Kamis, 19 Juli 2012

SEKILAS TENTANG TEATER


SEKILAS PINTAS TENTANG TEATER
( SENI PERTUNJUKAN/DRAMA/SENI PERAN )

SATU

Kata  Teater (yang di-Indonesiakan) pada  awalnya  berasal dari  bahasa Yunani  yaitu “ Theatron “  yang menurut asal pengertiannya adalah tempat melakukan Upacara Ritual Keagamaan dan Adat Tradisi bangsa Yunani; dimana merupakan suatu tempat yang sakral dan upacara tersebut dihadiri oleh seluruh penguasa dan rakyat bangsa Yunani pada saat itu, sehingga terkesan seperti sebuah pertunjukan budaya.  Dalam perkembangannya upacara ritual dan adat tradisi ini semakin diminati bukan hanya dihadiri oleh bangsa Yunani, tetapi juga bangsa lain yang datang ke Yunani turut menyaksikan upacara tersebut. Kemudian upacara ritual tradisi ini berkembang menjadi pertunjukan budaya dan merupakan asset bangsa Yunani.

Sedangkan kata “ Teater “ (yang di-Indonesiakan itu) di negara barat yang menurut kosa kata bahasa Inggris yaitu “ Theatre “ yang berarti “ Tempat Pertunjukan “ (di dalam kamus bahasa Inggris berarti Tempat Pertunjukan Film alias Bioskop), namun pada perkembangannya Theatre disebut sebagai tempat pertunjukan, baik Film, Opera, Drama dan sebagainya. Sebagai contoh ada “ Theatre Of Broadway “ sebuah tempat pertunjukan drama yang eksklusif yang kapasitas penontonnya tidak lebih dari 50 orang.  Di  Indonesia  kita mengenal “ Jakarta Theatre “ yaitu  tempat  pertunjukan Film  alias Bioskop,  atau      “ TIM 21 Theatre “ dan di Jepang juga ada “ Theatre of Kabuki “ sebuah tempat pertunjukan drama tradisional Jepang yang disebut Kabuki, atau sebelum terjadi pembongkaran dan pengembangan di Taman Ismail Marzuki ada yang disebut “ Teater Arena  dan Teater Tertutup atau Teater Halaman “ nah dari contoh diatas ini jelas bahwa “ Teater “ memiliki makna  “ Tempat Pertunjukan “.

Sejalan dengan perkembangan zaman, maka kata “ teater “ ( yang di Indonesiakan ), menjadi sebuah sebutan dalam kesenian, yang kemudian diartikan sebagai pertunjukan. Selanjutnya yang terjadi  di Indonesia, kata “ teater “ telah divonis untuk disudutkan menjadi sebuah sinonim atau sama dengan apa yang disebut drama. Yang mana drama pada hakikatnya adalah seni peran. Kesalah kapahan ini menjadi berlarut-larut, diabaikan penelusuran arti sebenarnya, bahkan dikaburkan dan telah diabadikan bahwa teater adalah seni drama/seni peran seperti yang kita kenal.
Padahal yang namanya seni drama/seni peran merupakan salah satu dari sebuah pertunjukan kesenian,  baru pada abad 21 oleh sementara orang dan atau oleh sebuah komunitas kesenian disebut-sebut sebagai seni pertunjukan.

DUA
Apabila sebutan teater mempunyai makna sebagai pertunjukan maka tentunya akan memiliki sebuah persyaratan, apakah persyaratan itu ?, yaitu 1). Ada Tempat Pertunjukan,  2). Ada yang melakukan pertunjukan/yang mempertunjukkan, 3). Ada yang menonton pertunjukannya. Ketiga syarat inilah yang perlu dipahami, apabila salah satu syaratnya tidak terpenuhi apakah itu disebut pertunjukan ?, tentu saja perlu kajian yang baik terhadap hal ini. Jadi bahwa teater yang sekarang kita anut di Indonesia, sebenarnya di Negara Barat dikenal sebagai drama (seni drama/peran), yang pada zamannya di Indonesia pun dahulu orang menyebutnya drama atau sandiwara atau tonil.
Nah,  kita kupas sejenak saja tentang drama, mengapa itu disebut drama ?, karena didalamnya dipertunjukkan sebuah dramatisasi gerak, dialog, adegan sampai dramatisasi musik serta pendukung lainnya seperti pada make up, kostum, pencahayaan dan sebagainya.

Demikianlah di Indonesia ini telah cukup banyak kesalah kaprahan alias kesimpang siuran sebuah informasi atau sebutan, dan anehnya itu semua menjadi sah-sah saja, lalu diabadikan apabila semua orang telah mengakuinya sebagai sebuah keberadaan.
Oleh karenanya kita harus lebih cerdas dan arif menyikapi semua itu, untuk kemudian menelaah serta mengkajinya lebih dalam hakikat maknanya. Kita harus lebih berhati-hati menentukan suatu sebutan atau istilah dalam dunia kebudayaan yang berasal baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Namun demikian kalau kita mau ikut arus saja ya bolehlah menyebut teater sebagai seni drama, tapi lalu apakah hal ini tidak perlu diluruskan ? Kiranya kita harus memberikan pandangan yang jelas dan tegas terhadap hal seperti ini.
Jadi untuk meluruskannya alangkah lebih baiknya kita sepakat dan lebih bijak bahwa yang disebut “ Teater “ itu adalah Tempat Pertunjukan, apabila kita akan mengidentifikasi lebih luas dan sarat, maka boleh kita sebut bahwa

 Teater “ adalah Pertunjukan (Seni Pertunjukan) atau bisa pula kita sebut bahwa “ Teater “ merupakan Tempat berkumpulnya sekelompok Orang yang berprofesi dan melakukan pertunjukan seni drama/seni peran

 (sebagai contoh Teater Bulungan jadi maknanya adalah tempat berkumpulnya / kelompok orang yang melakukan kegiatan pertunjukan seni drama/seni peran dengan nama Bulungan).

TIGA
Di Negara Barat seni pertunjukan drama yang berkembang adalah drama panggung, lalu Opera, Operette, Preview dan sebagainya yang sudah berkembang sejak abad ke 18. Selain itu pada hakikatnya yang disebut Opera/Operette/Preview adalah drama musical yang diiringi dengan musik Orkestra. Tokoh-tokoh seni drama/seni peran yang terkenal / pernah kita dengar dari Negara barat contohnya seperti  Growtovsky, Stanislavsky, Shakespeare, Bernard Shaw, Anton P. Chekov, Nikolaj Gogol, Molliere dan sebagainya.
Sedangkan di Indonesia, pertunjukan drama / seni peran sudah ada sejak zaman kerajaan. Pada masa itu kelompok-kelompok kesenian tersebut berasal dari rakyat biasa, namun mereka sering dipanggil untuk menghibur di lingkungan kerajaan. Dan apabila kerajaan mempunyai hajat besar semua rakyat di kerajaan tersebut boleh hadir untuk menyaksikan pertunjukan kesenian dimaksud, oleh karena itu dikenallah kelompok kesenian itu dengan sebutan Teater Rakyat / Pertunjukan Kesenian Rakyat, karena dilakukan oleh rakyat untuk rakyat.
Jenis-jenis Kesenian Rakyat yang dikenal sampai saat ini antara lain; di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada Kethoprak, Ludruk, Wayang (kulit atau Wong/Orang), Penthul dan sebagainya. Di Jawa Barat ada Longser, Wayang Golek, Topeng Cirebon, Sintren dan sebagainya, di Bali ada Topeng Pajegan, Wayang Kulit Bali dan sebagainya, di Jakarta (Betawi) ada Lenong, Topeng Jantuk, Samrah dan sebagainya di Sumatera Barat ada Randai dan sebagainya dan banyak lagi.

Barulah pada abad ke 20, teater modern dari Negara barat diperkenalkan secara aktif di Indonesia begitu pula naskah - naskahnya seperti naskah karya – karya Shakespeare, Bernard Shaw, Bertold Brech, Anton P. Chekov, Nikolaj Gogol dan sebagainya.
Kemudian oleh tokoh-tokoh seniman seni pertunjukan dikembangkan bahkan dari mereka ada yang naskahnya dipengaruhi oleh Anton Chekov atau Molliere. Tokoh-tokoh teater/seni pertunjukan/drama/seni peran dari Indonesia yang terkenal antara lain seperti Rendra, Putu Widjaya, D. Djayakusuma (Alm), Wahyu Sihombing (Alm), Roedjito (Alm), Motinggo Boesye, Saini K.M., N. Riantiarno, Aldisar Syafar, Adi Kurdi dan sebagainya. Mereka inilah yang memperjuangkan supaya seni drama/peran/ pertunjukan/teater dapat eksis di tengah masyarakat Indonesia.

EMPAT

Sebagai seni pertunjukan seni drama/peran (yang oleh banyak orang disebut “ teater “ itu) di dalamnya memiliki berbagai komponen dan jenis kesenian, mengapa demikian karena ia mempunyai berbagai hubungan dengan komponen dan jenis kesenian lain, yaitu seperti; Seni Sastra (dalam naskah/scenario), Seni Gerak (dalam pemanfaatan tubuh), Seni Musik (dalam Illustrasi atau bunyi yang mengangkat suasana dramatic), Seni Rupa (dalam Kostum, Tata Rias, Artistik, Sett dekorasi, Tata Cahaya dsb).
Jadi secara lebih luas “ teater “ dapat juga disebut “ Suatu tempat pertunjukan yang didalamnya disajikan/ditampilkan komponen-komponen dan atau jenis-jenis kesenian yang dikolaborasi/dikemas menjadi suatu kesatuan sebagai sebuah lakon pertunjukan, oleh sekelompok orang yang mempertunjukkan seni budaya dan dihadiri/disaksikan oleh orang-orang yang menonton pertunjukan dimaksud baik dalam bentuk upacara maupun hiburan belaka.

Disamping itu yang diperkenalkan di Indonesia dalam dunia seni pertunjukan/peran/ drama ada 2 (dua) kelompok yaitu; Tradisional dan Modern. Yang tradisional itu adalah seperti Lenong, Wayang, Ludruk, Kethoprak, Topeng dan lain-lain, Yang Modern (di Indonesia) adalah Drama Modern, Opera, Preview dsb.

Contoh perbedaan antara Drama (“teater”) Tradisional dengan Drama (“teater”) Modern antara lain;

   TRADISIONAL
  MODERN

1.      Naskah merupakan plot-plot cerita/lakon/ adegan selebihnya adalah permainan dialog  improvisasi
2.      Peran yang dimainkan  biasanya adalah tokoh pahlawan terkenal di suatu wilayah/daerah yang dikenal dan akrab dengan masyarakat daerah itu, atau nama nama pribadi masing-masing. 
3.      Tempat pertunjukan biasanya berbentuk arena, melingkar, atau tapal kuda, yang pada perkembangannya sekarang dapat pula dipertunjukkan di panggung proscenium.
4.      Iringan musik biasanya menggunakan jenis musik tradisional seperti gamelan, gambang kromong, kentrung dsb.
5.      dsb.

1.      Naskah merupakan bentuk naskah utuh yang berisikan dialog pada setiap peng adeganan, yang dilengkapi scenario bloking, moving, adegan serta petunjuk set dekorasinya.
2.      Peran biasanya lebih luas, baik yang ada pada tradisional maupun kehidupan sehari-hari, dengan nama-nama orang yang sering didengar di masyarakat.
3.      Tempat pertunjukan lebih banyak meng gunakan panggung proscenium atau arena bentuk tapal kuda.
4.      Iringan musik pun lebih luas, bisa jenis musik modern, tradisional atau benda – benda yang menghasilkan bunyi, atau bunyi-bunyian utuh seperti yang ber kesan bunyi pada alam semesta ini.
5.      dsb.


LIMA

Hubungan seni Peran/Drama/”Teater” dengan disiplin seni yang lain

Seni Peran/Drama/”Teater” memiliki hubungan yang sangat erat dengan disiplin seni yang lainnya, dan merupakan sebuah kesatuan apabila telah dikemas menjadi sebuah pertunjukan, adapun hubungan tersebut antara lain;

  1.     Hubungan dengan Seni Sastra :  Dalam hal “ Naskah / Scenario “ merupakan hasil karya seni Sastra yang kemudian diolah dan dikemas untuk di pertunjukkan dalam sebuah lakon/cerita.
2. Hubungan dengan Seni Rupa :  Dalam hal Set Dekor, Tata Busana, Tata Rias dan Tata Cahaya , merupakan hasil karya seni rupa yang sangat berbobot sehingga dapat dinikmati dengan kasat mata oleh penonton, dimana terdapat warna-warna dan hasil karya seni rupa baik tiga dimensi maupun dua dimensi yang disajikan dalam sebuah kesatuan pertunjukan.

3.   Hubungan dengan Seni Musik  : Dalam hal ilustrasi musik yang dikemas dalam suatu pengadeganan, merupakan hasil karya seni musik yang dikemas apik dan selaras untuk mendukung suasana dalam pengadeganan. Bahkan didalam Opera seni musik menjadi faktor utama dalam pertunjukan tersebut dan pemain harus menguasai seni musik guna menyanyikan dialog-dialog dalam pertunjukannya.
 4.    Hubungan dengan Seni Gerak/Tari :  Dalam hal gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para pemain tidak lepas dari dasar-dasar Seni Gerak/Tari sebagai pelatihan untuk kelenturan tubuhnya, dan apabila kita melihat proses pada teater modern atau teater alternative maka seni gerak/tari akan menjadi sebuah titik tolak dalam pertunjukannya. Sedangkan pada Teater/ Seni Pertunjukan Tradisional seperti Topeng, Ludruk atau jenis yang lain kita mengenal intro/pembuka yang dilakukan dengan gerak tari tradisional, bahkan dapat pula ia kemas dalam pengadeganan yang memerlukan gerakan tari seperti adegan pesta misalnya yang mana memunculkan penari-penari.
5.      Hubungan dengan Seni Pertunjukan Media Layar Lebar/Kaca (Film/TV) :  Seni Peran/ ”Teater” sangat berperan dalam Film dan TV, karena pada dasarnya sebelum adanya film dan TV seni pertunjukan/Peran/Drama/Teater itu sudah ada lebih dulu. Untuk berperan didalam Film / TV memerlukan orang-orang atau pelatihan dengan dasar-dasar Teater yang kuat sehingga pertunjukan Film/TV akan menjadi lebih hidup dan berkualitas, bahkan seorang presenter perlu melakukan pelatihan dasar seni teater seperti improvisasi, vocal, konsentrasi, mimik, dan banyak lagi yang dapat mendukung penampilannya.   

Oleh karenanya jelas sudah bahwa “ teater “ merupakan seni pertunjukan karena semua unsur ada didalamnya. Dari uraian di atas mudah-mudahan akan memberikan motivasi kepada saudara untuk lebih kreatif, aktif, dan berkualitas dalam melakukan pelatihan seni pertunjukan (Seni Peran/Drama/ “ Teater “). Selanjutnya terserah anda.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda, mari kita bertukar pikiran dan membangun semangat melakukan  pengembangan dan pelestarian bagi dunia teater di masa depan.


Berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar