laut (P) Gregorius Agung WD didampingi
istri bersama para perwira TNI AL lainnya, Rabu (14/1) pagi tak banyak yang
diungkapkan oleh Tohir.
Apalagi
yang diketahui oleh kakak maupun adik kandungnya. Sahabudin pergi meninggalkan
keluarga demi membela negara saat usianya masihlah tergolong muda.
“Mungkin
sudah takdirnya, dia harus meninggalkan kami demi membela tanah air tercinta,”
ucap Tohir dengan pandangan mata berkaca-kaca. Jasa atau perjuangan Sahabudin
membela tanah air tidak begitu saja dilupakan. Pemerintah RI di era
pemerintahan Soeharto pun sempat menorehkan sebuah penghormatan bagi Almarhum
Sahabudin dengan menetapkan namanya dalam daftar deretan nama-nama pahlawan
nasional. Beragam penghargaan lainnya termasuk namanya pun sempat diabadikan sebagai
salah satu nama gedung di Mako AL.
Danlanal
Babel Gregorius pun sempat pula mengusulkan kepada pemerintah daerah Provinsi
Babel agar nama Sahabudin dapat diabadikan menjadi salah satu nama jalan atau
dibangun monumen di Pulau Bangka.“Sudah pernah kita usulkan. Dan kita harapkan
nama beliau dapat diabadikan untuk nama jalan atau setidak-tidaknya dibangun
tugu monumen sosok Sahabudin. Sebab walau bagaimana pun dia merupakan pahlawan
nasional, putera daerah yang patut kita hormati.” kata Gregorius sembari
mengingatkan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah atau
jasa-jasa para pahlawannya”
Langganan:
Postingan (Atom)






