Kamis, 25 Juli 2013

AKEK BIDIL



AKEK BIDIL

(Pelandok laki betian Laki)
(Hutan Desa penagan ,Rukam mendo barat Bangka)

By. Jaka Filyamma


Berpuluh tahun yang lalu di Kecamatan Mendo Barat hiduplah suami istri. Bidil dan Istrinya hidup sangat sederhana seperti masyarakat desa pada umumnya.Merekapun setiap hari melalukan kegiatan Di ladang, hutang dan di alisan sungai untuk mencari ikan serta lauk pauk sehari hari. Sepanjang hari mereka melewatinya selalu bersama membagi tugas dengan adil walau tanpa ada kesepakatan langsung pembagian tugas itu. Hutan didesa mereka sangat luas sehingga dapat bercocok tanam berpindah-pindah dan membiarkan tanah bekas garapan mereka menjadi Hutan kembali dengan meninggalkan bekas-bekas  sebagai tanda hutan itu pernah di jadikan lahan untuk berladang , Hutan bekas ladang yang di tinggalkan itu di kabupaten Bangka di kenal dengan “Kelekak”. Tanam tumbuh yang ada pada hutan kelekak tidak teratur sedianya tanaman pada perkebunan. Bukan hanya satu dua jenis tanaman yang ada bermacam-macam tanaman buah terdapat pada kelekak, Cempedak,Duku,langsat,Durian Dan lain sebagainya Jarak tanamnya pun sembarangan. Biasanya tanaman pada kelekak adalah sisa buah yang di makan oleh pemilik ladang Seusai mereka menikmati buah di pondok ladang membuang begitu saja biji buah yang akhirnya menjadi bibit tanaman.
Bidil termasuk suami yang mengerti dengan istrinya, Setiap permintaan istri selalu di lakukan tak jarang  dengan hasil yang kurang memuaskan.Bidil selalu menganggap enteng apa yang di katakan istrinya dan mengaanggap dia sudah mengerti padahal apa yang dikatakan istrinya belum semua di dengar ia sudah menyimpulkan. Ketika mengerjakannya asal-asalan sekehendak hatinya saja. Suatu pagi Bidil berangkat lebih cepat ke ladang.berjalanpun sangat tergesa-gesa bungkusan yang telah disiapkan masih diatas meja “ Yak … ne rantang e… ketinggel Lupak ok”  ( Kak ini Rantang nya ketinggalan Lupa ya) “ Panggilan istrinya tak di dengar dengan jelas) Lagak Bidil berjalan pasti menuju ladang menyandang suyak padahal belum di isi persediaan makan siangnya.Sampai diladang  Bidil bukannya langsung bergegas bekerja ia membongkar isi suyak yang di bawanya alangkah kagetnya Bidil ternyata hanya ada rantang kosong sisa makanan kemarin yang baunya sudah tidak sedap lagi padahal Bidil sudah ingin melahapnya karena sudah kelaparan karena terlalu cepat berjalan” Ya ampon…. Ne lah ku dak kawa kek bini ku ne … dak suah aben nek ngerti kek laki e ” (ya ampun …  inilah yang nil ah yang saya didak suka dengan istri saya tidak mau mengerti suaminya) Gerutu Bidil setelah menemukan isi suyak bawaannya. Nek mana nek begawi men maken ge dek .. ok dek de lah tenange e … along tiduk.” ( Bagaimana mau bekerja kalau makan juga tidak…. Ya tidak ada lah tenaga nya … lebih baik tidur) Bidil malah membentang kain sarung yang terikat di pinggangnya lalu tertidur dengan nyenyak.
Walaupun tingkah Bidil yang selalu menjengkelkan tetapi istrinya tetap sayang tak pernah mengambil hati setiap perbuatan suaminya. Apalagi dengan tingkah Bidil Istrinya merasa terhibur kala sedang kesepian walau pun bidil sedang tidak ada di rumah.Sepulang dari ladang Bidil merasa sangat lapar bergegas ia menuju dapur yang beberapa langkah dari pintu masuk rumahnya tanpa disadari ia mengijak tangan istrinya yang sedang tidur beralas tanah lantai rumah mereka.Kontan saja istrinya berteriak sejadinya “ Adoii… ngapa nya yak .. macem di kejer antu bai dak tau agik kek urang ne…(aduh … kenapa sih kak .. seperti di kejar hantu saja tidak tahu lagi dengan orang)”.Tanpa bersalah Bidil menjawab “ Oh…Ade Pok ok … dek ketengong peker ko puntong kayu tadik e ( oh .. ada kamu ya .. tidak kelihatan ku pikir potongan kayu tadi)” lalumelanjutkan niatnya ke dapur. Melihat Bidil makan dengan lahap istrinya malah tertawa “ Bidil… bidil ya lah maka e men di tugak urang ya … ngingal .. jangen dek retak …ne jadi e ..kelaper.. ( Bidil..bidil.. itu lah makanya kalau di panggil orang itu menoleh jangan tidak di gubris).Bidil tidak menghiraukan perkataan istrinya ia tetap makan sekenyangnya.”Berape taon dek maken yak … lah dak miker urang agik ne .. nya ko ge lom maken nya …(berapa tahun tidak makan kak … seperti tidak mikir orang lagi .. saya juga belum makan )”. Terlambat sudah semua nasi dan lauk yang ada sudah di lahap Bidil tanpa sisa Tapi tak heran lagi memang begitulah Bidil kalau sedang kelaparan istrinya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.
Kebahagian Bidil dan istrinya masih terasa kurang lengkap karena mereka belum di karuniai anak seperti pasangan suami istri yang lain padahal mereka sangat mendambakannya apalagi jika melihat pasangan yang lebihmuda dari mereka.Pernah suatu ketika Bidil tertawa dalam tidurnya seperti orang yang senang sedang bermain sama anak kecil betingkah seperti anak kecil.Hal itu malahmembuat istrinya sedih dan tidak berani membangunkan Bidil dari tidurnya.Ia mengerti Bidil sangat suka bermain dengan anak kecil hampir setiap hari Suaminya itu bermain dengan anak-anak tetangga.
Bidil sudah siap berangkat ke ladang dengan bawaannya yang disiapkan sendiri ia sengaja menyiapkannya karena hawatir  istrinya akan lupa lagi memasukkan dalam suyaknya. Namun Keberangkatannya hari itu malah dilarang oleh istrinya “ O yak … ari ne pok dak usah ke kebun ok .. along gi ke aek Ngesat gabus agik e asa e renyek ngelempah gabus ne ( O kak ..Hari ini kakak tidak usah ke ladang ya lebih baik ke sungai mencari ikan gabus rasanya ingin memasak ikan gabus hari ini )”. Tanpa mengiyakan Bidil langsung mengambil peralatan menangkap ikannya kemudian pergi kesungai.Hari itu mungkin hari keberuntungan Bidil tak berapa lama ia memasang bubu ikan sudah masuk perangkapnya. Tapi keberuntungan itu tidak beruntung bagi Bidil setelak Bubunya diangkat bidil sangat kecewa dua ekor ikan lele menggelepar dalam bubu ” Ah .. ngeracau ketak Kelik ne .. Ukan ikak lik … yeng di pintak binek ko ( Ah … mengganggu saja ikan lele ini … Bukan kalian yang di pinta istri saya)” Bidil membuka Ikatan Bubu melepas ikan lele ke sungai “Dek kek ade agik Gabus di nik … pindeh ke ilek luk ( tak akan ada lagi ikan gabus di sini … pindah ke hirir dulu) Piker Bidil sambil memanggul Bubunya. Agak lama Bidil memendam bubunya dalam air persedian makanan yang dibawanyapun sudah habis di makannya hari beranjak sore sedangkan istrinya sejak tadi menunggu kedatangan ikan pesanannya. Bidil sudah tidak tahan lagi menunggu ditambah lagi dengan pakaiannya yang basah setengah badan karena memasang bubu.Akhirnya Bidil memutuskan untuk pulang dengan tangan kosong.Sesampai dirumah Bidil di sambut istrinya dengan senang yakin Bidil pasti membawa tangkapan yang banyak. “Lempah Kuneng yak ok …( Lempah Kuning kak ya) “ kata Istri bidil menyambut kedatangan suaminya yang tampak kelelahan “ Lempah Kuneng apa dek … sikok ge dek gabus masok bubuari ne.. (Lempah kuning apa sih…satu pun tak ada ikan gabus masuk perangkap)” Jawab Bidil sambil menggantung alat tangkap ikannya.” Dak kek ade ne yak ..lah se-ari ne  dek sikok aben …kelak gi berendem ketak diaek nu( Tak mungkin kak …sudah seharian ini tak satu pun … jangan-jangan kakak hanya berendam di Sungai) Mendengar Bidil tidak mendapatkan ikan Istrinya sedikit kesal.Tapi bidil mencoba membeladiri ” Tadik to ade due ikok dapet e .. tapi bukan gabus … mese bekumis panjeng ya … ok ko lepas agik be …mesege ikan gabus pok nek e … ( Tadi itu ada dua ekor dapatnya tapi bukan ikan gabus … ikan yang berkumis panjang itu ..ya saya lepas lagi … soalnya ikan gabus yang kamu pesan) Alangkah terkejutnya Istri bidil Mendengar keluguan Bidil seperti tak bersalah. Bidil pun di suruh kembali mencari ikan lele yang dilepasnya. Malah sebaliknya ikan lele yang di pinta malah bubu Bidil dimasuki ikan gabus bidil pun kembali melepasnya.Pulang pun tanpa hasil karena hari sudah malam dan merasa kasihan melihat suaminya kelelahan istri Bidil tidak mempersoalkan lagi membiarkan suaminya tidur sepulang dari sungai.
Berita gembira membuat Bidil dan istrinya sangat bahagia apa yang mereka idamkan akan segera terwujut bermain,tertawa dengan kehadiran seorang anak yang lucu. Bidil pun semakin giat pergi ke ladang untuk persiapan kelahiran anaknya.Ia pun lebih perhatian dengan istrinya biasa Bidil harus di suruh terlebih dahulu baru mau mengerjakan sesuatu semenjak istrinya hamil Bidil lebij sering menawarkan diri untuk memenuhi keinginan istrinya sedang kan hasilnya tetap seperti biasa selalu gagal.” Renyek maken apa pok dik … ayem apa Bibek” (Kepingin makan apa kamu dik .. ayam apa bebek) “ tanya Bidil sebelum berangkat ke ladang” deng lah yak … laok apa ge jadi lah lom renyek ari ne ( sudahlah kak lauk apa pun boleh belum kepingin hari ini) jawab Istri Bidil sambil membiarkan suaminya pergi ke ladang.
Keinginan makan daging pelanduk disampaikan istri Bidil  tapi bukan pelanduk biasa yang di ingini nya “yak renyek maken pelandok asa e .. (kak ingin makan daging pelanduk rasanya) Mendengar permintaan istrinya Bidil menjadi semangat karena yakin itu bukan hanya permintaan istrinya tapi juga permintaan anak dalam kandungan yang dinantinya sejak lama.” Pelandok dik ok … pok renyek pelandok …aok lah pon ( Pelanduk di ya ..kamu ingin makan pelanduk… baiklah )” Dengan semangat Bidil mengIyakan keinginan istrinya.” Denger luk yak .. Ko renyek pelandok bini betian laki ok .. enggak yeng laen e… inget jangen lupak … pelandok bini betian laki( Dengar kan dulu kak .. saya pingin pelanduk betina yang sedang mengandung anak jantan,.. tidak mau yang lain … ingat jangan lupa Pelanduk betina yang mengandung jantan). Pesan istri bidil berulang-ulang agar Bidil tidak lupa dengan keinginannya “ aok lah dik …pok tenang bailah Pelandok bini betian laki ken( iya lah dik kamu tenang saja Pelanduk betina yang mengandung jantan kan) kata bidil meyakinkan istrinya lalu segera berangkat kehutan untuk Belapon (Berburu) Pelanduk ditemani anjingnya “Jangen aok aok yak… pukok e men lom dapet pelandok bini betian laki jangen pulang kerumah ne … tiduk lah di utan sane (jangan iya-iya kak…Pokok nya kalau belum dapat pelanduk betina yang mengandung anak jantan jangan pulang kerumah tidurlah dihutan sana)”.kata istrinya sedikit mengancam agar Bidil mengingat permintaannya tidak mengulangi kesalahan yang selalu dibuat Bidil. Sepanjang jalan menuju hutan Bidil mengulangi permintaan istrinya “pelandok Bini betian laki,… pelandok bini betian laki …jangen lupak… jangen lupak( pelanduk betina yang mengandung jantan… pelanduk betina yang mengandung jantan…Jangan lupa) dengan bersemangat Bidil mengulangi permintaan istrinya malah memberitahukan pada anjing yang menemaninya belapun (berburu). Tiba di Hutan Bidil bingung memilih tempat berlapun (berburu) Hutan Penagan atau hutan desa Rukam akhirnya diputuskan hutan antara desa Penagan dan Rukam. Malangnya si Bidil karena bingung memilih tempat belapun (berburu) Bidil lupa apa yang di pesan Istrinya Antara Pelanduk betina yang mengandung anak jantan atau pelanduk jantan mengandung betina. “ apa renyek anek ko di ok … pelandok bini betian laki …. Apa pelandok laki betian bini ok …( apa  keinginan anak saya tadi ya … pelanduk betina mengandung anak jantan … apa pelanduk jantan mengandung anak betina ya). Di tengah hutan Bidil masih kebingungan memilih pelanduk untuk di tangkapnya padahal apa yang di pesan istrinya hampir saja mesuk Lapon (perangkap) malah di usir Bidil karena tidak yakin dengan apa yang di pesan dan tidak ingin melihat istrinya kecewa kembali dengan apa yang di lakukannya.Keyakinan Bidil memutuskan untuk menangkap pelanduk Jantan yang mengandung anak betina. “ ah … dak salah agik lah pasti pelandok laki betian bini ( ah.. tidak salah lagi pasti pelanduk jantan yang mengandung anak betina)” Pikir Bidil Meyakinkan dirinya.Karena Keluguan Bidil dan kesalahannya memilih akhirnya Bidil tidak menemukan Pelanduk yang di pesan istrinya.Bidil pun tidak mau pulang sebelum mendapatkan pelanduk yang di pesan istrinya yang tentu saja sampai kapan pun dan siapa pun tidak akan dapat menemukan pelanduk jantan yang mengandung apa lagi mengandung anak betina.Sampai sekarang pun Bidil tidak Pulang kerumah karena belum menjumpai pelanduk yang di inginkan. Dan Menurut Masyarakat desa Rukam dan desa Penagan Hingga kini pun masyarakat didua desa tersebut sering  mendengar suara orang sedang belapun ( berburu) pelanduk dan juga suara Gonggongan anjing di tengah Hutan pada malam-malam tertentu.

Pesan yang dapat di ambil dari cerita ini:
-       Sebelum mengerjakan sesuatu terlebih dahulu mendengarkan apa yang di perintahkan.
-      Setiap mengerjakan suatu pekerjaan haruslah dengan keseriusan dan kesungguhan.
-       Jangan malu untuk bertanya kembali apa yang di sampaikan kalau memang belummengerti.
-       Keyakinan sendiri kadang belum tentu merupakan suatu hal yang benar.
-       Menyampaikan suatu keinginan tidak perlu dengan sebuah ancaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar