Kamis, 25 Juli 2013

KEDIDI PENUNGGU PADI DAN TIKUS YANG RAKUS



KEDIDI PENUNGGU PADI
DAN
TIKUS YANG RAKUS

Oleh : Jaka Filyamma


                Mentari bersinar sangat berani pagi itu. Menyinari ladang di tengah hutan belantara. Kicau burung kedidi pun riang menyambut padi yang indah, Ia berputar putar dengan sebelah kakinya…
                Satu…dua…tiga…Kedidi menghitung langkahnya maju dan mundur sesekali ia menekukkan kakinya berjongkok sedangkan matanya selalu waspada pemperhatikan sekeliling.
Apa ya…yang diperhatikan burung kedidi. Tiba-tiba ia mendengar suara daun kering berbunyi. Kresek…kresek, “Hei siapa itu!!” teriak kedidi sambil berdiri tapi masih dalam gerakan semula.
         “Ayo cepat keluar….Kuhitung sampai tiga, kalau tidak keluar juga, rasakan akibatnya,” katanya menggertak dan mengerakkan kakinya mulai menghitung. Satu…..dua…., “Ayo keluar, jangan buat aku semakin marah!” burung kecil itu berkecak pinggang sepertinya marah. Akhirnya sampai pada hitungan yang ketiga, Tiiiiiiiii…… GA! Kedidi dengan cepat berlari mendekati sumbe suara itu.
                “Ampum …. Ampun…Pak kedidi..ampun..,” rupanya seekor anak tikus sedang bersembunyi di balik daun.
                ”Apa yang sedang kamu lakukan?“ tanya kedidi pada anak tikus yang gemetaran karena ketakutan.
                ”Saya…. Saya… saya….,”
         “Saya apa!” bentak kedidi lagi, “Kamu pasti akan menggigit batang padi ya!” kata Kedidi sambil mengibaskan sayapnya.
         Tiba-tiba dari balik daun yang lain keluar induk tikus, “Hai kedidi, kau beraninya dengan anak kecil, Coba lawan aku.“ kata induk tikus membusungkan dadanya …
          ”Oh ada yang tua rupanya,“ kedidi tak sedikitpun gentar melihat badan induk tikus yang dua kali lebih besar darinya.
          ”Dasar tikus kerjanya hanya mengerat pohon padi saja,”
          “Apa mau mu,“ induk tikuspun menjadi marah mendengar kedidi berkata begitu, “Jangan mentang-mentang kau bisa terbang mau seenak kamu ya…,” kata tikus lagi sedangkan anak tikus tadi sibuk dengan batang padi temuannya yang masih berdiri tegak.
          “Hei….jangan kau gigit batang padi itu,“ Kedidi mengepakkan sayapnya menghampiri anak tikus tapi di hadang induknya.
          “Lawan aku Hai kedidi serakah “ kata induk tikus lagi.

           Pertengkaran kedidi dan  tikus tidak sampai puncaknya, dari kejauhan terdengar suara: Kreat … kreot… kreat…. Kreot.
           “Cepat nak lari ada orang,“ Induk tikus lari sambil memegang tangan anaknya yang masih memeluk batang padi. Kedidi hanya terbang dan hinggap di pucuk batang padi sehingga bergoyang.
                Setelah sore pemilik ladang sudah pulang, Burung kedidi tertidur di pucuk pohon padi yang bergoyang.
                “Hei…. Kedidi sombong..pemalas…,” kedidi terkejut mendengar jeritan induk  tikus di bawahnya, Hampir saja ia terjatuh.
                “Ada apa Tikus…. Kamu dan bangsamu tidak boleh memakan batang padi ini carilah tempat lain …,” kata kedidi sambil pindah ke batang padi yang lain.
                “Sombong serakah,” kata induk tikus.
                “Kamu yang serakah, Rakus” kata kedidi membela diri.
             “Mengapa kamu melarang kami mencari makan disini, Memangnya ini punya siapa,” kata tikus ingin tau.
                “Ladang ini punya pak Seman, manusia yang kemarin kau lihat,”
                “Lalu mengapa kamu yang sibuk? “ tanya Induk tikus lagi.
                “Dasar tikus bodoh. Kalau kamu menggigit batang padi itu semua akan celaka, kau mengerti?” kata Kedidi menerangkan.
                “Ha……ha….ha…,” tikus tertawa, “Celaka? tak mungkin Kedidi, kami tak akan celaka. Karna kami pintar tidak seperti kau pemalas. Bodoh…”
                “Baik  coba kamu  pikir, kalau kamu menggigit pohon padi ini manusia tidak dapat panen padi dan artinya semua akan rugi…,”
                Tikus semakin bingung dengan omongan kedidi apa hubungannya dengan kami hai kedidi…tanyanya.
                “Dasar tikus! Pakailah otakmu, tentu saja dengan hilangnya batang padi yang sehari dapat berpuluh-puluh kau makan…maka manusia akan marah. Dan mereka akan mencari kalian semua untuk membunuh bangsa tikus, karena padinya mati.”
                “Ah! Kalau tidak ada yang memberitahunya tak akan mereka tahu kalau kami yang menggigitnya,” tikus masih membela diri.
                Kedidi menjadi tambah jengkel, ”Terserah saja apa yang akan kamu lakukan tapi jangan di sini, cari saja ladang yang lain,” kata kedidi sambil menujuk ke arah hutan yang lebat.

                Malam telah datang Kedidi terbang kembali ke rumahnya berkumpul dengan keluarga dan bernyanyi menyambut datangnya malam.
                Keesokan harinya, alangkah terkejutnya Burung Kedidi mendapati ladang pak Seman, lading yang dijagainya tinggal setengah saja.
                “Ya ampun…. Ini pasti ulah Tikus yang rakus itu!“ kedidi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
                “Hai…tikus….. Hentikan semua,“ Kedidi langsung berteriak melihat segerombolan tikus berpesta pora.
                “Lari…..Anak tikus yang kemarin dimarah kedidi mengajak kawan-kawannya melarikan diri.
                “Jangan takut!“ induk tikus keluar dari persembunyiannya.
                ”Coba kalau berani kau mengganggu anak-anakku…. Kau akan berhadapan denganku!” induk tikus mengancam kedidi dengan mengacungkan sisa batang padi yang tak habis dimakannya.
                “Coba Lihat ….Semua padi jadi layu,” manusia pemilik lading ini pasti akan marah,” kata kedidi menunjuk ladang yang tak berseri lagi.
                “Jangan hanya bicara saja, ayo kalau berani,” tantang induk tikus semakin berang.
                “Tikus, bukannya aku takut, tak ada gunanya kita bertarung toh yang kalah akan mati yang menang akan sengsara karna akan dicari oleh saudara kita dan pasti akan bermusuhan sepanjang masa.”
                Perkataan Kedidi membuat hati tikus terenyuh. Di lepaskannya batang padi.
                “Hai kedidi yang baik hati, Alangkah benar perkataan mu, tak ada guna kita bertarung sampai mati,akan semakin sengsara anak cucu kita nanti.”
                Kedidi pun turun dari atas batang padi dan merangkul Tikus. “Coba pikirkan lagi kalau semua batang padi kamu makan, banyak manusia yang kelaparan dan keluarganya tidak dapat makan. Saudara kita bangsa ayam, tak dapat makan padi,  bebek dak dapat makan sisa nasi, Ikan di sungai pun tak dapat menikmati sisa makanan yang melekat di piring. Termasuk juga aku dan keluargaku,” Kedidi menjelaskan semua akibat jika panen padi manusia gagal. Lalu ia terbang meninggalkan Tikus yang perlahan melangkah sambil menundukkan kepalanya menyesal.
                Semenjak  itu tikus sudah jarang mengganggu ladang. Burung kedidi pun leluasa menari setiap pagi dan petang sambil menanti panen tiba. Beberapa orang petani yang setiap hari memperhatikan gerak gerik burung kedidi itu lalu menirukannya dan menjadikannya gerakan pencak silat yang hingga kini di kenal oleh  masyarakat Pulau Bangka.


                                                       Sungailiat, Juli 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar