Rabu, 27 Juni 2012

menulis puisi




 menulis puisi

Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi(aturan) serta unsur-unsur bunyi. Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.

Tahap-tahap penciptaan puisi melalui empat tahap penting, yaitu sebagai berikut:

1. Pencarian ide, dilakukan dengan mengumpulkan tau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman(pribadi), sosial(masyarakat), ataupun universal(kemanusiaan dan ketuhanan).

2. Perenungan, yakni memilih atau menyaring informasi(masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

3. Penulisan, merupakan proses yang paling genting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatif(kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi(peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.

4. Perbaikan atau revisi, yaitu pembaca ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''menjadi'' tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.



Telah banyak terbit kamus-kamus, baik yang disebut Kamus Besar maupun Kamus Kecil, baik yang umum maupun yang khusus di bidangnya —seperti Kamus Politik, Kamus Teknik, Kamus Fisika, Kamus Matematika, Kamus Biologi, Kamus Psikologi, dlsb. dengan tingkat kelengkapan dan keakuratan yang berbeda satu sama lain. Namun kesemuanya tentu diurutkan menurut abjad demi untuk memudahkan pencarian.

Sedangkan kamus atau daftar kata yang diurutkan sesuai rima belum penulis temukan —tentu karena penulis yang kurang pergaulan. Karena kekurangan itulah penulis menyusun daftar kata berdasarkan rima ini.

a. Awalan dan Akhiran

Secara umum, daftar kata dalam buku ini dalam bentuk kata dasar. Jika ada kata jadian yang terselip di sana-sini, maka atas pertim-bangan bahwa kata tersebut lebih sering digu-nakan dalam bentuk kata jadian dan atau kata jadian tersebut telah menjadi semacam kata dasar tersendiri serta memiliki makna yang sedikit berbeda dengan kata dasar aslinya. Seperti: berantakan, keliaran, kelimpungan, kedodoran, rongsokan, rombongan, lingkungan, tunangan, serabutan, dlsb.

Sangat jarang kita menggunakan kata “berantak” saja, “keliar”, “limpung”, “dodor”, “rongsok”, “rombong”, atau “lingkung” saja. Seperti juga kata “tunang”, lebih sering kita gunakan dalam kata jadian, yaitu tunangan, ditunangkan, atau pertunangan.

b. Pembatasan Kata

Bahasa Indonesia adalah bahasa rumpun melayu dan kombinasi dari berbagai bahasa dae-rah. Tidak sedikit pula mengadopsi dari berbagai bahasa asing, seperti Arab, Inggris, Belanda, Latin, dll. Dengan demikian sangat banyak jika harus ditulis semuanya.

Dalam buku ini penulis batasi hanya pada kata-kata yang umum-umum saja, yang cende-rung sering didengar —tentu dalam subyek-tifitas penulis sendiri. Pertimbangan untuk tidak mencantumkan adalah karena akan banyak sekali dan cenderung disebut sebagai kata yang kurang puitis —kembali lagi menurut subyektifitas penulis sendiri.

Untuk itu jika kata yang anda cari tidak terdapat dalam daftar kata di buku iki maka dapat anda tambahi sendiri sesuai dengan spesifikasi ilmu yang anda minati.

c. Tata Urutan Kata

Kumpulan kata berdasarkan rima dalam buku ini diurutkan dari belakang ke depan. Selengkapnya dapat dilihat pada bagian II buku ini (halaman 20).

d. Rima Irama

Pentingnya kata-kata disusun menurut rimanya adalah faktor mudah di lidah, nyaman didengarkan, dan cepat diingat. Seperti lagu pengamen kecil —sekitar 8 tahun— yang pernah penulis jumpai di bis kota:

Inilah pesan kami, anak-anak jalanan
Turunnya kaki kiri, naiknya kaki kanan

Karena kalimatnya tersusun apik, maka mudah sekali untuk mengingatnya. Sehingga daftar kata rima dalam buku ini tidak terutama untuk menulis puisi, syair, atau pantun saja, tapi juga dalam bentuk prosa, untuk percakapan sehari-hari, ngobrol, bercanda, dlsb.

Bahkan kitab suci pun telah mendahului-nya dengan kalimat-kalimat yang memiliki akhiran sama. Seperti dalam surah An-Nâs yang jika ditranslit ke huruf latin berakhiran “as”.

Walaupun tidak semua ayat memiliki akhiran yang sama, tetapi ketika kita melafal-kannya akan terasa nikmat di lidah, lekat di jiwa dan melesat ke hati. Dari cara penulisan kitab suci kita dapat belajar untuk menyusun kata, tanpa bermaksud menyaingiNya.

e. Kata Sebagai Ungkapan Rasa

Dalam penyusunan daftar kata rima ini agar penyusun memahami lebih dalam kata apa saja yang serumpun pantun, kata-kata yang memiliki akhiran yang sama. Karena dengan menulis dan atau membaca maka makna akan nampak juga.

Kata adalah salah satu bahasa ungkap yang digunakan oleh makhluk yang bernama manusia, kalau tidak mau disebut bisu. “Kun”, “Jadilah!” juga berupa kata-kata Tuhan untuk mengadakan jagad dan isinya ini.

Dengan kata kita saling bertegur sapa. Dengan kata kita dapat menjelaskan perihal kita kepada sesama, meluruskan salah paham, dlsb.

Namun pula, kata-kata sering menipu. Begitu banyak dari kita pandai dalam kata-kata, tetapi nihil dalam karya nyata. Dan lucunya ketika kita ingin mengungkapkan bahwa kata-kata tidak penting pun juga dengan kata-kata.

Maka tak salah jika lidah adalah satu dari lima indera yang letaknya perlu dilindungi gigi yang kokoh dan balut bibir. Tentu untuk meng-ingatkan pemiliknya bahwa lidah bisa sangat berbahaya dan lebih tajam daripada pedang.

f. Semua Manusia Pernah Berpuisi

Sebagian orang menganggap bahwa puisi atau syair adalah suatu wilayah tersendiri yang hanya bisa dipelajari di sebuah lembaga pendi-dikan atau komunitas tertentu. Sampai ada seo-rang kiai yang juga gemar bersyair, dikritik oleh kiai yang lain, “Kiai kok bersyair?” Sedangkan yang mengkritik tersebut juga sering menden-dangkan syair, hanya saja tidak atau belum tahu kalau yang dibacanya adalah syair (dalam bahasa pesantren disebut nadhom).

Ada juga yang menganggap bahwa bikin puisi itu susah, perlu jiwa seni, perlu daya sastra tinggi. Padahal orang menangis, orang tertawa, sedih dan gembira, semua bisa dikatakan sedang bersyair, sedang merasakan dan mengungkapkan sesuatu. Dan kesulitan mengungkapkan sesu-atu itu sendiri juga bisa menjadi syair?

Oh, lidahku kelu membisu
Tak mampu kukatakan kepadamu
Karena akalku juga sedang beku
Aku tak sepandai kamu
Dalam menyusun lagu-lagu
Karena aku sendiri adalah lagu
Bagaimana mungkin lagu menyusun lagu?

Tuh kan. Jeruk kok minum jeruk? Mengalir saja apa adanya, tanpa terlalu terpaku dengan definisi-definisi. Hanya dengan mengisahkan apa yang dilihat dan dirasakan saja.

Bahkan jika ada orang yang tidak suka puisi, maka ia sedang berpuisi. Kritikan atau penolakan terhadap puisi atau syair adalah bentuk syair juga, dan bisa datang dari seorang penyair. Seperti penggalan salah satu syair Emha Ainun Nadjib di bawah ini:

Huruf-huruf berteriak:
“Siapa yang mengumpulkan kita di sini?”
“Siapa penguasa yang merangkai-rangkai kita, memperbudak kita, menjadikan kita gumpalan-gumpalan keindahan, sesuai hanya dengan kehendaknya?”
“Siapa itu yang memaksa kita menjadi tumpukan batu-bata bangunan klenik dan kepengecutan?”
Huruf-huruf menggeram:
“Ini bukan aku. Dan di sini bukan tempatku”.

g. “Makna Rasa” & “Bentuk Kata”

Sesuatu pesan, informasi, nasehat, atau apapun yang menggunakan kata-kata sebagai alatnya, tentu harus mengenal lebih dalam tentang kata-kata itu sendiri. Apalagi jika pesan tersebut ingin mudah untuk diingat penerima pesan. Telah banyak pesan yang ditinggalkan begitu saja karena alat/kata-katanya sulit diingat. Telah banyak pidato dikoarkan.

Antara pesan dan kata yang digunakan tidak selalu sesuai dengan yang dimaksudkan. Ada perbedaan budaya antara satu orang dengan lainnya meskipun mereka hidup di lingkungan yang sama.

“Kamu punya uang gak?”

Pertanyaan seperti ini sangat berhu-bungan dengan sedikit atau banyak, serta siapa yang ditanya. Apakah biasa pegang uang banyak atau sedikit.

Seratus ribu rupiah bisa dirasakan banyak bagi seseorang, tapi juga bisa dianggap kecil bagi yang lain. Bahkan orang yang sama bisa merasa-kan nilai yang berbeda pada satu jenis pengala-man rasa. Pada suatu saat seratus ribu terasa sedikit, dan pada saat yang lain terasa banyak.

Begitu juga dalam hal pengungkapan rasa melalui kata. Dua orang sangat bisa menilai dengan penilaian yang berbeda pada satu peris-tiwa, yang bahkan disaksikan bersama-sama.

“Eh tau nggak, tadi ada tawuran. Ya biasa sih, hanya tawuran anak-anak remaja, saling lempar batu, caci-mencaci, ...” kata yang satu sibuk mendeskripsikan apa yang dilihatnya.

Sedangkan yang kedua sibuk menghitung korban luka, “Wah, seru. Ada yang kepalanya robek, kakinya pincang, ...”

Lalu bagi yang hanya mendengar berita dari orang kedua bisa menilainya bukan robek lagi tapi “pecah kepalanya”. Lalu disampaikan pada pendengar kedua menjadi “remuk”, dst.

h. Jika Kata Tak Mewakili Rasa

Tak jarang kita mendengar seseorang berkata, “Apa yang kurasakan ini tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.”

Ada dua faktor, satu: karena memang pengalaman yang dirasakan begitu tinggi dan sangat jarang orang lain mengalami; kedua, karena memang orang yang mengalaminya kurang mampu merangkai kata.

Jika diteliti lebih dalam, maka terlalu banyak faktor. Apalagi rumus yang berlaku adalah “Semakin banyak yang kita ketahui, maka semakin kita tidak tahu”. Dus, jika makna terlalu banyak diungkapkan, maka yang terjadi adalah “polusi makna”, dan berhenti hanya pada kata-kata tanpa bukti nyata.

Untuk itu ada istilah puisi tanpa kata. Dan tokoh yang tak asing lagi seperti Sutardji Calzoum Bachri sering dikaitkan dengan jenis puisi ini. Namun sebelum menuju ke arah itu, terlebih dahulu buku ini menjadi awalnya, Taman Kanak-kanak Kata, kuasai dulu kata-kata, sehingga ketika memutuskan untuk pergi dari wilayah kata, kita tidak sedang salah sangka saja.

Sumber : berbagai buku dan Blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar