Kamis, 25 Juli 2013

SATRIA BERDAMBUS



  SATRIA BERDAMBUS
Zalfika Ammya

Setiap pagi Kalu hanya duduk sendiri ditengah sepinya hutan karet peninggalan orang tuanya.Sepeti ada yang di tunggu namun  tak seorang pun mengetahuinya, siapa sebenarnya yang di tunggu Kalu.kadang Ia seperti berbicara dengan seseorang, tertawa sampai akhirnya menangis sejadinya memecahkan keheningan pagi di tengah hutan karet. “ Tolong lah ajarkan Saya …Pak …. Pak Tolong …. Saya sangat mengharapkan seorang guru seperti Bapak …. … saya Bisa…saya bias…….. “ setiap kali berada di Pondok kebun Kalu berbicara sendiri. Berteman dambus berkepala rusa Jantan, dentingan dawai yang sudah kendur kadang terdengar sumbang menandakan takmahir memainkannya.
Dentingan dambus Kalu  terhenti seruan yang tak asing baginya membuyarkan hayalannya,” Kalu apa yang sedang kamu lakukan …setiap hari, tidak ada kerja lain …selain melamun dan mengigau saja“ Entah dari mana datangnya “Isah” langsung menyapa Kalu dari belakang. Kalu tidak menjawab hanya memandangi dambus tua peninggalan kakeknya yang telah lama meninggal.” Ah….. susah bicara sama penghayal pasti tidak nyambung ….bodoh Ah..” dengan rasa geram Isah meninggalkan Kalu yang masih terdiam memeluk Rusa kayu tuanya.” Da…da….ka….lu….” Isah pergi sambil mencoba menggoda Kalu Mengangkat kedua Tangannya berputar di hadapan kalu lalu meninggalkan Kalu.Tak hanya di situ rupanya kepergian Isah Bukan untuk meninggalkan Kalu malah Mengajak teman-teman nya lain untuk menggoda Kalu.  “ Hai …… Kalu sudahlah jangan terlalu di pikirkan …. Memang beginilah hidup …..” Mahmud mencoba menyemangati Kalu yang jauh berubah setelah dewasa “ Ayo lah Kalu  …..mana Kalu teman Ku dulu yang periang selalu tertawa,ceria…..”Mahmud teringat semasa kecil mereka selalu bersama. Kalu di kenalnya seorang sahabat yang baik. “ Ayo….Kalu … Bangkit Dari tidurmu…”  Tidur katamu Mud …. Apa kamu tidak melihat matahari sudah tinggi …. “ Celetuk Bujang sambil mengejek Mahmud yang iba dengan keadaan Kalu. “Tidur kok berdiri Kalu ….. Sudah Pipis belum ….. “ ejek Isah menambah suasana hati kalu semakin tak menentu .Ha…ha…ha….ha…. Mereka tertawa apalagi melihat wajah Kalu  Memerah. Sedangkan Wati teman mereka yang lain hanya tersenyun menahan tawa. “ Sudah…sudah …. Apa kalian tidak punya peduli terhadap perubahan teman “… Rupanya Mahmud tidak senang Kalu sahabatnya di tertawakan. Kalu hanya memandang wajah temannya satu persatu …….tidak sepatah katapun ia lontarkan untuk membela diri.
Tak menghiraukan apa kata orang Kalu meninggalkan pondok kebun, bukan hendak menyusul teman-teman yang meninggalkannya sendiri sejak tadi. Ia memeriksa getah karet yang di sadapnya ” ….Ah …. Cukuplah untuk hari ini ….  Haripun sudah siang”,   kata kalu dalam hati sambil mengumpul dan membereskan peralatan menyadap karetnya. Rusa kayunya tidak ketinggalan tetap tergantung di punggungnya. Seperti seorang tentara membawa senjata laras panjang di punggungnya, kalu berjalan dengan tegap. Tak terlihat ia kekelahan setelah dari dini hari berada di tengah Hutan.Dalam perjalanan pulang kerumah Kalu melewati tempat pemandian yang ramai sekali. Berbagai kegiatan masyarakat desa di sungai mencuci,mandi dan ada juga yang sekedar berbincang-bincang.” Hei…… ada Rusa …. Teriak anak kecil menunjuk kearah Kalu yang datang dari sebelah timur desa. Membuat semua yang ada di sungai melihat kea rah kalu ….” Mana….mana …ayo cepat tangkap….. kita potong ….” Kata seorang pemuda menyadari maksud anak kecil itu .se isi sungaipun tertawa. Tubuh tegap Kalu lunglai…. Perlahan ia melanjutkan langkahnya dengan menundukkan kepala.” Nyariapa Dik Kalu .. ... duitnya jatuh ya…. “ kata seorang ibu yang kembali membuat tawa para ibu. “ bukan nyari duit yuk ….. dahannya Patah ….. timbal ibu yang lain pula.
Kalu masih terbawa suasana pagi yang selalu membebani pikirannya,dimanapun ia pasti memikirkan apa yang di alaminya” Mengapa tidak seorangpun yang mengerti dan peduli dengan aku ….”kalu meyesali hidupnya tanpa disadari butiran air mata bujangannya mengalir perlahan di pipinya yang menukik ke bagian dagu.Kalu merebahkan kepalanya pada dinding papan yang sudah rapuh di makan usia Rumah peninggalan orang tua yang entah kapan mulai didiami oleh keluarga Kalu. “kalu apa yang kau pikirkan nak … jangan bersedih coba dengar kan syair ini ….. “Suara itu tidak asing bagi kalu walausudah lama ia tidak mendengarnya….Iya bapak… kalu dengar …. “Kalu menjawab dengan terbata sambil melihat wajah orang yang menyapanya sesekali mengalihkan pandangannya kepada lelaki tua yang duduk dibelakang orang yang dipanggilnya bapak yang sejak semula memebrikan senyuman kepada kalu.Dentingan dambus mengiringi syair yang di nyanyikan bapak itu membuat kalu bersemangat untuk memperhatikannya ….. sudah lama sekali ia mendambakan permainan dambus seperti itu. “ nah coba kamu mainkan seperti tadi …” suara yang terdengar berat itu meminta kalu untuk memainkan dambus seperti yang dimainkannya……”ya kalu coba kamu mainkan kami ingin mendengar bagaimana dentingan dambus anak muda sepertimu “kata lelaki tua yang tadinya hanya tersenyum mengharapkan kalu juga bisa memainkan dambus.Kalu baru menyadari orang tua yang memintanya bermain dambus itu suaranya mirip sekali dengan  kakeknya …. Dan yang memainkan dambus tadi tak ubah seperti permainan dambus bapaknya …., ‘Tetapi mengapa wajah mereka tidak seperti dulu saat kalu masih kecil …siapa mereka ini’.Kata kalu dalam hati tapi ia tidak menghiraukannya segera di raih dambus dan bersiap-siap untuk memetiknya.Nafasnya masih terengah karna ini yang pertama kali kalu di minta untuk memainkan dambus di depan orang lain. Kalu biasanya hanya memetik dambus tua itu di dalam rumah saja tidak seorangpun yang mendengarkannya.’ini kesempatan untukku menunjukkan kemampuanku memetik dambus ini “ kalu berguman dalam hati kali ini ia dapat tersenyum, karna merasa dirinya diakui oranglain.”wah bersih sekali permainan dambusmu kalu’ kata lelaki tua membandingkan dengan permainan dambus lelaki yang pertama memetik dambus…….”Ah kakek ini bias saja mana mungkin saya bisa menandingi permainan dambus bapak ini’ kalu mencoba merendah dari lelaki yang mungkin sebaya dengan almarhum bapaknya itu. “tidak kalu permainan mu memang bagus apalagi kalau kamu lebih sering berlatih dan tampil di depan umum.kamu hasus berani kalu’ Lelaki itu pun membenarkan kata kakek tua itu…ketiga lelaki 3 dekade itu pun tertawa masing masing merasa bangga dengan music dambus asli daerah timah ini. “ ha…ha…ha…ha tertawa itu semakin jadi “ Tidur kalu …..” tapi tawaan kali ini di ikuti dengan kata yang mengagetkan kalu ….”Mimpi indah tukang tidur “ kalu baru menyadari yang tertawa ini bakanlah orang tua yang tadi mengajaknya bermain dambus. Melainkan tawaan teman-teman kalu yang selalu menggodanya. Mahmud, isah, bujang serta wati sudh berdiri menghadap kalu yang masih merebahkan kepalanya pada dinding papan rumahnya.”Ahhh… kalian ini mengganggu saja.. mengapa sih kalian tak bosannya menggoda saya” Kalu tak hanya diam melihat teman temannya tertawa di hadapannya…” Ehhhh kalu sudah bias ngomong … kawan…kawan Kalu bias ngomong … Teriak Isah kaget mendengar kalu menjawab ejekan mereka.Kalu pun merasa keheranan sendiri biasanya ia hanya diam jika mendapat perlakuan seperti itu dari teman temannya.” Kalu mau apa … mimik cucu…. Ejek Bujang seperti ingin membela isah untuk mengejek kalu.” Selama ini aku diam…. Selama ini aku hanya menundukkan kepala….. Bukan berarti kalian dapat berbuat seenak kalian saja…” sepertinya kalu mulai tidak sabar menghadapi teman-temannya itu. Kalu berdiri keluar dari kerumunan teman-temannya yang hanya memandang pandang kalu beranjak dari tempat duduknya.lalu membalikkan badannya “bujang jangan kau piker selama ini aku bias kalian permainkan …” emosi kalu semakin jadi sambil menunjuk kearah bujang dan melihat satu persatu wajah teman temannya itu.Untung saja ada Mahmud yang memang mengerti bagaimana kalu sebernarnya meredam emosi keduanya keduanya.” Sudahlah…… Kalu maaf kan kami kami salah” Ayo kita pulang sudah hamper magrib nih …” pulahlah dulu mut aku mau tau sebatas mana si pemimpi ini berani bersuara kepadaku “  Bujang pun mulai emosi sepertinya ingin menantang kalu.kedua tangannya sudah dikepalkannya.karna tidak terima kalu menunjuk-nunjuk mukanya …. “Sudahlah Bujang … ayo pulang …..” Wati pun mencoba mengalihkan perhatian bujang sedangkan Isah hanya berdiri di sudut teras rumah kalu.
Pagi sekali kalu sudah berada di pondok kebunnya…. Setelah selesai menyadap karet kalu hanya melamun… tapi pagi itu lain kalu melamun bukan lamunan kosong. Kalu memikirkan apa yang di alaminya sore kemarin “ siapaya Kedua bapak tua kemarin…. Dari bicara dan cara tertawa mereka seperti bapak dan kakek …. Mungkin……. Uahhhhhhh ‘kalu tak dapat menahan rasa kantuknya karena semalam iya asik mengulang ulang memetik gambus mengikuti kata orang tua yang menemuinya itu.” ….Ngantuk ….. benar padahal getah belum di kumpulkan “ kalu mencoba menahan kantuknya yang semakin menjadi padahal pekerjaannya belum sesesai. …Ahhhhhh… “Kalu mengapa hilang semangat “ kalu tersentak mendengar suara kakek yang kemarin mendatanginya dan  membalikkan badan mencari sumber suara itu. ‘ kakek dari mana kek’ kalu menyapa dengan sopan kepada kakek itu “dari tadi kakek perhatikan kamu seperti orang lelah …tidak ada semangat …. Katanya mau belajar main dambus” Kalu merasa heran mengapa kakek itu tau apa yang di inginkannya padahal mereka baru dua kali ini bertemu dan belum pernah bercerita apa-apa.” Sini dambusnya “ kakek itu mengalihkan pembicaraan kalu dengan meminjamkan dambur yang di senderkan kalu pada tiang pondok kebunnya.” Senar dambus ini sepertinya sudah boleh dig anti kalu ….. ini sangat berpengarur dengan suara petikan kita” Setelah menerima dambus dari kalu kakek itu memperhatikan dambus kalu yang sebenarnya adalah dambusnya sendiri.” Iya kek tapi saya belum paham bagai mana cara mengatur nadanya kalau saya ganti senarnya…” pembicaraan mereka mengarah pada pengenalan dambus dasar yang memang belum diketahui kalu. Karna memang semenjak meninggal orangtuanya dambus itu hanya terbungkus kain sarung yang di jahit se ukuran panjang dan lebar dambus itu di ikat dengan tali pelastik  dan tergantung di kamar saja.” Itu gampang sekali kalu setelah kamu pasang senar yang baru langsung saja kamu mainkan kalau menurun kamu kurang enak di dengar ya di kencangkan atau di kendorkan saja” penjelasan kakek itu diserap benar oleh kalu ia memperhatikan kakek memutar telinga rusa yang terbuat dari kayu berjumlah Delapan buah empat di bagian kiri dan empat kanan kepala rusa kayu itu.” Nah seperti ini Ting…ting…. Ting….kakek memberikan contoh kepada kalu bagaimana mengatur menyetel bunyi tali satu” kalu negangguk menandakan bahwa ia memahami apa yang dikatakan kakek.”coba kamu lanjutkan “ kata kakek sambil memberikan kembali dambus kepada kalu.kalu memutar mutar penyangnga senar dua sampai yang keempat.” Ingat kalu senar dambus ini memang jumlahnya delapan tapi jadinya empat karna senarnya berpasangan …..jadi mengaturnyapun harus berpasangan jangan hanya sebelah.” Kakek menambah penjelasannya.Sedangkan tangan kalu memutar dan memetik dasenar dambus sambil memperhatikan apa yang di katakana kakek.”….Ya kek”…”.Awas jangan terlalu Kencang”kakek menjadi khawatir melihat kalu bersemangat memutar mengikat senar dambus” atau malah jadi patah “ tambah kakek lagi.” Coba perhatikan “setelah selesai kalu nemutar mutar nya kakek meraih dambus yang masih di pegang kalu lalu memetik senarnya…..kalu termagu melihat permainan dambus kakek decak kagung berkali-kali keluar dari muluk kalu sambil menggelengkan kepala dan kakinya bergerak mengikuti suara dambus dan tangannya seolah memegang dan memetik dambus. Akhirnya suara guntur menghentikan pelajaran berdambus dan kalu bergegas beranjak dari tidurnya membereskan getah karet yang sudah tertampung pada potongan tempurung kelapa yang dijadikan sebagai tempat penampung sadapan getah karet.
Semangat kalu kian mengelora walau perjumpannya dengan sang Guru hanya sebentar kalu dapat menyerap semua yang diajarkan dengan baik.Tak mengenal waktu, setiap ada kesempatan kalu memetik dambus warisan orang tuanya yang tanpa serah terima.Satu malam kalu memberanikan diri untuk menghampiri  sekelompok anak muda yang sedang duduk di pinggiran jalan desa menuju air pemandian.Hampir setiap malam muda mudi di desa Kalu berkumpul menghabiskan malam di luar rumah sambil bernyanyi lagu dangdut di iringi music gitar yang di mainkan oleh Bujang .”Hai kalu Mimpi apa kamu mau bergabung sama kami malam ini’…. Bujang menghentikan mengocok gitar Yamaha nya melihat kalu datang dari pertigaan desa.Spontan saja Kawan-kawan yang lain menoleh kearah belakang seperti tidak percaya apa yang dikatakan Bujang .”Dari mana kalu mari duduk di sini…..” Merasa senang kalu kembali mau bergabung Mahmud menyambut kalu tak ubahnya menyambut datangnya Bupati ke Desa mereka.”Duduk disini saja pak Kalu dekat Si cantik Isah”….. Ha,,,ha….ha…ha.. dasar isah selalu senang menggoda Kalu setiap bertemu tak di Kebun, air pemandian Atau sekedar iseng mendatangi Kalu saat sedang duduk sendirian di depan rumahnya.Karuan saja perkataan Isah kembali menjadi Bahan tawa kawan-kawan yang lain.”Sudahlah isah jangan berlebihan” kata kalu dengan tenang suaranyapun sedikit berwibawa. “Anggap saja aku adalah teman baru kalian yang selama ini belum kalian kenal” … kata kalu meyakinkan teman-temannya dengan perubahannya yang baru di tampakkannya itu..”Jadi maksud kamu kesini mau apa kalu” Bujang sepertinya masih menyimpan dendam kapada kalu semenjak kalu menunjuk-nunjuk mukanya. “ Ada apa sih dengan kamu ini Bujang… Bukannya senang teman kita sudah bergabung lagi dengan kita “ kali ini Wati ikut bersuara seperti senang melihat Kalu yang kembali bersahaja.”Ya … sepertinya kalian lebih senang melihat Kalu dari Pada Saya” Bujang berdiri seperti ingin meninggalkan Teman –temannya.”Jangan Bujang “…. Kalu juga berdiri dan menghampiri bujang “ Maaf Jang “…..kalau kehadiran ku disini belum dapat kamu terima .. Atau kamu masih,.. marah gara-gara sore itu …” Kalu merangkul Bujang tapi saying bujang mengelak dan menjauh dari Kalu.Sekelompok pemuda itu terdiam tak ada yang bersuara hanya saling pandang melihat kejadian itu.Lalu……Bujang Membalikkan badannya menghampiri Kalu Dengan Nada Geram Bujang Menghardik Kalu..”    “Apa Kamu tidak sadar apa yang kamu lakukan selama ini…..”Omongan Bujang kembali membuat teman-temannya saling pandang..dan menggangguk menyadari apa yang di katakana Bujang “Kamu aneh Lu… Selalu Menjauh dari kami ..” apa tidak sebaliknya kita yang bertanya … ada apa dengan kalu… Kata bujang sambil menghampiri Wati dan memandang kawan-kawannya.” Dia yang menjauh dari Kita … dan tiba-tiba datang menghampiri kita” Dasar aneh …Bujang kembali memperjelas bagaimana sifat kalu Selama ini kepada Mereka.
Malam berikutnya Kalu kembali mencoba mendekati Kawan-kawannya. kalakar Muda-mudi desa yang sambil tertawa setiap malam mengiringi lagu-lagu yang mereka nyanyikan menyibak keheningan malam.Dengan memeluk dambus kalu melangkah pasti namun keraguan juga dirasakanya.” Apakah mereka mau menerima aku dengan Rusa Kayu ini “ Pikir kalu dalam hati. Langkahnya terhenti sebentar.memandang dari kejauhan kawan-kawannya berjoget sambil tertawa. Niatnya sudah pasti “Aku harus tetap maju akan ku tunjukkan pada mereka ada lagu,..musik yang seharusnya mereka banggakan” Kata kalu dalam hati memberikan semangat pada dirinya sendiri.” Boleh aku bergabung “…. Kata kalu minta izin ketika tiba pada kumpulan pemuda itu. “ Boleh … silahkan kalu duduk atau joget Mahmud menyambut kalu dengan penuh keceriaan…. “Ayokalu joget saja biar semangat “ kata pemuda lain sambil berjoget mengelilingi kalu.tapi Suara gitar yang dimainkan Bujang malah berhenti.” ada apa jang “ kata seorang pemuda protes. Bujang hanya diamsaja tidak menjawab.” Mungkin bujang sudah capek “kalu menjawab pertanyaan pemuda tadi. “Boleh aku menggantikannya” kata kalu member semangat kepada kawan-kawan yang rada kecewa.” ha…ha….ha… dengan lagu apa kalu …. La..la…la… Kata Bujang mengejek kalu. “ saya akan mengenalkan kappa kalian music daerah kita yang seharusnya kita banggakan “kalu mencoba memperkenalkan musik dambus. Tidak seorangpun dari muda mudi itu menjawab kalu namun kalu langsung membalikkan dambus kedepan yang tadinya tergantung di punggungnya….. Ting…ting…. Ding….ding…. suara Dambus kalu bulai bergema… tapi kawan kawannya malah saling berpandangan “lagu apa yang akan di nyanyikan kalu” Pikir Wati yang jejak tadi memperhatikan kalu…..Karena menghayati irama music yang di mainkannya mata kalu terpejam tanpa disadarinya kawan-kawannya telah pergi meninggalkannya yang terlebih dahulu di awali kepergian Bujang.Barulah ia sadar tetika pundaknya di tepuk oleh kakek yang menemuinya di pondok kebun… “ Teruskan kalu …mainkan lagu yang lain …kata kakek tua itu “ tapi kek saya belum bias memyanyikan lagunya “ Biar Bapak saja yang menyanyikannya kamu mainkan saja dambus itu “ tiba-tiba seseorang datang dari belakang kalu “ Bapak …. Bersedia menyanyikannya “ kata kalu kepada orang yang baru datang tadi.”Dengan sarat kamu juga harus ingat sair yang bapak nyanyikan kalu” jawab bapak itu pula..” baik pak ….. kalu memetik kembali dambusnya.sambil mulutnya komat kamit mengulangi sair yang mengriringi irama musiknya.”cukup kalu “kakek menghentikan permainan dambus kalu “ syair dambus akan mengalir begitu saja sesuai dengan apa yang dirasakan oleh pelantunnya ..” kakek itu menambah kata kembali.”…..”sedangkan sairnya adalah rasa yang ingin disampaikan yang ingin dikisahkan oleh pemain dambus”….tambah bapak yang tadinya bernyanyi….” Biasanya pemain dambus sekaligus  penyanyi dambus kalu karna itu adalah kata hatinya yang di tuangkan dalam irama dan sair dambus. Iya pak…. Tapi maaf sebelumnya kakek …. Bapak …. Sebenarnya ini tidak pantas saya tanyakan’’…… sebenarnya siapa kakek dan bapak ini mengapa begitu perhatian pada saya…” kalu mencoba bertanya lebih jauh siapa sebenarnya siapa mereka. “ Kalu… Sayang ibumu juga telah tiada …sebenarnya dia tau siapa kami berdua.” Mendengar jawaban sepeti itu kalu menjadi bertambah bingung sebelum ibunya meninggal, pernah mengatakan bahwa tidak ada siapapun Famili di desa ini.”Iya kalu ibumu benar….. tapi kami ini bagian dari kamu”…..  kata bapak itu membuat kalu semakin bertanya-tanya dalam hati. “Pernah kamu mendengar nama kami saya ini Arsyad dan itu bapak saya sendiri Haji Denan …” setelah disebutkan nama itu basu kalu sadar mereka adalah Bapak dan Kakeknya sendiri”… Bapak… kalu langsung bersujud dihadapan bapaknya…maafkan kalu pak … maafkan kalu kek …. “ kalu menangis sejadinya mengetahui hal itu …. Sejak kecil kalu belum pernah melihat wajah bapak dan kakeknya …secara langsung ,……foto-foto yang adapun telah lama surak.. luntur pada pigura yang tergantung didinding rumahnya. “Bapak….. bapak….. bapak….Kakek…..kek….”…kalu semakin sedih setelah iya berangkat dari sujudnya bapak dan kakeknya telah pergi di telan malam …
Bersandar di dipan tempat tidur kalu teringat apa yang di alaminya” apakah aku mimpi” kata kalu sambil memeluk dambus yang dimainkannya semalam ..” tapi mengapa mimpi itu datang berturut-turut dan berkelanjutan … .. apa karna aku merindukan mereka.” Kalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi berwudhu dan solat malam memanjatkan Doa kepada yang kuasa agar orang-orang yang dicintainya tetap dicintai Allah.panjang pinta Kalu Dalam Doa. Membuat ia tertidur di sajadah hingga kokok ayang membangunkannya.
Seperti hari kemarin kalu mengawali harinya berangkat ke kebun karet yang tidak begitu jauh dari rumahnya.sepanjang jalan menuju kebun ia mengulangi kembali lagu dambus yang dinyanyikan bapaknya dalam mimpi semalam.Sepanjang jalan itu pula kalu membuat setiap orang yang berpapasan dengannya merasa heran. “Saya pernah mendengarkan lagu tadi siapa yang mengajarkanmu kalu” Tanya pak Saad kepada kalu sambil berlari kecil menyusul mengejar kalu dari belakang.Pak Saad ingat betul itu lagu yang sering dinyanyikan Arsyad setiap malam yang tak lain adalah orang tua Kalu. “Dari bapak saya pak memang mengapa”…. Kalu menjelaskan kepada pak Saad dan kembali bertanya.” Dari bapakmu …Kata Pak Saad merasa Heran. Setau saya bapakmu meninggal sebelum kamu lahir dan lagu itu diciptakan oleh kakekmu yang meninggal masa bapakmu masih bujangan…pak saad menjelaskan keheranannya kepada kalu.” Dari mana kalu tau sedangkan lagu itu tidak pernah ditulis atau di ajarkan pada orang lain selain Haji Denan dan arsyad anaknya.” Mungkin ini aneh pak tapi inilah yang saya alami”…. Lagu ini di ajarkan kakek dan bapak semalam sewat Mimpi saya pak ..” kata kalu merasa senang ternyata ada juga yang tau dengan lagu itu.”Saya permisi dulu pak …” kalu memutuskan pembicaraannya karna kebun Kalu dan pak Saad berlawanan arah pada Pertigaan Kedua di areal Perkebunan Rakyat desa itu. “Ya…. ya silahkan kalu’” jawab pak saad masih keheranan. Suara dambus kalu masih terdengar oleh pak Saad Di ikutinya dengan Siulan yang seirama jika di padukan.Kemampuan kalu Bermain dambus Dengan cepat tersiar ke seluruh kampung. Apalagi mereka yang dulu pernah mendengarkan lagu yang diceritakan pak saad kepada Semua Orang se susianya.”Kalu anak Arsyad yang aneh itu “ kata bu Saad ketika diceritakan suaminya bahwa kalu pandai bermain dambus. “Mana Mungkin Pak … setiap hari Kerjanya hanya melamun dan tidur.” Bu saad Bersemangat tapi sedikit tidak percaya.Karna selama ini yang mereka tau lagu itu Hilang bak di telan bumi, pergi mengikuti sang pelantunnya.
Pada Satu kesempatan Desa kalu merayakan pesta panen. Suasana gembira menebar dihamparan padi ladang yang sudah siap di potong.Masyarakat Desa berkumpul dari anak-anak sampai orang dewasa baik yang memiliki ladang padi bahkan yang hanya ikut merasakan kegembiraan itu.Ditengah kegembiraan itu kalu mendapat kehormatan untuk memainkan dambusnya.” kalu jangan kau mainkan dulu lagu Abusama” kata pak saad ketika kalu akan memulai bermain dambus dari kejauhan sambil berlari.Kalu menghentikan petikan dambusnya” ada apa lagi ini… Pikirnya dalam hati…. “Apakah Orang tua juga menolak kehadiran musik dambus”. Lagu Abusama itulah hasil karya Haji Denan yang membuat Pak Saad dan kawan-kawan seusianya teringak dengan sosok sesepuh desa sang pemain dambus Haji Denan.” Tunggu kalu …. Tunggu…” teriak  pak seman sambil memeluk Kayu gelondongan kecil. Kalu keheranan dengan apa yang di lihatnya.Ia hanya Pasrah apapun yang akan terjadi Dambus harus tetap bersuara.Tak di sangka oleh kalu Orang-orang Desa sebaya Bapaknya seperti telah merencanakan semua itu, Mereka berlari membawa perlengkapan alat music dambus yang dulu pernah mereka mainkan bersama Haji Denan dan Arsyad Kakek dan bapak kalu. Gendang kayu dua buah untuk gendang induk dan anakan dari kulit kambing dan tawak-tawak yang terbuat dari sebilah papan terpasang pada permukaan tempurung kelapa yang bagian atasnya terpotong dengan ukuran yang berbeda jika di pukul pada sebilah papan diatasnya akan menimbulkan bunyi yang berbeda.Musik Dambus lagu Abusama Kembali berkumandang di kebahagiaan orang desa.Ibu ibu terlebih dahulu turun menyingsingkan kain. Bukan untuk memotong padi melainkan menari mengikuti irama Musik dambus.Sedangkan Muda-mudi Bujang, Isah,Mahmud, dan wati masih malu untuk mengikuti apa yang di lakukan oleh orang tua mereka karena mereka tidak mengerti dengan Tari Dambus itu.
Semenjak Pesta Panen Padi ladang tahun itu Dambus kembali di perdengarkan di setiap kesempatan,…Menyanbut kedatangan tamu dari luar desa,pesta pernikaham,Khitanan . Kalu mulai di kenal sebagai pewaris pemain dambus dari kakek dan Bapaknya haji Denan dan Arsyad.Setiap malam pula Kalu di minta kepala Desa untuk membagikan Ilmunya kepada generasi Muda di desanya itu. Dari musik dambus itu juga banyak Muda Mudi didesa kalu menemukan jodohnya. Bujang yang semula lebih mennyukai lagu Dangdut dan tak suka pada Kalu akhirnya meminta kalu untuk menyumbangkan lagunya pada acara pernikahannya dengan isah.” Kalu Pada Acara pernikahan kami nanti lagu AbuSama Harus kamu mainkan Khusus buat kami “ kata Bujang Sambil menggandeng tangan Isah.Kalu hanya bias Tersenyum mengaggukkan kepala. Sedangkan matanya meririk gadis lain di sebelah Isah.Beberapa Bulan Berikutnya peseta panen kembali di laksanakan kegembiraan warga Desa pun  Kembali terlihat. Apalagi setelah Pesta panen kali ini di laksanakan juga pernikahan adat KAWIN MASAL Puluhan pasang Muda Mudi Di arak Keliling Desa…. Pasangan yang paling Depan Membawa Dambus (PENDEKAR DERBAMBUS) Sebagai Peminang sesuai permintaan Wati kepada Kalu sebelum Pesta KAWIN MASAL di laksanakan “LU,.. KU MINTAK KEK KA PEMINANG E …DAMBUS OK …KA BUET KEK KU DARI KAYU NANGKA ”(Lu ku Minta sama Kamu peminagnya …DAMBUS…ya kamu Buat untuk Saya Dari pohon Nangka)
                                                                                   
                                                                                                      Sungailiat, 2 juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar