Rabu, 08 Agustus 2012

SELIKUR DAN SUASANA RAMADHAN (dulu)


SELIKUR DAN  SUASANA RAMADHAN (DULU)
Salah satu budaya di Bangka Belitung yang masih meninggalkan kesan adalah SELIKUR. yang hanya dilakukan pada bulan Ramadhan ini (biasa dimulai pada malam ke 21 puasa ramadhan hingga malam takbiran) sangat unik sekali. Pada kebiasaan lama masyarakat Bangka Belitung, budaya selikur di tandai dengan dipasangnya lampu sulur (lampu minyak tanah / tradisional) pada halaman depan rumah masing-masing warga. Sehingga suasana malam hari menjadi meriah dengan deretan lampu-lampu, yang sangat indah bila di pandang mata. Lampu-lampu itu dibuat secara tradisional baik dari bambu (yang dilubangi, dikasih sumbu dan minyak tanah), bekas botol, kaleng, dan berbagai media lain.ada juga yang cukup menarik, sebelum bulan Ramadhan masyarakat sengaja mengumpulkan batok kelapa (dulu masyarakat mengambilsantan kelapa dengan memgukur isi/daging buahnya) untuk persiapan selikur. batok/tempurung kelapa disusun hingga setinggi mungkin (merasa bangga kalau tempurungnya paling tinggi) sebagai tiang penyanggah digunakan kayu ditengahnya.. setelah tinggi dan malam selikur tiba barulah tempurung kelapa tadi di bakar dari yang paling bawah. Pijar api yang keluar dari tempurung akan tetap terjaga sampai kepagi.lalu arang tempurung nyapun masih dapat digunakan  untuk keperluan lain.
Budaya SELIKUR biasanya dibarengi dengan main BEDIL (meriam bambu) yang dimulai setelah maghrib tiba (buka puasa). Meriam bambu yang di buat masa itu sangatlah istimewa, karena anak-anak itu senantiasa mencari bahan dari pohon Bambu yang berkualitas bagus. Intinya sejauh apapun letak lokasi kebun bambu itu, senantiasa mencarinya. Biasanya bambu yang menjadi favorit masa itu memiliki kulit yang tebal dan diameter yang besar. Sehingga menghasilkan bunyi dentuman yang keras dan bagus serta tidak mudah pecah.selain itu ada juga yang memainkan meriam/bedil karbit. Bedil karbit lebih sederhana pembuatannya hanya memanfaatkan kaleng bekas yang dilogangi bagian bawahnya dan cangkang kerang atau tutup botol sebagai tempat karbit yang ditetesi air.selikur dan bedil biasanya dilakukan oleh anak laki-laki.Sisa potongan bambo yang dibuat bedil digunakan untuk kentongan mungkin alat ini sudah me nasional biasanya digelantungkan di posronda atau poskamling.kentongan ini digunakan untuk membangunkan warga untuk sahur. Supaya lebih seru ukuran kentongan dibedakan supaya menghasilkan bunyi yangh berbeda.(wuiiih pasti seru……. Tapi ada juga loh yang meneriaki anak2 “ … Biseng.. jang ..kami lah bangun lah …)
Bersamaan masa SELIKUR dimulai juga diwarnai ajang  JUAL BELI KUE.TANAH biasanya kegiatan anak perempuan sambil menunggu buka puasa. maksudnya kue – kue mainan yang dibuat dari tanah lempungu / liat dan kemudian di bentuk sedemikian rupa. Kue tanah itu dibakar, istilah masa kecil yang di oven seperti halnya ibu-ibu membuat kue. Beragam bentuk kue tanah menghasilkan keasyikan dan kebanggaan tersendiri. Nah, kue-kue itu biasa di gelar dengan karung bekas di pinggir jalanan depan rumah untuk di jual.
Masa itu, uang yang digunakan untuk jual beli kue terdiri dari plastik pembungkus permen. Nah, warna merah artinya uang 1 ribu, hijau 5 ribu dan  biru 10 ribu. Tak jarang kue-kue itu dijajakan berkeliling dengan menggunakan mobil-mobilan dari kayu. Walhasil suasana kian rame,jadi kangen masa kecil. Tapi itu bagi anak perempuan yang masih kecil kalau yang sudah duduk di kelas 4 SD keatas sudah bermain buah saga merah. Atau main rujak … dengan bekas alat tutup botol. (kalau cara mainnya entar2 aja ya)
 .Sayang budaya SELIKUR dan kebiasaan anak masa lalu seperti itu kini telah hilang. Keberadaan lampu minyak tanah beberapa tahun lalu diganti dengan lampu kelap kelip (lampu neon berukuran kecil). Namun, BEDIL dan ajang JUAL BELI KUE TANAH dan yang lain itu memudar dan tak pernah lagi ditampakkan anak-anak masa kini. Permainan modern benar-benar telah menggeser beragam bentuk permainan tradisional seperti itu.anak sekarang lebih kenal dengan petasan, gemeboat, atau “bende item laen e yeng dipijit-pijit to”

kembali tentang selikur Ok …
Tradisi malam selikuran adalah tradisi budaya sekaligus religius yang penuh makna. Tentunya hal ini sangat istimewa, karena anda dapat menyaksikan bagaimana antara budaya dan religi saling bersatu dan menguatkan. Bagi anda penyuka kajian agama dan budaya, tentu tidak akan mau ketinggalan peristiwa ini .Dalam menyemarakkan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, masyarakat berlomba-lomba mendapatkan malam kemuliaan (malam Lailatul Qadar), yang dalam al Qur'an disebutkan sebagai malam seribu bulan. Diantara cara untuk mengharap berkah dari turunnya Lailatul Qadar tersebut, masyarakat Jawa biasanya mengadakan sebuah kegiatan dengan mekukan malam "Likuran" (tradisi Selikuran). Merupakan salah satu tradisi luhur yang diwariskan dan tetap lestari hingga kini, seperti di Keraton Surakarta, Yogyakarta, Surakarta, dan masyarakat pedesaan Jawa lainnya.
 Tradisi Selikuran berasal dari bahasa Jawa yakni Selikur (sebutan bilangan 21), yang maknanya kurang lebih "Sing Linuwih le Tafakur", sedang Tafakur artinya orang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan begitu dalam melakukan ibadah puasa Ramadan kita benar-benar khusuk dan berkualitas, baik dengan memperbanyak sedekah, I'ktikaf di masjid, tadarus Alquran, dan lain-lain. Semua amalan itu merupakan upaya dalam memeroleh kemuliaan yang ada dalam Lailatul Qodar, sebab malam kemuliaan tidak dapat diperoleh kecuali dengan kesiapan rohani yang bersih juga suci.Tradisi ini sesungguhnya sudah lama muncul seiring dengan masuknya Islam ke Pulau Jawa, yang dilakukan para Wali Songo dalam dakwahnya dengan menggunakan pendekatan budaya, yaitu menggunakan budaya Jawa untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Dalam Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Bratasiswara menyebutkan, Selikuran merupakan upacara adat peringatan Nuzulul Quran dalam maleman Sriwedari Surakarta yang digelar setiap tanggal 21 Ramadan. Ritual ini diilhami dari Serat Ambya yang menyebutkan tiap tanggal gasal (ganjil) dimulai sejak 21 Ramadan Nabi Muhammad SAW turun dari Gunung Nur, yaitu setelah menerima ayat-ayat suci Alquran (wahyu).
 Terkait prosesi Selikuran di Keraton Surakarta, dilaksanakan dengan cara arak-arakan para ulama keraton, sentana dalem maupun abdi dalem yang membawa sesaji dari keraton ke Taman Sriwedari. Para ulama melantunkan salawat dengan iringan rebana. Sedangkan para abdi dalem Keraton membawa ting atau lampion warna-warni, meneriakkan ungkapan simbolik tong-tong-hik yang bermakna seruan kebaikan, disamping juga mendoakan keselamatan dan keberkahan untuk Raja dan Keraton itu sendiri.
 Selikuran dalam perspektif Islam adalah berawal dari Rasulullah Saw yang beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan, Nabi Saw bersabda, "carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (Bukhari dan Muslim). Dan Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, Nabi Saw menjawab sesuai yang ditanyakan, yaitu ketika ada yang bertanya pada Nabi Saw : “apakah kami mencarinya di malam ini?, beliau menjawab: “carilah di malam tersebut” (Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah). Dari sinilah dapat dipastikan bahwa tradisi Selikuran memang terdapat perpaduan (sinkretisme) nilai-nilai Islam melalui budaya Jawa, sehingga akhirnya tradisi ini dilestarikan oleh kerajaan Islam pada masa itu, dan tetap bertahan hingga hari ini.
 Seiring perjalanannya, banyak warna dan bentuk pelaksanaan malam selikuran ini, misalnya upacara malam Selikuran yang dilaksanakan masyarakat pedesaan yang akrab dengan adat Jawa, yaitu masyarakat desa melaksanakan ritual kenduri di rumah setiap keluarga. Kenduri dengan hidangan nasi dan lauk-pauk yang disebut Rasulan, diadakan pada setiap malam tanggal ganjil, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan berakhir tanggal 29 Ramadan). Tempat kenduri pun bergantian dari satu keluarga ke keluarga lain dan berlangsung dalam lima putaran sampai habis tanggal ganjil (Pikiran Rakyat, 2007).Ada juga pada acara selikuran dengan menyalakan lampu lampion (ting) dengan warna-warni disetiap rumah dan jalan-jalan. Disamping itu, tradisi jaburan juga mewarnai di dalamnya, yaitu upaya menyediakan konsumsi bagi acara likuran dengan cara gotong royong sistem giliran, dengan kuantitas dan kualitas jaburan seikhlasnya. Ada juga acara khataman, yaitu sebuah acara do'a bersama sebagai tanda selesainya membaca Alquran. Dan masih banyak lagi acara-acara yang dilakukan pada malam selikuran ini. Tentunya semua kegiatan tersebut sebagai upaya memperbanyak peribadatan kepada Allah dan penyucian diri.

Fase setelah masuk pada tahap sepuluh hari terakhir Ramadan (disebut malam kemuliaan), dalam tradisi Islam dipercaya bahwa siapa saja yang dapat meraih malam tersebut, akan mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa dalam kehidupannya kedepan, sebagai pengalaman spiritual untuk bekal hidup di dunia dan akhirat, penuh dengan keselamatan dan kebahagiaan, juga dibebaskannya dari api neraka.
Sehingga wajar ketika pada malam selikuran umat Islam tidak terkecuali masyarakat Islam Jawa mengadakan berbagai tradisi untuk menyambut datangnya malam kemuliaan, dengan penuh keseriusan dan keikhlasan. Zaman kerajaan-kerajaan Islam di Jawa memang membawa pengaruh besar terhadap segala aspek kehidupan masyarakat, terutama dengan dimulainya proses peralihan kepercayaan dari Hindu-Buddha ke Islam. Akhirnya hingga kini, konsep sinkretisme Islam Jawa masih terpancar kuat di dalam setiap ritual budaya masyarakat Jawa, termasuk tradisi selikuran sebagai kegiatan untuk menggapai malam kemuliaan yang penuh barokah dan kebaikan, yang dinilainya sama dengan ibadah seribu bulan.
Bagaimanapun Rasulullah SAW menganjurkan kita melaksanakan persiapan meraih Lailatul Qadar tersebut melalui sabdanya, "Barangsiapa berpuasa karena keimanan kepada Allah, dan melakukan perhitungan kepada diri sendiri (muhasabah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Muhasabah adalah sikap mau mengoreksi serta menghitung amal perbuatan diri sendiri. Adapun fadilah (keutamaan) dari Lailatul Qadar antara lain Nabi Saw bersabda, "Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam Lailatul Qadar dengan dasar iman dan mengharap rida Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu". (Al-Bukhari). Dan Nabi Saw. Bersabda pula, "Apabila datang Lailatul Qadar, Malaikat Jibril bersama Malaikat lainnya turun ke bumi mendoakan kepada setiap hamba yang berzikir dan berdoa kepada Allah Swt, Allah menyatakan kepada para Malaikat bahwa Allah akan memenuhi segala doanya. Itulah mengapa malam kemuliaan tersebut sangat dinanti-nantikan dan begitu didambakan oleh semua orang Islam
Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa malam kemuliaan hanya dapat diraih oleh manusia-manusia yang benar-benar bersih jiwanya, Sehingga orang Islam disepuluh hari terakhir Ramadan ini terus berupaya dan berusaha lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah Swt, yakni dengan melakukan amalan-amalan sholeh, terutama pada malam selikuran Ramadan yang dipercaya sebagai waktu turunnya cahaya malam kemuliaan (Lailat al-Qadar).Namun ada juga daerah yang kembali melestarikan budaya selikur ini menjadi even tahunan agar kegiatan ini kembali dikenal oleh masyarakat . Dalam Event ini bentuk likur sudah berpariasi ada yang seperti lampion cina dan lain sebagainya.suasana malam ramadhan sangat indah warna warni dan bentuk lampu  Selain keindahan yang terlihat, yang patut untuk kita tiru adalah semangat kegotong-royongan dalam proses pembuatan bedil likur  ini mulai dari mengumpulkan botol bekas, membuat lampu tersebut, kreatifitas peserta, serta kerja sama dan kekompakan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar