Kamis, 28 Juni 2012

gurindam


Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula amsal, perumpamaan. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Contoh:
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati
Pengarang gurindam yang terkenal adalah Raja Ali Haji, saudara sepupu Raja Ali yang menjadi raja muda di Riau (1844-1857). Gurindam 12 pasal karya Raja Ali Haji yang terkenal berjudul “Gurindam Dua Belas”.

Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujah.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Gurindam Dua Belas, pasal yang ke 11 dan ke 12

 Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta
Pemberian judul Gurindam disesuaikan dengan isi Gurindam sepertihalnya Yang ditulis Raja Ali Haji memberi nama Gurindam 12 pasal menjadi Gurindam 12, Gurindam Abad 21, Berkelana di Padang Fana, H.Eko Maulana Ali, Bangka Pelanduk, 2005, Gurindam anak Negri, Gurindam Pemimpin dll.

GURINDAM ANAK NEGERI
                                                       Jaka filyamma


HENDAK BELAJAR PANDAIKAN AKAL
NISCAYA HIDUP PASTIKAN KEKEAL
JIKA ILMU SUDAH DIDAPAT
JANGAN DIPAKAI UNTUK MENGUMPAT

ORANG PINTAR MERASA BODOH
PONDASI HIDUP PASTIKAN KOKOH

KALAU TIDAK MERASA IRI
PASTI PULA AKAN SUDI  MEMBERI

BANYAK KURANG BUDI PEKERTI
BANYAK JUGA SADARKAN DIRI

MENANGIS TIDAK BERBAKTI
BADAN HIDUP JIWANYA MATI

BERILMU BUKAN PADI MERUNDUK
DIPANEN BATANG PUN MATI DI LUBUK

BANYAKLAH BUAT PAHALA
TAK PERNAH MENCARI CELA

PAHALA JANGAN DI UKUR
JANGAN DI HITUNG BEKAL DI KUBUR

BERILMU JANGAN BERTANDING
TERHINDAR SEGALA TUDING

KALAU MEMANG SUDAH TAK PERLU
DI BUANG MERASA MALU

JANGAN PERNAH MERASA MALU
HATI MERAH MENJADI KELU

JANGAN MANDI DI TENGAH MALAM
PERCAYA DIRI MENJADI SURAM

JANGAN MAIN DI TENGAH LAPANG
AKAN SULIT CARI PELUANG

JANGAN PERNAH BERMAIN CURANG
KAN MEMICU TERJADI PERANG

JANGAN PERNAH ENGKAU MENANGIS
MENGUNDANG ORANG BERWAJAH SINIS

JANGAN MAU ENGKAU DI BELI
MAKIN BANYAK YANG TIDAK PEDULI
                                                                         JANGAN PERCAYA DENGAN SAHABAT
MEMBUAT DIA MERASA HEBAT

JANGAN SANJUNG SEORANG TEMAN
KAN LUNTUR SEGALA IMAN

JANGAN PERNAH MEMBERI UPAH
SEBELUM TERLEPAS KATA SUMPAH

JANGAN PERNAH MERASA SUSAH
BANYAK PULA YANG MENJADI RESAH

JANGAN PULA MERASA SALAH
SELESAIKAN SEMUA MASALAH

WAJAR SAJA BILA KAU MARAH
DARI PADA SELALU PASRAH

WAJAR SAJA BILA BERSUKUR
MAMPU SUDAH TERUKUR

WAJAR PULA BERTERIMA KASIH
KARNA TUHAN MAHA PENGASIH

WAJAR SAJA BERBUAT WAJAR
KARNA PAKAR SLALU BELAJAR

DENGAN RAJA JANGAN LAH TAKUT
MEMBUAT TITAH MENJADI KECUT

DENGAN ANAK JANGAN BERANI
AKAN HANCUR HATI NURANI

DENGAN GURU JANGAN DITIRU
TAKKAN  MUNCUL ILMU BARU

DENGAN BAPAK JANGAN LAH HORMAT
BERPIKIRLAH SECARA CERMAT

KALAU SUDAH LACUR
JANGAN BUAT HANCUR

KALAU SUDAR TERLANJUR
BERKATALAH SECARA JUJUR

KALAU BICARA NGELANTUR
BUATLAH LEBIH TERATUR

KALAU TIDAK TIDUR
JANGAN PULA NGELINDUR
KALAU AKAN BERTEMPUR
TAK BAIK  BERUCAP MUNDUR

KALAU MENGHARAP JADI PEMENANG
YANG KALAH TETAP DI KENANG

KALAU INGIN DI SANJUNG
TAK PERLU MERASA BINGUNG

KALAU MENCARI TEMPAT PANUTAN
PANDANG JAUH LUAS LAUTAN     

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Gurindam pemimpin
jaka filyamma

Jika berniat jadi pemimpin
Bekerjalah Giat dan rajin

Jika jabatan sudah didapat
Jangan berfikir engkau yang hebat

Jika jabatan sudah terangkat
Pikirkan nasip semua rakyat

Jika sudah jadi pemimpin
Upayakan diri lebih disiplin

Kalu enak duduk dikursi
Jangan terpikir untuk korupsi

Kalau hendak cari solusi
Jangan pakai system kolusi

Kalau tidak pakai kolusi
Jangan terima uang komisi

Jika nepotisme jadi pilihan
Bahasa ibu untuk arahan

Bahasa kampong untuk arahan
Banyak yang bingung dengar ulasan

Jika pemimpin bersifat zolim
Tak pantas disebut alim

Jika pemimpin tidak jujur
Bicara akan ngelantur

Kalau pemimpin tidak jujur
Segala urusan akan kabur

Bawahan bukanlah bandit
Jangantakut urusan duit

Jika pemimpin berkepala udang
Pikiran tak akan lapang

Jika pemimpin selalu marah
Rakyat selalu merasa resah

Jika pemimpin bilang tahayul
Suka usaha bergaya tuyul

Jika pemimpin tidak bergaul
Pantas jika diberi cangkul

Kalau pemimpin bersift sadis
Tidak berpegang quran dan hadis

Kalau pemimpin bersikap adil
jangan biarkan orang menguntil

kalau pemimpin suka berkumpul
semua lapisan adan dirangkul

kalau amanat jangan digenggam
kala berjuang akan terdiaam

jika pemimpin tidak amanah
rakyatpun hilang arah

carilah pemimpin yang berilmu
pasti  kerja  tak akan  jemu

kalau pemimpin bicara uang
upah didapat selalu kurang

kalau pemimpin dianggap pintar
banyak rakyat hendak belajar

kalau banyak yang menggerutu
arahkan menjadi Satu

kalau kerja ingin mudah
seringlah lihat kebawah

3 komentar:

  1. hmm versi lengkap belajar sastra ya... ini soal Gurindam,..

    boleh juga belajar di sini, salam kenal ya uda Jaka

    BalasHapus